Politik & Parlemen

Ferdinand Hutahaean: Tiyo Ardianto Cerdas, Tapi Disebut Salah Memilih Teman

×

Ferdinand Hutahaean: Tiyo Ardianto Cerdas, Tapi Disebut Salah Memilih Teman

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Garda Prabowo: Tiyo Ardianto Cerdas tapi Salah Teman

jurnalistik.co.id – Pengacara Garda Prabowo, Ferdinand Hutahaean, menilai mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, adalah sosok yang cerdas. Namun, menurut dia, Tiyo dinilai keliru dalam memilih pergaulan hingga berujung pada pernyataan yang dinilai tidak tepat.

Ferdinand menyebut Dewan Pembina Garda Prabowo juga melihat Tiyo sebagai pribadi yang cerdas dan mampu menjaga sikap kritisnya. Meski begitu, ia mengatakan hasil penelusuran yang dilakukan pihaknya menunjukkan ada persoalan pada “lingkungan pergaulan” Tiyo.

“Tetapi menurut penelusuran yang kami lakukan, saudara Tiyo ini sepertinya salah mendapat teman, sehingga ada kelompok yang menunggangi saudara Tiyo dan pada akhirnya menyampaikan statement-statement yang kurang baik, kurang bijak, dan kurang tepat,” kata Ferdinand dalam tayangan video yang dikutip pada 18 Juli 2026.

Dalam kesempatan yang sama, Ferdinand menegaskan Garda Prabowo telah mencabut aduan masyarakat (dumas) di Bareskrim Polri terkait pernyataan Tiyo yang sebelumnya dinilai menghina Kepala Negara. Ia menyatakan pencabutan itu dilakukan melalui penyerahan surat penarikan, “terkait dengan pengaduan masyarakat yang kami sampaikan pada sebulan lalu.”

Ferdinand juga mengaitkan keputusan pencabutan dumas tersebut dengan arahan dari Presiden Prabowo Subianto. Menurut dia, Prabowo ingin agar persoalan diselesaikan melalui dialog, bukan ditempuh lewat jalur hukum.

“Alasan yang disampaikan bahwa Pak Presiden, Dewan Pembina, menyayangi semua adik-adik mahasiswa dan tetap berharap adik-adik mahasiswa menjaga kekritisan dan menjaga kebaikan dalam berkomunikasi publik,” ucap Ferdinand. Ia menambahkan bahwa Presiden juga ingin terus berkomunikasi dengan mahasiswa untuk menyampaikan fakta-fakta capaian pemerintahan.

Atas dasar itu, Ferdinand mengatakan Prabowo mengamanatkan Garda Prabowo untuk membuka ruang diskusi bagi Tiyo maupun mahasiswa lain. Tujuannya, agar ada pembahasan mengenai kebijakan pemerintah melalui komunikasi langsung, tanpa memperpanjang konflik ke proses hukum.

Ferdinand kembali menegaskan sikap Prabowo yang tidak menghendaki persoalan tersebut dibawa ke ranah hukum. Ia menyampaikan bahwa Presiden menyampaikan sikap besar hati—tidak merasa tersakiti—meski pihak Garda Prabowo sebagai keluarga besar Prabowo merasa tersinggung akibat persoalan yang terjadi.

“Ya (memaafkan), Pak Prabowo menyampaikan bahwa beliau berbesar hati, tidak merasa tersakiti sebetulnya. Tetapi kan Garda yang merupakan keluarga besar beliau, yang merasa bahwa Garda ini adalah anak-anak dari Pak Prabowo secara langsung, yang merasa tersakiti,” kata Ferdinand.

Ferdinand kemudian menyatakan bahwa amanat Presiden disampaikan melalui pimpinan Garda Prabowo agar dilakukan komunikasi dan, bila memungkinkan, pembinaan yang bijaksana. Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa pihaknya tidak memilih jalur hukum, meskipun ia menilai tindakan Tiyo tidak patut dan tidak elok.

“Dan akhirnya petunjuk dan amanat disampaikan melalui Ketua Umum untuk melakukan komunikasi dan, kalau bisa, melakukan pembinaan secara bijaksana terhadap saudara Tiyo. Tidak usah melalui jalur hukum, meskipun yang dilakukan Tio itu memang tidak patut dan tidak elok,” pungkas Ferdinand.

Ferdinand juga menekankan bahwa penilaian positif terhadap Tiyo tidak otomatis membenarkan cara dia menempatkan diri di tengah pergaulan. Dari proses penelusuran yang ia sebut, muncul gambaran adanya pihak-pihak yang turut memengaruhi arah pandangan Tiyo, hingga pada akhirnya melahirkan pernyataan yang dinilai tidak sejalan dengan etika dan ketepatan dalam ruang publik.

Lebih lanjut, ia menggambarkan bahwa pencabutan dumas di Bareskrim Polri ditempuh sebagai upaya meredam eskalasi, bukan sebagai langkah yang mempertahankan sengketa. Ferdinand menyebut penarikan itu dilakukan lewat penyerahan surat penarikan, yang merujuk pada pengaduan masyarakat yang sebelumnya disampaikan sekitar sebulan sebelumnya.

Dalam penjelasannya, Ferdinand mengaitkan langkah tersebut dengan arah Presiden Prabowo Subianto yang mengutamakan penyelesaian melalui percakapan. Presiden, menurutnya, mengharapkan mahasiswa tetap menyampaikan kritik dengan cara yang baik dan bertanggung jawab, sekaligus agar komunikasi langsung dapat digunakan untuk menyampaikan fakta capaian pemerintahan. Karena itu, Garda Prabowo diminta membuka ruang diskusi dan, bila memungkinkan, memberikan pembinaan yang bijaksana kepada Tiyo dan mahasiswa lain agar konflik tidak melebar ke jalur hukum.