Daerah

Menuju 2027, Jawa Tengah Menyasar Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Ekonomi Syariah

×

Menuju 2027, Jawa Tengah Menyasar Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Ekonomi Syariah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Target 2027, Jateng Bidik Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Ekonomi Syariah

jurnalistik.co.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah menegaskan arah pengembangan pariwisata yang akan dijalankan pada 2027. Penajaman agenda itu disampaikan dalam grand closing pekan seni mahasiswa daerah (Peksimida) Provinsi Jawa Tengah yang berlangsung di Auditorium GPH Haryo Mataram Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, Jumat (17/7/2026) malam.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah, AR Hanung Triyono, menyebut tema pariwisata berkelanjutan dengan ekonomi syariah menjadi pijakan pada tahun tersebut. Menurutnya, fokus ini selaras dengan upaya Pemprov Jawa Tengah untuk terus meningkatkan jumlah wisatawan.

Fokus 2027: pariwisata berkelanjutan dan 1.000 desa wisata

Hanung menjelaskan bahwa pemerintah menempatkan pariwisata berkelanjutan berbasis ekonomi syariah sebagai tema besar yang akan masuk pada 2027. Ia juga menyampaikan dua sasaran utama yang ingin dikejar lewat arah tersebut.

“Jawa Tengah tahun 2027 nanti memasuki tema pariwisata yang berkelanjutan dengan ekonomi syariah. Salah satunya upaya pasti meningkatkan wisatawan dan yang kedua adalah kita membentuk 1.000 desa wisata,” kata Hanung dalam kesempatan itu.

Dengan skema tersebut, pembentukan desa wisata diposisikan sebagai langkah strategis untuk memperluas pilihan destinasi sekaligus memperkuat ekonomi kreatif di tingkat wilayah. Hanung menekankan bahwa upaya tersebut tidak berhenti pada gagasan, melainkan diarahkan untuk mendorong peningkatan wisatawan secara nyata.

Ia juga mengaitkan pengembangan destinasi dengan kerja lintas pihak, termasuk perguruan tinggi. Menurutnya, kolaborasi itu diperlukan agar program pariwisata dapat berjalan lebih terarah serta memiliki dukungan pembinaan yang berkelanjutan.

Peran perguruan tinggi lewat kerja sama dan KKN tematik

Hanung menyatakan Pemprov Jawa Tengah telah melakukan kerja sama melalui MoU dengan perguruan tinggi. Melalui mekanisme ini, perguruan tinggi dapat mengirimkan mahasiswanya untuk melaksanakan KKN tematik di berbagai wilayah Jawa Tengah.

Ia menambahkan, kegiatan KKN tematik diharapkan selaras dengan penguatan pengelolaan warisan tak benda. “Kita sudah ber-MoU. Jadi nanti mungkin KKN tematik atau apa yang kemarin mendampingi untuk warisan tak benda 38 itu masuk semua menjadi warisan tak benda di Jawa Tengah,” ujarnya.

Dalam pandangannya, keterlibatan perguruan tinggi menjadi penting bukan hanya dalam pelaksanaan program, tetapi juga dalam proses pembentukan citra atau branding desa wisata. Hanung menyebut Peksimida sebagai salah satu ruang yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat upaya branding tersebut.

“Harapannya seni-seni ini juga dibelajarkan kepada masyarakat. Karena apa, karena desa wisata itu pasti bisa di-branding baik dari seni, wisatanya atau ekonomi kreatifnya,” ungkap Hanung.

Ia memandang bahwa seni dapat menjadi penghubung antara daya tarik wisata dan kegiatan ekonomi kreatif. Dengan begitu, desa wisata tidak hanya dipromosikan lewat atraksi, tetapi juga melalui pembelajaran dan penguatan nilai yang lahir dari aktivitas budaya.

Peksimida sebagai ekosistem pembinaan lintas kampus

Di kesempatan yang sama, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNS, Dody Ariawan, menyoroti perjalanan Peksimida tahun ini. Ia menyatakan Peksimida telah menjadi rangkaian panjang yang mempertemukan talenta-talenta terbaik mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah.

Dody menjelaskan bahwa Peksimida dibuka pada 26 Juni 2026 di Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Setelah pembukaan, rangkaian kegiatan dilaksanakan secara kolaboratif di berbagai perguruan tinggi, melalui 15 tangkai seni.

Menurut Dody, UNS pada tahun ini menjadi tuan rumah. Berbagai perguruan tinggi mengirimkan kontingen terbaik dan para peserta bersaing ketat untuk meraih prestasi dalam cabang-cabang seni yang dipertandingkan.

Ia merinci sejumlah bentuk seni yang terlibat dalam rangkaian tersebut, mulai dari seni fotografi hingga cabang lainnya yang mencakup penulisan, pertunjukan, dan kreasi. “Ada seni fotografi, baca puisi, tari, komik strip, penulisan cerpen, desain poster, penulisan puisi, menyanyi pop, vokal grup, penulisan lakon, keroncong, monolog, dangdut, lukis, hingga seriosa,” kata Dody.

Dody juga menekankan bahwa tiap perguruan tinggi tidak hanya tampil sebagai peserta. Di Peksimida, kampus diposisikan sebagai bagian dari ekosistem pembinaan dan pengembangan seni mahasiswa di Jawa Tengah.

“Kita patut mengapresiasi karena seluruh rangkaian dapat terlaksana melalui semangat kolaborasi antarkampus,” tambahnya.

Dengan arah seperti itu, Peksimida dipandang bukan sekadar kompetisi seni, melainkan proses pembelajaran yang dapat diarahkan kembali ke masyarakat dan mendukung penguatan desa wisata. Keterkaitan antara pembinaan seni, pengembangan destinasi, serta pembentukan ekonomi kreatif menjadi salah satu benang merah yang ditekankan dalam agenda menuju 2027.