jurnalistik.co.id – Krisis air bersih kini melanda warga Desa Paja, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Banten. Agar kebutuhan mandi dan mencuci tetap terpenuhi, warga memilih cara gotong royong dengan patungan untuk menyewa losbak guna mengangkut air dari Bendungan Karian.
Dalam kondisi musim kemarau yang membuat sumber air setempat surut, warga harus menempuh perjalanan sekitar 6 kilometer menuju Bendungan Karian. Jarak tersebut menjadi alasan warga mengatur keberangkatan dan pembagian biaya agar lebih ringan bagi tiap keluarga.
Patungan warga untuk sewa losbak
Menurut Jaya, warga di Kampung Pasir Kalapa, warga menyewa satu unit pikap atau losbak secara bersama-sama. Pola patungan ini dimaksudkan agar pengambilan air bisa dilakukan lebih efisien dibanding jika setiap keluarga mencari akses air sendiri-sendiri.
Jaya menjelaskan mekanismenya langsung dari besaran kontribusi yang disepakati. “Kita patungan Rp 10.000 per orang. Satu losbak biasanya isi 10 sampai 15 orang,” kata Jaya kepada Kompas.com di Desa Paja, Kamis (30/7/2026).
Dengan kapasitas penumpang yang bisa mencapai belasan orang dalam satu perjalanan, kegiatan pengambilan air menjadi lebih terencana. Warga kemudian menyesuaikan jumlah peserta dan kebutuhan harian mereka, termasuk saat harus membawa wadah penampung.
Ambil air, mandi, lalu bawa pulang
Warga umumnya berangkat pada sore hari. Setibanya di Bendungan Karian, mereka menggunakan kesempatan itu untuk mandi sekaligus mencuci pakaian.
Setelah kegiatan di lokasi selesai, warga menyiapkan berbagai wadah untuk membawa pulang air bersih. “Kita mandi, nyuci di sana, terus pulangnya bawa air pakai galon buat kebutuhan di rumah,” kata dia.
Air yang dibawa pulang kemudian dimanfaatkan untuk aktivitas rumah tangga pada hari-hari berikutnya. Dari waktu ke waktu, kebutuhan warga tetap bergantung pada frekuensi perjalanan mengambil air, sebab akses air dari kampung sendiri sudah tidak lagi memadai.
Berita Terkait
Kegiatan pengambilan air dengan skema patungan ini telah berlangsung sekitar dua bulan terakhir. Warga terpaksa mempertahankan rutinitas tersebut agar kebutuhan dasar tetap terpenuhi meski kondisi lingkungan berubah akibat kemarau panjang.
Dampak meluas ke ratusan keluarga
Kepala Desa Paja, Nasrullah, menyebut krisis air bersih telah berlangsung lebih dari dua bulan. Dampaknya dirasakan oleh sekitar 600 kepala keluarga di lima kampung yang terdampak.
Nasrullah menjelaskan bahwa aliran Sungai Cisindu dan sumur yang selama ini menjadi tumpuan warga sudah mengering. Akibatnya, pasokan air untuk kebutuhan harian sulit dipenuhi dari sumber-sumber yang biasa digunakan.
“Biasanya warga mengandalkan aliran Sungai Cisindu. Tapi sekarang sungainya mengering, sehingga tidak ada lagi pasokan air,” kata Nasrullah.
Di tengah keterbatasan tersebut, warga kini mengandalkan bantuan air bersih dari pemerintah. Pemerintah desa juga terus berusaha menyalurkan permohonan bantuan melalui jalur resmi.
Nasrullah menuturkan bahwa pihaknya tidak berhenti mengajukan permintaan air bersih kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak. “Kami terus bersurat ke BPBD untuk meminta bantuan air. Kalau tidak ada bantuan yang datang, memang sudah tidak ada solusi lain,” ujar Nasrullah.
Bagi warga Desa Paja, skema patungan yang melibatkan sewa losbak menjadi cara bertahan di tengah keterlambatan atau belum datangnya pasokan bantuan. Setidaknya, dengan langkah kolektif ini mereka bisa memastikan air bersih tetap tersedia untuk aktivitas sehari-hari, sambil menunggu upaya penanganan dari pemerintah.
Di antara warga, keputusan patungan tidak hanya soal biaya sewa, tetapi juga pembagian waktu dan penyesuaian jumlah orang yang ikut. Mereka mempertimbangkan kebutuhan tiap keluarga, lalu menyiapkan daftar peserta sebelum berangkat agar proses pengambilan air berjalan tertib.
Sepulangnya dari Bendungan Karian, air yang sudah terkumpul biasanya langsung dialokasikan untuk kebutuhan rumah tangga berikutnya. Karena sumber di kampung sendiri sudah tidak mencukupi, warga berusaha memanfaatkan stok tersebut sambil tetap menjaga ritme perjalanan setiap kali air di rumah mulai menipis.
Nasrullah menegaskan, keterlambatan atau belum datangnya bantuan membuat warga tetap harus bertahan dengan cara yang mereka bisa lakukan bersama. Dengan mengandalkan gotong royong melalui patungan sewa losbak, mereka berupaya memastikan aktivitas harian di lima kampung terdampak tetap berjalan sambil menunggu respons penyaluran air bersih dari pihak terkait.












