Peristiwa

BMKG: Aktivitas Anak Krakatau Berlanjut, Indikasi Tsunami di Selat Sunda Belum Terlihat

×

BMKG: Aktivitas Anak Krakatau Berlanjut, Indikasi Tsunami di Selat Sunda Belum Terlihat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: BMKG: Anak Krakatau Masih Aktif, tetapi Belum Ada Tanda Tsunami di Selat Sunda

jurnalistik.co.id – Lampung Selatan—Kekhawatiran warga terkait potensi tsunami di Selat Sunda kembali muncul menyusul peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau dalam beberapa hari terakhir. Menanggapi itu, BMKG menyatakan hingga saat ini belum ada indikasi tsunami maupun perubahan muka air laut yang mengarah pada terjadinya gelombang tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Lampung Utara, Litman, menegaskan pihaknya terus memantau kondisi Gunung Anak Krakatau melalui jaringan sensor seismik serta alat pemantau muka air laut. Pengamatan tersebut juga berjalan melalui koordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

“Hingga saat ini BMKG belum mendeteksi adanya tsunami ataupun perubahan muka air laut yang mengindikasikan terjadinya tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan,” kata Litman, Minggu (12/7/2026).

Litman menyebut aktivitas vulkanik memang mengalami peningkatan dan masih berada pada Status Level III (Siaga) berdasarkan evaluasi PVMBG. Namun, menurutnya peningkatan itu belum menunjukkan tanda-tanda yang mengarah pada kejadian tsunami.

“Pemantauan kami dilakukan secara terus-menerus, baik terhadap aktivitas kegempaan, kondisi muka air laut, maupun perkembangan aktivitas vulkanik. Semua data dianalisis bersama dengan PVMBG agar setiap perubahan dapat segera diketahui,” ujarnya.

Pemantauan berlapis dan analisis bersama PVMBG

BMKG menekankan bahwa proses pemantauan tidak berhenti pada satu jenis data. Informasi dari aktivitas kegempaan, kondisi muka air laut, hingga perkembangan aktivitas vulkanik diolah dan dianalisis bersama PVMBG untuk memastikan setiap dinamika yang muncul bisa terdeteksi sedini mungkin.

Dalam situasi seperti ini, BMKG meminta masyarakat tidak mudah terpengaruh isu yang belum jelas sumbernya. Litman menggarisbawahi bahwa kewaspadaan tetap diperlukan, tetapi kekhawatiran harus diredam dengan merujuk pada data pemantauan yang terkonfirmasi.

“Potensi itu tetap ada sehingga harus diwaspadai. Akan tetapi, hingga saat ini instrumen pemantauan BMKG tidak menunjukkan adanya perubahan muka air laut maupun indikator tsunami. Karena itu masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum jelas sumbernya,” kata Litman.

Pelajaran dari tsunami Selat Sunda 2018

Litman menjelaskan bahwa Gunung Anak Krakatau memang memiliki potensi menimbulkan bahaya ikutan (secondary hazard). Salah satu kemungkinan yang bisa terjadi adalah longsoran material vulkanik ke laut dalam kondisi tertentu, yang dapat memicu tsunami sebagaimana pernah terjadi pada bencana Selat Sunda tahun 2018.

Meski demikian, ia menegaskan potensi tersebut tidak berarti setiap erupsi akan langsung menghasilkan tsunami. Potensi bahaya ikutan tetap dinilai melalui indikator pemantauan, termasuk perubahan muka air laut, sehingga kesimpulan baru bisa diambil berdasarkan data.

Imbauan radius aman dan kesiapsiagaan

Selain mengingatkan warga agar tidak mudah mempercayai informasi yang tidak terverifikasi, BMKG juga mengimbau nelayan, wisatawan, serta pelaku jasa wisata untuk mematuhi rekomendasi dari PVMBG. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau selama statusnya masih berada pada Level III (Siaga).

Bagi warga yang bermukim di pesisir Selat Sunda, BMKG meminta agar memahami jalur evakuasi serta prosedur kesiapsiagaan apabila sewaktu-waktu pemerintah mengeluarkan peringatan resmi. Dengan demikian, warga dapat bergerak sesuai arahan ketika kondisi memerlukan peningkatan kewaspadaan.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi, dan selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG, PVMBG, maupun instansi pemerintah yang berwenang,” ucapnya.

Litman menambahkan BMKG akan terus memperbarui informasi berdasarkan hasil pemantauan terbaru. Apabila terdapat perkembangan yang memerlukan peningkatan kewaspadaan, BMKG menyatakan akan segera menyampaikan pembaruan tersebut kepada masyarakat.