jurnalistik.co.id – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat laba bersih konsolidasian sebesar Rp 30,4 triliun sepanjang semester I 2026. Angka tersebut tumbuh 24,2% secara tahunan atau year on year (YoY) dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 24,5 triliun.
Capaian laba itu dipaparkan dalam konferensi pers virtual pada Kamis (23/7/2026). Direktur Finance and Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menjelaskan bahwa pertumbuhan laba ditopang oleh kinerja pendapatan.
Menurut Novita, kontribusi utama datang dari pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII). Pada semester I 2026, NII tercatat naik 8% dibanding periode sebelumnya.
Ia menyebut, kenaikan NII berkaitan erat dengan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang masih kuat. DPK tumbuh sekitar 17,1% (YoY), lalu dana tersebut disalurkan menjadi kredit dengan pertumbuhan 19,9%.
Novita menilai pertumbuhan bisnis Bank Mandiri turut memperkuat perolehan pendapatan. Dengan ekspansi yang berjalan, revenue dan NII yang dihasilkan dinilai bergerak lebih baik.
Selain pendapatan bunga, kinerja laba juga didukung peningkatan pendapatan nonbunga. Porsi ini berasal dari fee-based income, yang mengindikasikan adanya dorongan dari pendapatan berbasis komisi.
Pertumbuhan pendapatan berbasis komisi, terutama, bersumber dari recurring fee Livin’ by Mandiri. Nilai recurring fee dari layanan tersebut meningkat 46% secara tahunan.
Di sisi lain, fee dari platform Kopra by Mandiri juga bertambah. Realisasi kenaikannya tercatat 22,8% (YoY), sementara fee dari transaksi treasury naik 23%.
Berita Terkait
Bank Mandiri juga menyampaikan bahwa kualitas aset tetap terjaga meski ekspansi kredit terus berlangsung. Hal tersebut tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang berada di level 0,98%.
Lebih lanjut, coverage ratio disebut berada pada angka 242%. Bank juga mencatat cost of credit (CoC) stabil di level 0,52% sehingga tekanan risiko dinilai dapat dikendalikan dalam periode berjalan.
Novita mengaitkan capaian tersebut dengan strategi yang ditempuh perseroan. Bank Mandiri, menurutnya, berfokus menyalurkan kredit ke sektor-sektor yang prospektif dan tangguh (resilient), sekaligus memperkuat ekosistem bisnis serta mendukung agenda strategis pemerintah.
Dalam penjelasan akhirnya, Novita menegaskan bahwa pencapaian volume bisnis dan profitabilitas yang baik bermuara pada laba perseroan sebesar Rp 30,4 triliun. Dengan kombinasi pertumbuhan pendapatan dan terjaganya kualitas aset, kinerja laba konsolidasian pada paruh pertama 2026 tetap menunjukkan tren positif.
Sementara itu, untuk kinerja bank saja atau bank only, Bank Mandiri mencatat laba bersih sebesar Rp 28,5 triliun pada periode yang sama. Angka tersebut meningkat 25% (YoY) dibanding periode sebelumnya yang sebesar Rp 22,5 triliun, meski perseroan menghadapi tekanan terhadap margin bunga.
Dengan demikian, sepanjang semester I 2026, peningkatan laba konsolidasian ditunjang oleh NII yang tumbuh, DPK yang tetap kuat, serta penyaluran kredit yang berlanjut. Di saat yang sama, pendapatan nonbunga berbasis komisi turut berperan melalui kinerja berbagai platform dan transaksi, sementara metrik risiko seperti NPL, coverage ratio, dan CoC tetap berada pada level yang dipelihara perseroan.
Novita juga menekankan bahwa kinerja semester I 2026 tidak hanya tercermin dari angka laba, tetapi dari alur yang saling menguatkan: dana pihak ketiga yang bertumbuh kemudian dimanfaatkan untuk ekspansi kredit. Dengan begitu, pendapatan bunga bersih tetap bisa naik seiring penyaluran kredit yang berkembang.
Bank Mandiri menambahkan, pertumbuhan tersebut disertai disiplin pengelolaan risiko. Meski ekspansi kredit berjalan, perseroan menjaga rasio NPL di 0,98% dan tetap melaporkan coverage ratio 242% serta cost of credit 0,52%, sehingga potensi tekanan kualitas aset dapat dikendalikan. Penopang lain datang dari fee-based income, termasuk kenaikan recurring fee Livin’ by Mandiri 46% serta kontribusi fee Kopra dan transaksi treasury yang juga meningkat.












