Hukum & Kriminal

Sahabat pelaku serangan sinagoge Manchester dipenjara karena rencana terpisah

×

Sahabat pelaku serangan sinagoge Manchester dipenjara karena rencana terpisah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Friend of Manchester synagogue attacker jailed over separate plot

jurnalistik.co.id – Sahabat pelaku penyerangan terhadap sinagoge di Manchester dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan masa minimum 17 tahun setelah terbukti merancang rencana terpisah. Pengadilan menilai bahwa ia menyiapkan serangan terhadap pangkalan militer sebelum penyerangan di Heaton Park terjadi.

Mohammad Bashir, 31 tahun, menjalankan bagian perencanaan bersama Jihad Al-Shamie, 35 tahun. Bashir disebut mengantar Al-Shamie dalam perjalanan pulang-pergi selama sekitar 10 jam dengan tujuan melakukan pengintaian bermusuhan.

Rencana itu diarahkan ke UK Defence Academy yang berada di Shrivenham, Oxfordshire. Perjalanan untuk melakukan pengintaian tersebut dilakukan pada 14 Agustus 2025.

Menurut kronologi yang disampaikan dalam persidangan, beberapa pekan setelah kunjungan itu, Al-Shamie ditembak mati oleh polisi. Ia tewas setelah melakukan serangan di Heaton Park Synagogue.

Serangan di Heaton Park Synagogue menewaskan dua pria beragama Yahudi. Setelah rangkaian kejadian tersebut, aparat penegak hukum kembali menelusuri keterlibatan dan hubungan yang muncul terkait rencana teror.

Bashir kemudian diadili di Manchester Crown Court. Ia menerima vonis setelah mengaku bersalah atas satu dakwaan berupa persiapan melakukan tindakan terorisme.

Dalam penelusuran perkara, polisi kontra-teror menghubungkan persahabatan antara Bashir dan Al-Shamie. Penelusuran itu dilakukan setelah memeriksa perangkat milik Bashir usai serangan sinagoge terjadi pada Oktober 2025.

Jaksa menempatkan rencana terhadap pangkalan militer sebagai plot yang berdiri sendiri, terpisah dari serangan yang kemudian dilakukan Al-Shamie di sinagoge. Karena itu, Bashir diproses secara terpisah untuk tindakan persiapan yang berkaitan dengan rencana tersebut.

Putusan pengadilan menjadikan masa penahanan minimum 17 tahun sebagai bagian dari hukuman seumur hidup yang dijatuhkan. Dengan demikian, Bashir harus menjalani masa minimum sebelum kemungkinan peninjauan kelanjutan pidananya.

Perkara ini menyoroti bagaimana hubungan dan persiapan yang terjadi sebelum eksekusi akhir dapat ditelusuri melalui investigasi aparat. Pemeriksaan yang mengikuti serangan di sinagoge, termasuk peninjauan isi perangkat, turut berperan dalam mengungkap keterkaitan Bashir dengan Al-Shamie.

Kasus tersebut dipublikasikan pada 23 Juli 2026 sekitar pukul 11:02 waktu BST, dengan pembaruan yang menyusul tak lama setelahnya. Namun, inti informasi yang diberitakan tetap berfokus pada fakta bahwa Bashir merencanakan pengintaian bermusuhan ke Defence Academy dan kemudian divonis setelah pengakuan bersalahnya di pengadilan.

Dengan adanya vonis ini, rencana terpisah yang melibatkan pengintaian di Shrivenham dinyatakan sebagai bagian dari rangkaian persiapan tindakan teror. Pengadilan juga menempatkan tindak lanjut penyelidikan setelah serangan Oktober 2025 sebagai dasar penetapan keterkaitan persahabatan antara kedua pihak.

Dalam persidangan, fokus penilaian tidak hanya pada peristiwa serangan di Heaton Park Synagogue, tetapi juga pada tahap-tahap sebelumnya yang menunjukkan adanya persiapan dan koordinasi. Pengadilan memandang adanya rencana yang disusun secara lebih luas, termasuk aktivitas yang mengarah pada pengintaian di lokasi yang dituju, sebelum insiden di tempat ibadah terjadi.

Kesaksian dan urutan kejadian yang disampaikan turut menggambarkan bagaimana pola hubungan antara Bashir dan Al-Shamie kemudian menjadi bagian dari konstruksi kasus. Saat penyelidikan mengikuti jejak setelah serangan Oktober 2025, aparat mengarahkan penelusuran pada perangkat yang ditemukan, lalu menautkannya dengan hubungan serta keterlibatan yang telah lebih dulu terbentuk.

Dengan dipisahkannya pemrosesan untuk rencana pengintaian terhadap Defence Academy dan serangan yang berujung pada kematian Al-Shamie, penetapan hukuman menekankan bahwa tindak persiapan juga dinilai sebagai bagian dari tindak terorisme. Putusan yang menetapkan batas minimum sebelum peninjauan memperlihatkan pertimbangan serius atas waktu, peran, dan rancangannya.