Daerah

Butuh Lebih dari Satu Dekade untuk Pulihkan Mangrove yang Terdampak Pulau Sampah Muara Angke

0
×

Butuh Lebih dari Satu Dekade untuk Pulihkan Mangrove yang Terdampak Pulau Sampah Muara Angke

Sebarkan artikel ini
Butuh Lebih Satu Dekade Pulihkan Mangrove yang Terdampak Pulau Sampah Muara Angke News 5 Juni 2026
Ilustrasi: Butuh Lebih Satu Dekade Pulihkan Mangrove yang Terdampak Pulau Sampah Muara Angke

jurnalistik.co.id – Tumpukan sampah yang membentuk “pulau sampah” di perairan Muara Angke, Jakarta Utara, tidak hanya mencemari kawasan pesisir. Keberadaan sampah plastik dalam jumlah besar disebut ikut mengancam ekosistem mangrove yang membutuhkan waktu lebih dari satu dekade untuk pulih.

Pakar Pencemaran dan Toksikologi dari Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof Etty Riani, menilai sampah plastik yang terjebak di kawasan mangrove dapat mengganggu fungsi ekologis hutan mangrove. Ia menekankan bahwa pemulihan ekosistem mangrove bukanlah proses yang cepat.

Prof Etty Riani mengatakan, “Pemulihan ekosistem mangrove membutuhkan waktu panjang, bahkan bisa mencapai lebih dari 10 tahun untuk mengembalikan fungsi ekologisnya secara penuh.” Pernyataan tersebut disampaikan Jumat (5/6/2026), mengacu pada kutipan dari laman resmi IPB University.

Menurut Prof Etty, sampah yang menumpuk di Muara Angke didominasi plastik, baik dalam bentuk makroplastik maupun mikroplastik. Ia menyebut adanya variasi jenis sampah yang ditemukan di kawasan tersebut.

Prof Etty menjelaskan bahwa jenis sampah yang banyak ditemukan antara lain kantong plastik, botol plastik, kemasan makanan dan minuman, styrofoam, bekas jaring, hingga sampah rumah tangga. Dalam pengamatannya, ia menemukan sampah plastik yang terjebak pada sedimen mangrove.

“Kami menemukan sampah plastik yang sangat banyak dan terjebak dalam sedimen mangrove,” ujarnya.

Dalam penjelasan mekanismenya, Prof Etty menyatakan plastik bersifat kedap dan dapat menutupi pneumatofor atau akar napas mangrove. Kondisi itu disebut menghambat proses pertukaran oksigen yang dibutuhkan oleh ekosistem mangrove untuk berfungsi sebagaimana mestinya.

Ia juga menilai bahwa plastik yang menutupi sedimen berpotensi mengubah karakteristik fisik, kimia, dan biologis lingkungan. Selain itu, timbunan plastik tersebut dinilai turut menghambat regenerasi bibit mangrove.

“Keberadaan sampah plastik secara langsung mengganggu fungsi ekologis mangrove,” kata Prof Etty.

Selain dampak terhadap mangrove itu sendiri, Prof Etty menyebut adanya konsekuensi pada kualitas perairan di sekitar kawasan pesisir. Ia mengaitkan sampah plastik dengan perubahan pada kondisi lingkungan perairan.

Menurutnya, sampah plastik dapat menurunkan kadar oksigen terlarut (DO). Ia juga menyebut peningkatan potensi terbentuknya gas beracun, seperti amonia, H2S, dan nitrit, serta peningkatan kandungan mikroplastik dan nanoplastik di lingkungan perairan.

Prof Etty turut menyoroti risiko masuknya mikroplastik ke rantai makanan. Ia menilai persoalan ini tidak berdiri sendiri di ekosistem, melainkan dapat menjalar ke organisme yang berinteraksi dengan lingkungan tersebut.

“Pulau sampah ini juga memiliki dampak langsung dan tidak langsung pada ikan dan burung yang sengaja mengonsumsi plastik atau mikroplastik karena mengiranya sebagai makanan,” ujarnya.

Dengan demikian, keberadaan “pulau sampah” di Muara Angke dipotret sebagai ancaman berlapis, dari terganggunya fungsi ekologis mangrove hingga perubahan kualitas perairan. Di sisi lain, Prof Etty mengingatkan upaya pemulihan ekosistem mangrove membutuhkan waktu panjang dan bisa melampaui 10 tahun untuk mengembalikan fungsi ekologisnya secara penuh.

Lebih jauh, timbunan plastik yang masuk hingga area sedimen mangrove tidak hanya menjadi “penghalang” fisik, tetapi juga berpotensi mengubah cara ekosistem menyerap dan mengalirkan oksigen. Ketika bagian-bagian yang berperan dalam napas mangrove tertutup, proses yang menopang fungsi biologis hutan mangrove disebut ikut terganggu.

Di saat yang sama, kondisi perairan di sekitar Muara Angke turut dipengaruhi oleh keberadaan plastik. Prof Etty menyebut sampah tersebut dapat menurunkan kadar oksigen terlarut (DO), sekaligus meningkatkan peluang terbentuknya gas beracun seperti amonia, H2S, dan nitrit. Ia juga mengaitkan masalah ini dengan meningkatnya mikroplastik serta nanoplastik di lingkungan perairan.

Menurut penilaian Prof Etty, persoalan tidak berhenti pada perubahan di mangrove dan kualitas air. Mikroplastik yang terbawa dalam lingkungan berpeluang masuk ke rantai makanan, sehingga organisme yang berinteraksi dengan perairan—termasuk ikan dan burung—dapat terpapar karena plastik atau partikel kecil terlihat seperti bagian dari makanan.