jurnalistik.co.id – Sejumlah pedagang di pasar tradisional Bersehati, Manado, mengeluhkan lonjakan harga minyak goreng curah hingga bumbu dapur dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan ini disebut-sebut berkaitan dengan terganggunya pasokan barang, faktor cuaca buruk, serta naiknya biaya operasional kemasan plastik.
Di tengah situasi itu, harga yang berubah cepat membuat pedagang harus menata ulang cara menjual dan menghitung ulang biaya harian di lapak. Keluhan juga muncul karena pasokan dari distributor kerap tidak memenuhi kebutuhan dengan ritme yang sama seperti pekan sebelumnya.
Seorang pedagang sembako, Rani, mengatakan minyak goreng curah kini sudah menyentuh angka Rp 21.000 per kilogram. Menurutnya, kenaikan tersebut tidak hanya datang dari sisi harga barang, tetapi juga dipengaruhi kondisi geopolitik global yang ikut mendorong minyak naik.
Rani menambahkan bahwa biaya operasional pedagang turut membengkak, terutama karena kenaikan kemasan plastik. Ia menyebut kantong plastik mengalami kenaikan yang signifikan sehingga mempengaruhi hitung-hitungan modal di pasar.
“Ya mungkin faktor apa ya? Katanya sih di Timur Tengah itu lagi ada gejolak, jadi minyak naik. Terus kita juga kan harus perhitungan dengan kantong plastik. Kantong plastik kan naik hampir seratus persen,” ujar Rani saat ditemui di lapaknya, Jumat (5/6/2026).
Selain menyediakan minyak goreng curah, Rani juga menjual minyak goreng program pemerintah, Minyakita. Harga yang ia terapkan adalah Rp 15.700 per liter sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Namun, ia mengaku stok Minyakita selalu cepat ludes karena tingginya minat masyarakat. “Ya diserbu pembeli loh, otomatis karena murah,” katanya menerangkan situasi pasar.
Rani menjelaskan, setiap lapak pedagang sebenarnya hanya mendapatkan jatah pasokan Minyakita sebanyak satu kali dalam seminggu dengan jumlah sekitar 25 karton. Meski demikian, pada distribusi terakhir isi kemasan yang ia terima justru berbeda dibanding pekan sebelumnya.
“Mirisnya, dalam distribusi terakhir, isi kemasan yang ia terima justru berbeda dibanding pekan sebelumnya,” kata Rani menggambarkan kondisi yang dinilainya tidak seragam.
Kondisi serupa juga disampaikan oleh Rosna Lituto, pedagang lain di Pasar Bersehati. Ia mengatakan hampir seluruh komoditas kebutuhan pokok di lapaknya mengalami kenaikan harga yang cukup mencekik.
Rosna menyebut keterbatasan pasokan barang dari pihak distributor turut memperparah kesulitan yang dirasakan pedagang. Ia merinci bahwa kenaikan terlihat jelas terutama pada minyak goreng curah yang sebelumnya berada di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 19.000.
“Harga naik mulai tiga hari lalu, soalnya plastik naik, karet naik, belum lagi tenaga yang bekerja,” ujarnya merinci komponen biaya operasional yang ikut terdorong naik.
Menurut Rosna, minyak goreng curah kemudian merangkak menjadi Rp 21.000 per kilogram sejak tiga hari terakhir. Ia menilai kenaikan tersebut terjadi bersamaan dengan biaya bahan pendukung serta beban kerja yang harus ditanggung untuk distribusi dan penjualan di lapak.
Rosna juga membandingkan harga dari sisi grosir yang diterima pedagang. Ia mengatakan harga minyak goreng curah tingkat grosir dari distributor kini mencapai Rp 390.000 per 20 kilogram, melonjak dari harga sebelumnya yang sebesar Rp 380.000.
Ia menduga lonjakan itu muncul karena pasokan dari sejumlah daerah sentra mengalami kekosongan barang. “Itu orang bilang kosong-kosong barang, ditambah lagi pembeli sepi sekarang, karena harga barang pada naik,” katanya lesu.
Untuk Minyakita, Rosna memilih menjualnya dengan harga Rp 16.000 per liter. Tetapi, saat ditemui stok di lapaknya sudah habis total dan baru diperkirakan akan tersedia kembali pada pekan depan.
Di tengah perubahan harga dan keterbatasan pasokan, pedagang berusaha menjaga penjualan sesuai kemampuan pembeli. Meski ada produk program pemerintah yang ditargetkan terjangkau, percepatan habisnya stok membuat sebagian waktu penjualan kembali bergantung pada ketersediaan distribusi dari distributor.
Keluhan pedagang di Pasar Bersehati menggambarkan bahwa kenaikan harga tidak terjadi di satu komoditas saja. Dengan minyak curah sebagai yang paling terasa, bumbu dapur dan kebutuhan pokok lain juga ikut terdorong naik, sementara cuaca buruk serta pasokan yang terganggu disebut-sebut menjadi bagian dari penyebab yang menguat dalam beberapa hari terakhir.












