jurnalistik.co.id – Perubahan kepemilikan di The Hundred membuat MI London memulai era dengan identitas baru—nama, warna, hingga cara tim memandang pertumbuhan bisnis. Investasi Mumbai Indians dari ekosistem IPL membawa keluarga cricket mereka ke The Oval, sementara Surrey tetap berupaya menjaga ciri khas waralaba.
Dalam kesepakatan yang diumumkan Januari 2025, Reliance Industries Limited yang dipimpin Mukesh Ambani membeli saham 49% di Oval Invincibles dengan nilai sekitar ÂŁ60 juta. Langkah ini dicatat sebagai salah satu penjualan tim yang lebih awal terjadi di The Hundred, dan menjadi dasar bergulirnya rebranding tim yang paling sukses di kompetisi tersebut.
Steve Elworthy, chief executive Surrey, mengatakan hubungan mereka dengan keluarga Ambani tidak dimulai saat proses penawaran. Menurut Elworthy, “They’ve been huge supporters of The Hundred for a number of years,” dan mereka bahkan “used to take our boardroom box every August to watch The Hundred when we were still Invincibles.” Ia menambahkan, komunikasi awal membuat pihaknya merasa menemukan mitra yang tepat: “The first meeting we had, we spent about 45 minutes talking about just cricket.”
Dari sisi daya tarik investasi, Elworthy menilai The Oval merupakan panggung yang sangat dikenal, serta Surrey secara rutin menarik kehadiran tinggi di level county game. Ia menegaskan, “We do cricket well,” sekaligus menyebut “We’ve got an incredibly strong membership, incredible attendances across formats and we are based in London. It’s a really attractive proposition.”
Perubahan yang terlihat di MI London
Sebagai bagian dari kesepakatan, Invincibles resmi diubah menjadi MI London agar selaras dengan rumpun MI lain seperti MI Cape Town, MI Emirates, dan MI New York. Namun Surrey—yang tetap menjadi pemegang saham mayoritas—berusaha agar identitas lama tidak hilang total. Elworthy merangkum pendekatannya, “The beauty of this partnership is that the agreement was signed in late 2025 and we are halfway through our first season together, but we haven’t even had to look at the contract once,” sebelum menutup dengan “We’re only looking to make this a success together.”
Menurut pemain, rotasi berjalan lebih mulus daripada yang mungkin diperkirakan. Will Jacks menyebut transisi terasa nyaman karena ia punya pijakan di dua kubu: “It felt like a very smooth transition for me, having a foot in both camps.” Ia menjelaskan, “The kit’s changed obviously and it incorporates the blue and gold of MI but the training kit still has the Invincibles colours, so it is kind of a mix of the two,” dan menilai mereka berhasil “moulding the two together.”
Dari sisi jajaran pelatih, perubahan lebih jelas terjadi pada kursi kepala pelatih. Tom Moody yang sebelumnya menuntun Invincibles meraih hat-trick gelar putra, digantikan oleh Kieron Pollard. Pollard pernah bermain di IPL bersama MI, serta di tim saudara mereka untuk Major League Cricket, SA20, dan ILT20. Kapten Sam Billings juga digantikan, dari Sam Billings menjadi Sam Curran.
Selain itu, Mitchell McClenaghan bergabung dari jaringan MI sebagai pelatih bowling putra. Meski demikian, nuansa Surrey tetap terasa lewat peran Gareth Batty, Jim Troughton, dan Nic Pothas yang masuk jajaran pelatih. Di sisi perempuan, Lisa Keightley menggantikan Jonathan Batty; Keightley datang dengan pengalaman baru setelah melatih MI di Women’s Premier League (WPL), dan ia bekerja bersama Johann Myburgh serta Dan Helesfay.
Berita Terkait
Yang paling terasa: keahlian komersial dan jangkauan global
Jika pemain merasakan perubahan yang relatif halus, BBC Sport menilai kontribusi terbesar dari investasi MI muncul pada aspek komersial dan jangkauan global. Elworthy menjelaskan, “MI have got teams around the world and business around the world, so that’s something we’ve learned from them,” dan menambahkan bahwa The Hundred sebelumnya “was pretty local.” Kini, “now, I think we’ve actually got a global brand here and global partners now.” Ia menyebutnya sebagai “a brilliant place to be.”
Elworthy juga menekankan perbedaan peran mereka: “All other teams MI have around the world, they are the sole owners. But they’re a minority shareholder here but we don’t behave like that. We behave as a team to do the best for MI London.” Keightley kemudian menggemakan pandangan tersebut, “I know MI have been very mindful that for the first time, they’re working with another organisation,” lalu menilai kedua pihak sama-sama berusaha keras agar program ini berhasil: “From my experience, both organisations are working really hard to make it successful.”
Keuntungan lain, menurut Keightley dan para pemain, datang dari peluang berkembang dalam jejaring MI. Jacks menyebut pengalaman itu membuka banyak hal: “Playing with so many great players and icons of Indian cricket at MI has opened me up to a lot of new things and skills. That experience, you can’t buy that.” Ia juga menyinggung peluang lintas-kesempatan ketika klub membuka ruang untuk keterlibatan dalam ekosistem yang lebih luas.
Keightley menutup bagian ini dengan poin yang lebih spesifik bagi pemain MI London: “If you’re a MI London player, there’s definitely an opportunity to be involved in WPL. Because you build the relationship, you know what a player can do and they know the environment that they’re going into.”
Arah ke depan MI London
Menjelang musim-musim berikutnya, fokus tim bukan hanya menyesuaikan nama dan warna, tetapi menata masa depan agar MI London menjadi merek yang hidup sepanjang tahun. Elworthy menyatakan, “You don’t want a competition that everybody only thinks about while it’s happening,” dan tugas mereka adalah memastikan “there’s a cycle all the way through the year.”
Surrey dan MI juga mempertimbangkan pengambilan lebih besar atas layanan yang selama ini ditangani England and Wales Cricket Board (ECB). Karena proses takeover selesai hanya beberapa bulan sebelum musim dimulai, mereka mengandalkan ECB untuk aspek operasional, termasuk tiket. Elworthy menjelaskan bahwa klub sedang mempertimbangkan layanan apa yang akan dimasukkan ke dalam kendali sendiri mulai 2027, dengan tujuan: “We want to control and run all the facets of the team – the delivery of the game, the global expansion and building the brand itself.”
Di lapangan, ambisi mereka tidak berubah: setelah meraih lima gelar dalam lima tahun, MI London menargetkan tim yang kembali menghasilkan piala. BBC Sport mencatat hal ini bisa terjadi segera, terutama jika tim putra mempertahankan performa yang saat tulisan tersebut dibuat menempatkan mereka “second in the table after five matches.”












