Hukum & Kriminal

Camat di Bengkulu Selatan Hancurkan Meja Sekolah Usai Tak Puas Hasil TKA Anak

0
×

Camat di Bengkulu Selatan Hancurkan Meja Sekolah Usai Tak Puas Hasil TKA Anak

Sebarkan artikel ini
Tak Puas dengan Hasil TKA Anaknya, Camat di Bengkulu Hancurkan Meja Sekolah Regional 3 Juni 2026
Ilustrasi: Tak Puas dengan Hasil TKA Anaknya, Camat di Bengkulu Hancurkan Meja Sekolah

jurnalistik.co.id – Seorang camat di Kabupaten Bengkulu Selatan, berinisial TA, merusak meja kaca di SMP Negeri 1 Bengkulu Selatan setelah merasa tidak puas dengan hasil tes kemampuan akademik (TKA) anaknya. Peristiwa itu membuat meja kaca di ruang sekolah hancur berantakan dan memicu penanganan lebih lanjut dari pemerintah daerah setempat.

Kejadian tersebut disebut berlangsung pada Jumat, 29 Mei 2026. Informasi itu dibenarkan oleh Sekretaris Daerah Bengkulu Selatan, Susmanto, saat dikonfirmasi melalui telepon. Menurut dia, tindakan itu dilakukan oleh salah seorang camat yang merasa kecewa dengan hasil TKA anaknya.

“Iya dia ini salah seorang camat, jadi merasa ada yang kurang puas dengan hasil tes TKA anaknya dia marah lalu merusak properti sekolah,” kata Susmanto.

Susmanto menjelaskan, pihaknya sudah mengumpulkan pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, kepala sekolah, serta inspektorat untuk membahas peristiwa tersebut. Dari pertemuan itu, pemerintah daerah memutuskan agar inspektorat memeriksa camat yang bersangkutan.

“Saya dapat laporan itu dari Kepala Dinas (Kadis), Dikbud bahwa ada salah satu pejabat camat yang melakukan tindakan tidak terpuji di SMP Negeri 1, sudah kami perintahkan inspektorat untuk memeriksa yang bersangkutan. Kami sangat menyesalkan kejadian ini,” kata dia.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 1 Bengkulu Selatan, Liasrawati, dalam surat laporan ke inspektorat menjelaskan bahwa pada hari kejadian TA datang langsung ke sekolah. Dalam laporannya, ia menulis bahwa TA masuk ke ruang staf tata usaha (TU), bersalaman dengan guru-guru dan staf TU yang ada di ruangan itu, lalu duduk di kursi tamu setelah dipersilakan.

Setelah itu, TA menanyakan keberadaan kepala sekolah. Karena saat itu kepala sekolah sedang tidak berada di tempat, para guru dan staf TU menyampaikan kondisi tersebut. Menurut laporan Liasrawati, TA kemudian meminta staf sekolah menelepon kepala sekolah. Saat dihubungi, kepala sekolah meminta TA datang ke sekolah pada keesokan harinya karena sedang ada tugas di luar sekolah.

Usai percakapan itu, TA disebut bertanya kepada operator sekolah mengenai tes kemampuan akademik (TKA) susulan. Dari situ, muncul perdebatan atau dialog antara TA dan pihak sekolah terkait TKA susulan. Dalam laporan itu disebutkan bahwa yang dipermasalahkan TA adalah rasa kecewa karena merasa anaknya dirugikan saat pelaksanaan TKA.

TA juga disebut keberatan dengan kebijakan kepala sekolah terkait TKA susulan. Perdebatan yang semakin memanas membuat suasana di ruang TU berubah tegang. Dalam kondisi emosi, TA berdiri lalu menghentakkan kaki ke atas meja kaca sebanyak dua kali hingga kaca meja pecah berantakan.

Liasrawati juga menuliskan bahwa anak TA dikenal sebagai anak yang pintar dan sering meraih peringkat. Namun, hasil TKA anak itu disebut anjlok, dan kekecewaan orang tua kemudian memuncak hingga berujung pada perusakan meja kaca di sekolah.

Hingga berita ini ditulis, Kompas.com berupaya mengonfirmasi TA melalui telepon dan pesan singkat. Namun, TA tidak memberikan respons atas upaya konfirmasi tersebut.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa keberatan terhadap hasil penilaian seharusnya disampaikan melalui jalur yang tepat, bukan dengan tindakan yang merusak fasilitas pendidikan. Ruang sekolah semestinya tetap menjadi tempat yang aman dan tertib, terutama ketika persoalan menyangkut siswa dan evaluasi akademik. Karena itu, langkah pemerintah daerah yang meminta pemeriksaan dari inspektorat menjadi bagian penting untuk menegaskan batas antara kekecewaan pribadi dan tanggung jawab seorang pejabat publik.

Di sisi lain, laporan dari pihak sekolah juga memperlihatkan bagaimana suasana yang semula berjalan biasa dapat berubah cepat ketika emosi tidak terkendali. Dari awal kedatangan TA hingga terjadinya perdebatan soal TKA susulan, rangkaian kejadian itu berujung pada aksi yang justru menimbulkan kerusakan dan perhatian luas. Kasus ini pun menjadi pengingat bahwa perbedaan pandangan di lingkungan pendidikan perlu diselesaikan dengan kepala dingin agar tidak merugikan banyak pihak.