Pendidikan

SPMB Jateng 2026 Pakai TKA, Bobot Jalur Prestasi 50 Persen

0
×

SPMB Jateng 2026 Pakai TKA, Bobot Jalur Prestasi 50 Persen

Sebarkan artikel ini
SPMB Jateng 2026 Gunakan Nilai TKA, Bobotnya 50 Persen untuk Penilaian di Seleksi Jalur Prestasi Regional 3 Juni 2026
Ilustrasi: SPMB Jateng 2026 Gunakan Nilai TKA, Bobotnya 50 Persen untuk Penilaian di Seleksi Jalur Prestasi

jurnalistik.co.id – SEMARANG — Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA dan SMK Negeri Jawa Tengah tahun 2026 membawa perubahan penting pada jalur prestasi. Tahun ini, nilai tes kemampuan akademik (TKA) untuk pertama kalinya masuk sebagai komponen penilaian dengan bobot 50 persen.

Ketua SPMB Jawa Tengah 2026 yang juga Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Tengah, Sunarto, mengatakan penggunaan nilai TKA menjadi salah satu pembeda utama dibanding pelaksanaan SPMB tahun lalu. Menurut dia, komponen ini sudah diselenggarakan kementerian dan kini ikut diperhitungkan dalam jalur prestasi.

“Perbedaan tahun ini dibandingkan tahun lalu yaitu diberlakukannya komponen TKA yang sudah diselenggarakan kementerian. Nilai itu masuk dalam komponen perhitungan jalur prestasi,” kata Sunarto ditemui di kantornya, Rabu (3/6/2026).

Gabungan rapor dan TKA

Ia menuturkan, nilai akhir pada jalur prestasi dihitung dari gabungan rata-rata nilai rapor dan nilai TKA dengan porsi yang sama besar. Dengan skema tersebut, penilaian jalur prestasi di Jawa Tengah tahun ini tidak lagi bertumpu pada rapor semata, melainkan juga pada hasil tes kemampuan akademik yang terukur.

“Di Jawa Tengah kita merumuskan nilai akhir jalur prestasi, yaitu 50 persen nilai rapor ditambah 50 persen nilai TKA,” ujarnya.

Selain dua komponen itu, peserta juga masih berpeluang memperoleh tambahan nilai apabila memiliki prestasi kejuaraan maupun pengalaman organisasi tertentu. Tambahan ini tetap menjadi bagian dari penilaian untuk memberi ruang bagi capaian nonakademik calon murid.

Nilai tambahan diberikan bagi siswa yang memiliki piagam kejuaraan di berbagai bidang. Piagam yang sudah melalui proses kurasi di Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) akan memperoleh skor lebih tinggi dibanding yang belum dikurasi. Namun, Sunarto menegaskan bahwa peserta yang belum sempat melakukan kurasi terhadap piagam prestasi nonberjenjang tidak perlu khawatir.

“Kalau belum dikurasi tetap akan kita akui, hanya memang skornya sedikit berbeda dengan yang sudah dikurasi,” bebernya.

Sementara itu, untuk kejuaraan berjenjang, Disdikbud Jateng memastikan prestasi tersebut tetap diakui tanpa perlu melalui proses kurasi. Menurut Sunarto, ada sejumlah kriteria yang membuat sebuah kejuaraan masuk kategori berjenjang.

Di antaranya, kejuaraan itu diselenggarakan secara bertingkat mulai tingkat kabupaten hingga nasional atau internasional, peserta mewakili institusi resmi, penyelenggara berasal dari pemerintah atau organisasi yang ditunjuk pemerintah, serta pembiayaannya didukung pemerintah. Dengan kriteria itu, prestasi berjenjang diposisikan sebagai capaian yang memiliki legitimasi lebih jelas dalam proses seleksi.

Selain prestasi akademik dan nonakademik, nilai tambahan juga diberikan kepada siswa yang pernah menjadi ketua organisasi di sekolah. Sunarto menyebutkan, pengakuan itu berlaku bagi ketua OSIS, ketua Pramuka, dan ketua MPK.

“Nilai organisasi diberikan untuk ketua OSIS, ketua Pramuka, dan ketua MPK,” ujarnya.

Dengan skema baru tersebut, Disdikbud Jateng berharap proses seleksi jalur prestasi dapat lebih mencerminkan kemampuan akademik siswa sekaligus mengakomodasi capaian prestasi dan kepemimpinan yang dimiliki calon murid. Perubahan ini juga menjadi penanda bahwa jalur prestasi di SPMB Jateng 2026 tidak hanya melihat hasil belajar di kelas, tetapi juga pencapaian lain yang dinilai relevan dalam menilai profil murid secara lebih utuh.

Di sisi lain, kebijakan baru ini juga membuat peserta jalur prestasi perlu lebih cermat menyiapkan dokumen pendukung sejak awal. Rapor, hasil TKA, piagam kejuaraan, hingga bukti kepengurusan organisasi akan sama-sama berpengaruh dalam proses penilaian. Karena itu, calon murid didorong memahami seluruh komponen yang menjadi dasar perhitungan agar peluang mereka bisa dinilai secara maksimal.

Dengan menggabungkan unsur akademik dan nonakademik, skema seleksi tahun ini diarahkan agar tidak hanya menonjolkan satu aspek kemampuan saja. Jalur prestasi pun diposisikan sebagai ruang yang lebih seimbang untuk melihat capaian belajar, prestasi lomba, dan pengalaman kepemimpinan siswa dalam satu rangkaian penilaian yang lebih menyeluruh.