jurnalistik.co.id – Timnas Cape Verde menunjukkan perlawanan luar biasa saat menghadapi Argentina pada babak 32 besar Piala Dunia 2026. Meski akhirnya kalah dramatis dengan skor 2-3 setelah perpanjangan waktu, pelatih Bubista menegaskan bahwa timnya tetap bermain dengan jati diri dan martabat.
Pertandingan pada Jumat itu mempertemukan skuad peringkat ke-67 dunia dengan juara dunia tiga kali, Argentina. Untuk Cape Verde, laga di putaran final global pertama mereka menjadi ujian sekaligus panggung untuk membuktikan ambisi.
Hasil akhir mencatat kekalahan bagi wakil Afrika tersebut. Namun, sepanjang 120 menit permainan, Cape Verde mampu menahan ritme lawan dan membuat Argentina tidak berjalan mulus seperti yang dibayangkan banyak pihak.
Bubista, yang berperan sebagai arsitek di balik perjalanan timnya, melihat respons emosional para pemain sebagai bagian dari proses perkembangan. Ia menilai perjuangan itu bukan sekadar soal hasil, melainkan juga karakter yang tumbuh dari tantangan besar.
Ia menyampaikan hal itu dalam kutipan yang dimuat Reuters, Sabtu (4/7/2026). Dalam suasana ruang ganti setelah laga, bubuk kegembiraan dan kesedihan bercampur menjadi satu.
“Suasana di ruang ganti dipenuhi kesedihan,” ungkap Bubista. Ia menambahkan, “Tentu saja kami sedih, kami sedih karena kami meninggalkan kompetisi dan karena kami sudah sangat dekat, sangat dekat.”
Di sisi lain, Bubista menekankan bahwa kesedihan itu tidak mematikan semangat tim. Para pemain justru saling merangkul dan menangis bersama sebagai bentuk penerimaan atas perjalanan yang telah mereka jalani.
“Meskipun sedih, para pemain saling berpelukan, mereka menangis. Ini bagian dari proses tumbuh. Ini membantu kita berkembang, dan juga menunjukkan bahwa tim ini memiliki jiwa.”
Baginya, kemajuan yang ditunjukkan Cape Verde terlihat dari cara mereka menghadapi tekanan sejak fase grup. Sebelum bertemu Argentina, skuad ini sempat menahan imbang mantan juara dunia seperti Spanyol dan Uruguay.
Capaian itu membuat Cape Verde tampil sebagai kejutan di putaran final. Bubista menilai, keberanian bermain dengan tempo dan disiplin yang terjaga menjadi salah satu kunci yang mereka bawa hingga ke babak knockout.
Dalam refleksi setelah pertandingan, ia menyebut kebanggaan sebagai kata paling tepat. Bubista menyatakan bahwa para pemainnya telah melakukan sesuatu yang layak dihargai, meski lawan adalah tim besar dengan reputasi tinggi.
Berita Terkait
“Saya merasa bangga pada para pemain saya, dan apa yang telah mereka lakukan. Mereka melakukannya dengan bermartabat dan berani,” tegasnya.
Ia juga mencoba membingkai duel ini dalam konteks kualitas Argentina sebagai juara dunia. Menurut Bubista, kemenangan tim lawan menunjukkan bahwa Argentina memang unggul dalam banyak aspek permainan.
“Saya rasa Argentina menunjukkan mengapa mereka adalah juara dunia. Saya rasa saya bisa mengatakan bahwa tim kami menunjukkan betapa bersemangatnya mereka untuk memainkan pertandingan ini.”
Keberanian Cape Verde juga tampak dari kemampuan mereka membuat pertandingan berlanjut hingga perpanjangan waktu. Hal itu menjadi sorotan ketika kinerja pemain-pemainnya mampu memecah dominasi Argentina.
Bek veteran Cape Verde, Sidny Lopes Cabral, menyampaikan pandangan serupa terkait karakter tim. Ia menilai hanya sedikit tim yang mampu mencapai momen seperti itu ketika menghadapi Argentina.
“Saya rasa tidak ada tim lain yang mampu mencetak dua gol melawan Argentina dan membawa pertandingan ke babak perpanjangan waktu. Saya pikir itu menunjukkan karakter tim kami, betapa terampilnya tim kami.”
Bagi Cabral, dua gol tersebut bukan kebetulan semata. Ia melihatnya sebagai bukti bahwa Cape Verde memiliki daya saing dan kemampuan menghadang momen-momen kunci yang biasanya menjadi milik tim besar.
“Mereka melakukannya dengan berani dan kita tidak pernah kehilangan identitas kita,” lanjut Bubista yang senada dengan penilaian Cabral mengenai ruh permainan tim.
Cabral merayakan gol kedua Cape Verde dalam laga yang dimainkan di Stadion Miami, Miami Gardens. Pertandingan tersebut berlangsung pada 3 Juli 2026, saat kedua tim beradu taktik di level tertinggi.
Sepanjang turnamen, Bubista menegaskan bahwa kehadiran Cape Verde bukan hanya soal strategi di lapangan. Bagi mereka, ada tujuan yang lebih luas: membawa semangat dari bangsa kepulauan itu.
Ia melihat setiap laga sebagai kesempatan untuk menguatkan identitas tim, sekaligus menunjukkan bahwa Cape Verde mampu melawan tim-tim besar dengan cara yang bermartabat. Meski tersingkir setelah kekalahan dramatis 2-3, pesan yang ditinggalkan tetap jelas: proses yang sedang bertumbuh akan terus membentuk masa depan tim.
Dengan hasil yang membuat Argentina harus melewati perpanjangan waktu, Cape Verde berhasil meninggalkan jejak yang tidak mudah dilupakan. Pertandingan itu menjadi bukti bahwa karakter, jiwa, dan keberanian dapat membawa sebuah tim melampaui ekspektasi, bahkan saat akhirnya tidak meraih kemenangan.












