jurnalistik.co.id – Langkah Cape Verde di Piala Dunia 2026 berakhir menyakitkan setelah kalah dari juara bertahan Argentina pada laga yang panas hingga perpanjangan waktu, dengan skor 3-2 di Miami. Kendati tersingkir, penampilan mereka meninggalkan kesan mendalam—bukan hanya soal hasil, tetapi juga keberanian menghadapi tim sekelas kampiun.
Tim berjuluk “Blue Sharks” datang sebagai debutan sekaligus negara dengan ukuran terkecil di ajang ini, namun justru mampu menjadi salah satu pusat perhatian. Di tengah sorotan yang biasanya langsung menempel pada nama-nama besar, Cape Verde membuat publik menaruh fokus pada aksi kolektif dan momen-momen yang sulit dilupakan.
Sejak fase awal, mereka sudah menunjukkan potensi melalui pencapaian di Grup. Cape Verde meraih poin pertama di Piala Dunia lewat keberanian di gawang saat melawan Spanyol, lalu memperlihatkan daya gedor saat mencetak gol pertama mereka di turnamen ketika menghadapi Uruguay. Pada laga-laga berikutnya, termasuk upaya mereka melawan Argentina, ketegangan tetap terasa hingga akhir.
Dalam pertandingan melawan Argentina, Cape Verde sempat tertinggal lebih dulu setelah gol Lionel Messi membuat skor berubah. Namun mereka tidak menyerah. Cape Verde mampu menyamakan kedudukan menjadi 1-1, lalu memaksa pertandingan berlangsung lebih lama hingga perpanjangan waktu.
Tidak berhenti di sana, Argentina kembali unggul—tetapi Cape Verde sekali lagi merespons. Sidny Lopes Cabral mencetak gol yang kemudian membuat pertandingan kembali setara, membawa kedudukan ke momen penentu sebelum akhirnya ketentuan berbicara di ujung perpanjangan waktu. Pada akhirnya, Argentina lolos lewat gol yang melibatkan defleksi, ketika Diney Borges terkena pantulan dari sundulan Cristian Romero, yang membuat Cape Verde harus menerima skor akhir 3-2.
“Cape Verde have lost, but they’ve won,” kata James McFadden, mantan pemain internasional Skotlandia, dalam penilaian yang menekankan karakter tim. Ia menyebut Cape Verde menampilkan keberanian, kebersamaan, persatuan, serta keyakinan yang tak goyah tentang apa yang bisa mereka lakukan.
Faktanya, perjalanan Cape Verde di turnamen memang jauh dari anggapan awal. Mereka masuk sebagai tim peringkat 67 dunia, lalu harus melewati tugas raksasa untuk menciptakan salah satu kejutan terbesar Piala Dunia. Di laga perdana grup, mereka bahkan menahan Spanyol, jawara Eropa, dengan skor 0-0—hasil yang menjadi fondasi mental sebelum menghadapi lawan-lawan besar.
Berita Terkait
Menjelang akhir pertandingan, manajer Cape Verde, Bubista, tetap menyampaikan kebanggaan meski timnya tersingkir. Ia menegaskan bahwa timnya mampu memperlihatkan kemampuan melawan tim-tim terbaik di dunia, serta menyebut pencapaian ini sebagai sejarah bagi negaranya. Bubista juga menyatakan bahwa mereka hampir memaksa Argentina masuk ke adu penalti, hanya bersisa sekitar 10 menit dari skenario tersebut.
Roberto “Pico” Lopes, yang bermain penuh di keempat pertandingan Cape Verde, turut menilai turnamen sebagai pengubah peta. Ia mengatakan bahwa salah satu hal terbaik dari Piala Dunia adalah ketika orang tidak lagi sekadar bertanya posisi Cape Verde di peta—karena sejarah mereka sudah “memasang” nama negara itu pada perhatian global.
Penampilan yang sama juga berdampak pada cara orang menilai peluang dan ukuran tim. Gary Neville, yang berbicara untuk ITV, menyebut performa Cape Verde sebagai salah satu yang terhebat yang pernah ia lihat dari tim underdog. Ia menambahkan bahwa para pemain begitu emosional karena mereka tidak ingin beranjak pulang, dan momen seperti ini sangat jarang datang dalam karier.
Neville juga mengaitkan hasil ini dengan perluasan turnamen yang sempat menjadi topik perbincangan sebelum kompetisi dimulai. Baginya, pengalaman Cape Verde menjadi bukti bahwa skeptisisme tidak lagi relevan: ketika kesempatan diberikan, tim kecil pun bisa hadir di panggung terbesar dan berbenturan langsung dengan tim-tim penuh bintang.
Di sisi lain, Ian Wright menyoroti peran dukungan dari FIFA. Ia menilai, seharusnya dana yang tersedia dapat menjangkau semua pihak agar lebih banyak momen seperti Cape Verde bisa lahir di berbagai belahan dunia. Ia menilai upaya Cape Verde sebagai kerja keras yang luar biasa, sesuatu yang idealnya dihasilkan oleh sebuah turnamen global.
Selain performa tim, nama penjaga gawang Vozinha ikut menjadi ikon. Ia sempat viral setelah memperlihatkan momen menangis, sebelum kemudian mengangkat bendera Cape Verde dengan bangga usai menahan Spanyol pada laga awal grup. Namun reputasinya tidak dibangun dari satu gambar saja—penampilannya benar-benar menegaskan nilai tersebut.
Vozinha, yang berusia 40 tahun, saat ini tidak memiliki klub setelah kontraknya dengan Chaves di divisi dua Liga Portugal berakhir. Meski demikian, Neville yakin ia akan segera mendapatkan klub yang layak karena ketenangan dan cara bermain Vozinha yang terus konsisten. Dalam laga di Miami, ia melakukan delapan penyelamatan, dan secara total mengakhiri turnamen dengan 18 saves—terbanyak ketiga di turnamen, tepat di bawah Eloy Room (Curacao) yang mengoleksi 20 penyelamatan dan Orlando Gill (Paraguay) dengan 19 penyelamatan.
Di balik hasil akhir, Cape Verde berhasil menunjukkan bahwa ukuran negara bukan jaminan untuk tetap berada di pinggir panggung. Mereka pulang dengan luka, tetapi juga dengan sesuatu yang lebih besar: keyakinan yang terbukti bergerak dari lapangan ke hati banyak orang, termasuk lewat pertandingan yang begitu dekat dengan kejutan besar melawan juara bertahan.












