jurnalistik.co.id – China dinilai memiliki posisi unik sebagai pusat manufaktur yang sangat kuat—hingga Joe Ngai, Ketua firma konsultan McKinsey Greater China, menyebutnya sebagai “gym terkuat di dunia”. Pernyataan itu disampaikan dalam konteks banyak perusahaan multinasional yang sedang berupaya mengurangi ketergantungan terhadap China dan mencari basis produksi alternatif.
Ngai menyoroti bahwa strategi seperti diversifikasi rantai pasok dan pengurangan risiko memang terus dijalankan perusahaan. Namun, ia berpendapat langkah tersebut belum berhasil menghadirkan pengganti yang setara dengan China.
Dalam wawancara dengan majalah keuangan Amerika Serikat, Fortune, Ngai mengatakan perusahaan mungkin mencoba melakukan diversifikasi atau mengurangi ketergantungan dari China, tetapi hasilnya tidak mudah disamakan dengan negara lain. Ia menegaskan bahwa tidak ada negara yang bisa menggantikan peran China secara menyeluruh.
“Anda mungkin mendengar perusahaan mencoba mendiversifikasi atau mengurangi ketergantungan dari China. Namun Anda tidak akan menemukan China yang lain. Tidak ada negara lain seperti China saat ini,” kata Ngai.
Menurut Ngai, julukan “tempat gym terkuat di dunia” muncul karena tingkat persaingan yang sangat tinggi. Persaingan itu, menurut dia, memaksa perusahaan untuk terus berinovasi serta meningkatkan daya saingnya.
Ngai juga menegaskan bahwa pandangannya tidak berarti negara-negara lain tidak punya potensi pertumbuhan. Tetapi, ia melihat belum ada negara yang mampu menyatukan sejumlah keunggulan China sekaligus, terutama dalam manufaktur, ukuran pasar, dan inovasi teknologi.
Ekosistem industri yang saling terhubung
Ia menggambarkan China telah membangun sistem industri yang lengkap selama puluhan tahun. Sistem tersebut mencakup penyediaan bahan baku, komponen inti, hingga proses produksi barang jadi.
Dengan struktur yang terintegrasi seperti itu, proses produksi bisa berlangsung lebih efisien. Pada saat yang sama, ekosistem tersebut dinilai turut mendukung pengembangan manufaktur berteknologi tinggi.
Dominasi tersebut juga disebut terlihat dalam laporan terbaru World Economic Forum (WEF). Dari 16 perusahaan baru yang masuk dalam jaringan Global Lighthouse Network, delapan di antaranya berasal dari China.
Selain itu, Ngai menyebut Shenzhen dan Provinsi Guangdong telah bertransformasi dari sekadar “pabrik dunia” menjadi bagian dari pusat standar industri global. Perubahan tersebut memperkuat posisinya sebagai ekosistem yang bukan hanya memproduksi, tetapi juga mendorong standar dan arah pengembangan industri.
Berita Terkait
Inovasi dan mesin pertumbuhan masa depan
McKinsey menilai kekuatan China juga ditopang oleh ekosistem inovasi yang matang. Perusahaan konsultan tersebut menyebut ada empat sektor yang diperkirakan menjadi mesin pertumbuhan masa depan, yaitu infrastruktur kecerdasan buatan (AI), elektrifikasi, smart hardware, dan digitalisasi.
Penekanan pada empat area itu hadir bersamaan dengan upaya perusahaan memperbarui teknologi dan memperbaiki kualitas produk. Ngai menekankan bahwa perusahaan mendapat dorongan dari persaingan yang tinggi di pasar China.
Ia menambahkan bahwa konsumen di China dikenal cepat menerima produk dan teknologi baru. Kondisi tersebut membuat produsen dituntut untuk memperbarui teknologi sekaligus meningkatkan kualitas.
Dalam gambaran operasional di lapangan, terdapat aktivitas produksi di kawasan industri. Foto AFP menunjukkan para karyawan yang bekerja di jalur produksi penyedot debu di Perusahaan Teknologi Peralatan Listrik Rimoo di Foshan, Provinsi Guangdong, pada 28 April 2026.
Keterangan foto tersebut menyebut bahwa penyedot debu dan vape bisa menjadi lebih mahal apabila perang Iran berlarut-larut lebih lama. Fakta ini menjadi pengingat bahwa dinamika geopolitik juga dapat berpengaruh pada rantai pasok dan harga produk.
Pasar domestik dan rantai pasok yang terintegrasi
Ngai juga mengaitkan kekuatan China dengan dua faktor: rantai pasok yang terintegrasi dan besarnya pasar domestik. Menurutnya, ukuran pasar memungkinkan perusahaan mengembangkan, menguji, serta menyempurnakan teknologi baru dalam skala yang sulit ditandingi negara lain.
Dari sisi persaingan, ia melihat bahwa situasi pasar yang ketat justru mendorong perusahaan bertumbuh melalui inovasi. Perusahaan dituntut untuk terus mengevaluasi teknologi yang dipakai dan menyesuaikan pendekatan produksi agar tetap relevan.
Dalam pandangan Ngai, kondisi itu menjelaskan mengapa upaya perusahaan multinasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap China tidak otomatis menghasilkan pengganti yang sama kuat. Ia menyatakan bahwa sekalipun strategi diversifikasi dilakukan, China tetap sulit ditandingi karena kombinasi faktor yang saling menguatkan.
Dengan demikian, julukan “gym terkuat di dunia” yang disampaikan Ngai bukan merujuk pada pusat kebugaran, melainkan pada ekosistem manufaktur dan inovasi yang menekan persaingan sekaligus mempercepat pembaruan teknologi. Pernyataan itu juga menempatkan WEF, melalui data Global Lighthouse Network, sebagai salah satu rujukan untuk menggambarkan konsentrasi perusahaan baru di China.
Di akhir, Ngai menegaskan bahwa China saat ini belum memiliki negara lain yang bisa menandingi kombinasi kekuatannya. Ia menempatkan persaingan tinggi, ekosistem industri yang lengkap, serta inovasi dalam empat sektor masa depan sebagai alasan utama yang membuat posisi China tetap sulit digantikan.












