Pendidikan

SPMB 2026 di Solo: SDN Tegalayu Menerima 5 Calon Siswa, Apa Pemicunya?

×

SPMB 2026 di Solo: SDN Tegalayu Menerima 5 Calon Siswa, Apa Pemicunya?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: SDN Tegalayu Solo Hanya Dapat 5 Pendaftar di SPMB 2026, Ini Faktor Penyebabnya

jurnalistik.co.id – SDN Tegalayu di Solo, Jawa Tengah, mencatat situasi penerimaan murid baru yang jauh lebih sepi dibanding periode sebelumnya. Pada SPMB 2026, sekolah ini hanya menerima lima calon siswa baru hingga masa pendaftaran ditutup.

SDN Tegalayu beralamat di Jalan Sinuwun Nomor 24, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Laweyan, Kota Solo. Pendaftaran SPMB berhenti pada Kamis (2/7/2026), dan jumlah pendaftar yang masuk sampai batas waktu tersebut hanya mencapai lima orang.

Ketua SPMB SDN Tegalayu, Arie Wibowo, menjelaskan bahwa dari lima calon siswa baru itu, dua di antaranya berasal dari jalur afirmasi. Sementara tiga lainnya masuk dari jalur zonasi atau domisili.

Dalam penerimaan tersebut, SDN Tegalayu menampung satu rombongan belajar (rombel) dengan kuota 28 anak. Artinya, realisasi pendaftar yang masuk tidak memenuhi jumlah kuota yang disediakan sekolah.

Arie menilai penurunan itu terlihat jelas bila dibanding tahun lalu. “Kalau sama tahun lalu, jelas penurunan. Karena tahun lalu kita dapat 18 siswa baru, kemudian tahun ini baru 5 anak,” kata Arie saat ditemui di SDN Tegalayu, Jumat (3/7/2026).

Letak sekolah berubah, minat pendaftar ikut bergeser

Menurut Arie, minimnya minat pendaftar tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi sejumlah faktor yang berkaitan dengan perubahan lingkungan sekitar sekolah. Salah satunya adalah letak SDN Tegalayu yang dulunya dikenal sebagai perkampungan padat.

Seiring waktu, kawasan di sekitar sekolah berkembang menjadi area usaha, pertokoan, hotel, serta aktivitas komersial. Perubahan tersebut membuat karakter lingkungan yang dulunya lebih “pemukiman” berangsur bergeser menjadi area yang ramai oleh aktivitas bisnis.

“Kemudian kampung sini juga sebenarnya mengecil karena perluasan tempat usaha. Jadi, sebagian itu kan tanah warga dialihfungsi, dibeli sama pemilik usaha yang besar di samping sekolah . Kemudian warganya banyak yang pindah itu,” terangnya.

Arie menambahkan, sejumlah pendaftar yang tetap memilih SDN Tegalayu datang dari mantan siswa yang telah memiliki keluarga. Mereka memilih menyekolahkan anaknya kembali di lokasi yang sama karena hubungan kedekatan dengan lingkungan sekolah.

Sebelum pandemi Covid-19 dan penerapan sistem zonasi, SDN Tegalayu disebut termasuk sekolah yang cukup diminati. Pada masa itu, sekolah mampu meraih sekitar 28 hingga 32 siswa per rombel, jauh di atas kondisi penerimaan pada SPMB 2026.

Persaingan sekolah negeri favorit dan swasta berciri agama

Selain perubahan lingkungan, Arie juga menyoroti ketatnya persaingan dengan sekolah negeri yang dianggap “favorit” oleh masyarakat. Di sekitar SDN Tegalayu terdapat sekolah yang disebut memiliki reputasi besar, sehingga sebagian calon peserta didik mengalihkan pilihan.

“Beberapa sekolah negeri yang oleh masyarakat disebut sekolah favorit ya, besar. Misalnya SD Mangkubumen Lor, Mangkubumen Kidul. Kemudian untuk swastanya, kebetulan swasta yang berciri agama Islam itu kan misalnya Muhammadiyah Program Khusus, kemudian Takmirul, DYI. Jadi, di sekeliling kita itu memang mungkin berpengaruh gitu,” jelasnya.

Dengan adanya sekolah-sekolah tersebut yang jaraknya relatif tidak jauh, SDN Tegalayu menghadapi tantangan untuk mempertahankan minat pendaftar. Perubahan preferensi masyarakat ini kemudian turut berpengaruh pada jumlah pendaftar yang masuk pada gelombang penerimaan terbaru.

Upaya jemput bola, promosi, dan pendekatan ke pemangku wilayah

Menanggapi kondisi tersebut, sekolah melakukan upaya jemput bola untuk mendekatkan diri kepada calon siswa. Tim sekolah mendatangi taman kanak-kanak (TK) sekitar sebagai salah satu bentuk pendekatan langsung.

Selain itu, sekolah juga menggelar promosi saat kegiatan Car Free Day (CFD). “Kemudian pendekatan dengan pemerintahan, dengan kelurahan. Ya semampu kami, seusaha maksimal sudah kita lakukan,” katanya.

Upaya tersebut dilakukan agar informasi mengenai layanan sekolah lebih mudah dijangkau calon pendaftar. Namun, Arie menilai masih ada tantangan lain yang sulit dihindari, yaitu perubahan dinamika demografi di lingkungan.

Penurunan populasi turut menekan jumlah pendaftar

Arie menyebut tren keluarga yang memilih memiliki satu hingga dua anak turut berdampak pada ketersediaan calon siswa pada usia sekolah dasar. Penurunan jumlah anak dalam satu periode membuat sekolah tidak hanya bersaing secara pilihan, tetapi juga menghadapi basis calon siswa yang lebih kecil.

Praktis, kondisi pendaftar yang minim kemudian berpengaruh pada besaran dana Bantuan Operasional (BOS) sekolah. Dengan penerimaan yang tidak memenuhi kuota, sekolah perlu menyesuaikan rencana kegiatan agar tetap sesuai dengan dana yang tersedia.

Dengan demikian, kasus SDN Tegalayu pada SPMB 2026 menggambarkan persoalan yang bersifat berlapis: perubahan lingkungan sekitar sekolah, persaingan dengan sekolah lain, hingga faktor demografi yang menurunkan jumlah calon peserta didik baru. Dalam situasi seperti ini, sekolah dituntut mengombinasikan strategi promosi dengan penataan prioritas kegiatan agar operasional tetap berjalan.