Bisnis & Ekonomi

Kemenperin Perkuat Industri Kerajinan Berbasis Sawit untuk Dorong Ekonomi Sirkular

×

Kemenperin Perkuat Industri Kerajinan Berbasis Sawit untuk Dorong Ekonomi Sirkular

Sebarkan artikel ini
Kemenperin Perkuat Industri Kerajinan Berbasis Sawit untuk Dorong Ekonomi Sirkular Money 25 Juni 2026
Ilustrasi: Kemenperin Perkuat Industri Kerajinan Berbasis Sawit untuk Dorong Ekonomi Sirkular

jurnalistik.co.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengembangan industri kerajinan berbasis kelapa sawit sebagai upaya meningkatkan daya saing industri kreatif nasional, membuka peluang usaha baru, serta mendukung penerapan ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Langkah ini diarahkan untuk memperkuat rantai pasok sekaligus menghadirkan jalur usaha yang bisa ditopang oleh pemanfaatan bahan baku dalam negeri. Dengan pendekatan tersebut, diharapkan nilai ekonomi dari sektor hulu dapat mengalir lebih luas ke pelaku industri dan masyarakat.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut industri kerajinan memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena mampu menghasilkan nilai tambah tinggi, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat perekonomian daerah.

“Industri kerajinan merupakan sektor yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan karena mampu menciptakan nilai tambah tinggi, memperluas kesempatan kerja, serta memperkuat ekonomi daerah,” ujar Agus Gumiwang dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Penguatan ekosistem dan inovasi produk

Menurut Agus Gumiwang, pemerintah terus memperkuat ekosistem industri kerajinan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), pengembangan inovasi produk, serta perluasan akses pasar bagi pelaku usaha.

Pengembangan tersebut juga diarahkan untuk memaksimalkan pemanfaatan bahan baku dalam negeri. Tidak hanya berbasis bahan utama, Kemenperin menekankan pemanfaatan limbah dan produk samping kelapa sawit agar sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular.

Dengan memaksimalkan bahan baku dan mengoptimalkan penggunaan hasil samping industri, pemerintah menilai pendekatan ini dapat memperkuat rantai pasok. Pada saat yang sama, peluang usaha berkelanjutan diharapkan turut terbuka bagi masyarakat.

Performa ekspor dan kebutuhan kolaborasi

Kemenperin mencatat nilai ekspor industri kerajinan Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 165,27 juta dolar AS atau sekitar Rp2,97 triliun. Nilai tersebut meningkat 4,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan kinerja ekspor ini, menurut Kemenperin, mencerminkan meningkatnya minat pasar internasional terhadap produk kerajinan Indonesia. Di tengah permintaan global yang bergerak, penguatan daya saing menjadi kunci agar peluang tersebut bisa terus dimanfaatkan.

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin Emmy Suryandari mengatakan peningkatan daya saing industri kerajinan nasional membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan.

Menurutnya, pengembangan keterampilan, pemanfaatan bahan baku alternatif, serta penerapan prinsip ekonomi sirkular menjadi faktor penting untuk menghasilkan produk kerajinan bernilai tambah tinggi dan berkelanjutan.

“Pengembangan keterampilan, pemanfaatan bahan baku alternatif, serta penerapan prinsip ekonomi sirkular menjadi faktor penting dalam menciptakan produk kerajinan yang bernilai tambah tinggi dan berkelanjutan,” kata Emmy.

Workshop anyaman dan kertas seni berbasis sawit

Sebagai bagian dari penguatan industri kerajinan nasional, Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Samarinda bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan menyelenggarakan Workshop Kerajinan Anyaman dan Kertas Seni Berbasis Kelapa Sawit di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

Kegiatan yang berlangsung pada 22–26 Juni 2026 didanai penuh oleh BPDP melalui program ekonomi hijau berbasis sawit. Program ini bertujuan meningkatkan nilai ekonomi produk kerajinan melalui pemanfaatan limbah dan produk samping kelapa sawit oleh industri kecil dan menengah (IKM).

Workshop diikuti oleh 30 pelaku usaha kerajinan dari Kabupaten Bulungan, Malinau, Nunukan, dan Tana Tidung. Para peserta mendapatkan pelatihan teori dan praktik pembuatan kerajinan anyaman serta kertas seni, dengan memanfaatkan limbah dan produk samping kelapa sawit sebagai bahan baku utama.

Kepala BSPJI Samarinda Ransi Pasae mengatakan pengembangan kerajinan berbasis limbah sawit menjadi salah satu strategi untuk mewujudkan ekonomi sirkular di wilayah perkebunan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Pemanfaatan limbah dan produk samping kelapa sawit menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi merupakan langkah nyata dalam mendukung industri yang berkelanjutan. Selain mengurangi limbah, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan produk-produk kreatif unggulan yang dapat memperkuat perekonomian daerah,” ujarnya.

Melalui rangkaian penguatan ekosistem, peningkatan kapasitas pelaku, hingga program pelatihan berbasis limbah sawit, Kemenperin menempatkan kerajinan sebagai sektor yang dapat tumbuh dengan cara yang lebih berkelanjutan. Pendekatan ekonomi sirkular diharapkan tidak hanya memperbaiki pengelolaan bahan, tetapi juga memperluas kesempatan usaha di tingkat lokal.

Langkah ini juga sejalan dengan upaya memperkuat nilai tambah dari industri yang saling terhubung. Ketika limbah dan produk samping diolah menjadi produk bernilai, rantai pasok menjadi lebih efisien dan peluang kerja baru bisa terbuka melalui aktivitas industri kreatif.