jurnalistik.co.id – Dua hal menonjol ketika Andy Burnham diamati dalam kampanye pemilihan sela yang baru-baru ini berjalan dan dalam kira-kira sepuluh hari setelahnya. Pertama, Burnham terlihat menikmati panggung publik: ia nyaman berada di ruang yang mempertemukan publik dengan mikrofon, kamera, dan ritme acara yang menuntut ketangkasan saat situasi berubah. Ia juga tampak percaya diri untuk keluar dari naskah dan berimprovisasi merespons perkembangan yang terjadi di lapangan.
Kedua, ada cara yang sama kuatnya ketika ia “melakukan urusan visi”. Ia menyusun gagasan tentang arah yang menurutnya dapat membawa masyarakat menuju kondisi yang lebih baik, sekaligus menjelaskan alasan mengapa ia yakin bisa memimpin ke sana. Di titik ini, banyak orang menilai gaya politik Burnham tidak hanya berbicara soal pemerintahan, tetapi juga tentang narasi besar yang ia yakini akan membentuk perubahan.
Seorang anggota parlemen dari Partai Buruh menyampaikan pujian yang menangkap kontras tersebut. Ia mengatakan, “A leader with politics and vision. Quite something,” sambil menyiratkan perbandingan dengan Sir Keir Starmer. Bagi sebagian figur Buruh, perbedaan seperti ini dianggap cukup nyata untuk dibandingkan, setidaknya dari sudut pandang dua elemen yang sama: kemampuan tampil di ruang publik dan keberanian menghadirkan visi.
Namun, pertanyaan yang lebih menentukan adalah apakah itu saja cukup untuk membuat pemerintahan berhasil. Evaluasi semacam itu pada akhirnya akan bergantung pada bagaimana gagasan Burnham diterjemahkan menjadi kebijakan, eksekusi, dan hasil nyata.
Di sisi lain, ada pula elemen perdebatan dalam gaya kepemimpinan Starmer yang dijadikan bahan rujukan. Para penulis biografi dan kronik perjalanan Starmer—Patrick Maguire dan Gabriel Pogrund—mengutip Starmer menyatakan, “There is no such thing as Starmerism and there never will be,” dalam buku berjudul Get In: The Inside Story of Labour and the Starmer Project. Kalimat yang setara dengan itu, menurut pengamatan, tidak akan mudah ditemukan dalam gaya Burnham.
Selama masa di mana Starmer dipandang sebagai sosok yang pragmatis dan tidak terikat oleh ideologi tertentu atau terlalu kaku pada cara pandang yang terlalu spesifik, kritik internal tetap bergerak. Di ruang-ruang internal, keluhan yang muncul belakangan adalah bahwa Starmer tidak selalu mampu mengartikulasikan keyakinannya dengan jelas. Karena itu, ketika Burnham terlihat setidaknya memiliki pegangan yang lebih tegas pada gagasan besar, sejumlah pengamat menyebut muncul perasaan lega—bahkan kegembiraan.
Gambaran tersebut tidak selalu ada dalam penilaian terhadap Burnham. Pada satu dekade sebelumnya, setelah ia kalah dalam pertarungan kepemimpinan Buruh yang kedua, para pengkritik sempat bercanda soal indecision dan kecenderungannya mengubah pikiran. Beberapa pola kritik itu kemudian muncul lagi, tetapi dengan bentuk yang berbeda, misalnya terkait perubahan sikap atau pandangan dalam isu Waspi women campaign, aturan pinjaman pemerintah (borrowing rules), serta hak-hak trans.
Meski begitu, ada penjelasan lain yang ikut membentuk cara Burnham kini dipahami. Masa ketika ia menjadi Wali Kota Greater Manchester memberi waktu untuk mengembangkan, menguji, dan merapikan pandangan politik yang kemudian ingin ia perluas untuk tingkat nasional. Dalam kerangka itu, gagasan devolution menempati posisi sentral—yakni dorongan untuk memindahkan kekuatan dari Westminster ke tingkat yang lebih dekat dengan wilayah.
Beberapa tahun lalu, Burnham menjadi co-author bersama Steve Rotheram, wali kota Liverpool City Region, dalam sebuah buku berjudul Head North. Buku itu belakangan disebut kembali “diperam ulang” oleh kalangan di London, seolah-olah menjadi tempat mencari petunjuk tentang naluri Burnham dan sejauh mana apa yang ia dorong sebelumnya benar-benar akan dikerahkan jika ia memimpin pemerintahan.
Dalam Head North, Burnham menunjuk contoh pembentukan pascaperang di Jerman. Ia menyinggung bagaimana pihak sekutu—termasuk Inggris—“drew up boundaries for the new German state in a bid to prevent a future concentration of political power in Berlin.” Dalam uraian yang ia kutip, wilayah-wilayah tersebut, atau Lander, “were given a high degree of autonomy.”
Ia juga menyebut adanya langkah hukum yang dirancang untuk memastikan standar hidup yang sebanding antarwilayah. Dari titik itu, Burnham mengajak pembaca membayangkan bagaimana Inggris mungkin tampak jika negara melakukan langkah serupa. Argumennya sederhana namun tegas: jika UK menempuh jalur yang memperkuat otonomi regional dan menyetarakan kualitas hidup, maka peta politik dan pemerintahan dapat mengambil bentuk yang berbeda.
Menurut pandangan Burnham, kegagalan yang terjadi bukan pada gagasan pemekaran kuasa itu sendiri, melainkan pada praktiknya. Ia berpendapat bahwa baik pemerintahan Partai Buruh maupun Konservatif tidak memberi kewenangan yang cukup kuat kepada para pemimpin yang menjalankan urusan di level devolusi.
Meski mengajukan kritik, ada pengakuan bahwa sistem konstitusional sebelumnya juga pernah bergerak. Pemerintahan Buruh terakhir, misalnya, membentuk badan-badan devolusi di Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara, serta memiliki wali kota London. Sementara itu, pemerintahan Konservatif terakhir disebut mempercepat ide wali kota yang dipilih di berbagai wilayah Inggris. Dengan kata lain, tidak semua hal dimulai dari nol, tetapi pertanyaannya tetap: apakah retorika Burnham akan terbayar melalui tindakan saat ia berada di kursi kekuasaan.
Pidatonya di Manchester pada hari Senin dipandang oleh timnya sebagai “foundational text” dari program pemerintahan. Visi yang ia tampilkan disebut luas dan berani, tetapi tantangannya terletak pada langkah berikutnya: menguraikan detail, lalu memastikan perubahan yang terasa diukur waktunya, bukan hanya menjadi slogan. Tekanan itu makin terasa karena waktu tidak tersedia seperti yang diharapkan, sementara politik berhadapan dengan suasana yang rapuh dan penonton yang cepat bosan—termasuk pemilih yang tidak sabar serta situasi politik yang terpecah.
Dengan segala ambisi yang sudah dipelihara selama bertahun-tahun, momen menuju pintu masuk pemerintahan—“final dash to the door”—diperkirakan tinggal hitungan hari. Jika tidak ada penantang, perkiraan paling dekat adalah dua minggu setelah hari Senin. Dalam rentang singkat itulah Burnham dituntut untuk benar-benar merapikan gagasan menjadi rencana yang siap dijalankan.












