jurnalistik.co.id – Jakarta — Startup ClickUp dilaporkan memangkas 22% dari total pekerjanya di tengah era industri yang makin menonjolkan investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dengan klaim mampu mendorong produktivitas. Langkah itu menjadi sorotan karena dilakukan ketika banyak perusahaan justru berlomba memperkuat penggunaan AI dalam operasi bisnis mereka.
CEO ClickUp, Zeb Evans, menyampaikan bahwa pergeseran dunia kerja dan momentum kemunculan AI sudah berada di “ujung pintu”. Dalam unggahannya di media sosial X pada Selasa (26/5/2026), Evans menegaskan bahwa kehadiran teknologi ini bukanlah bagian dari upaya penghematan biaya. Menurut dia, keputusan melakukan PHK lebih tepat dipahami sebagai cara menerima realitas AI yang ekstrem dan sekaligus menandai fase berikutnya bagi perusahaan.
Pernyataan itu menempatkan pemangkasan karyawan ClickUp dalam konteks yang berbeda dari alasan PHK pada umumnya. Bukan semata karena efisiensi biaya, kata Evans, melainkan karena perusahaan sedang menyesuaikan diri dengan perubahan besar yang dibawa AI. Dengan begitu, PHK di ClickUp disebutnya sebagai bagian dari penyesuaian terhadap gelombang baru teknologi yang sedang membentuk ulang cara kerja.
Evans juga menyoroti bahwa karyawan yang bertahan di era pemecatan akibat AI justru berada dalam posisi yang menjanjikan. Ia menyebut, mereka yang mampu memberikan dampak luar biasa melalui pemanfaatan AI akan memperoleh imbalan yang berbeda dari pola pengupahan tradisional. Dalam unggahan yang sama, ia menulis: “Jika Anda menciptakan dampak yang luar biasa dengan menggunakan AI, Anda akan dibayar di luar rentang gaji tradisional,” tulis Evans.
Ucapan itu memperjelas pandangan ClickUp bahwa AI bukan sekadar alat bantu tambahan, melainkan faktor yang ikut mengubah struktur kerja dan cara perusahaan menghargai kontribusi karyawannya. Dalam kerangka pandang tersebut, nilai seseorang di tempat kerja tampaknya semakin dikaitkan dengan kemampuan memaksimalkan teknologi baru, bukan hanya dengan pola kerja konvensional yang selama ini berlaku.
Di saat banyak perusahaan berbicara tentang efisiensi, produktivitas, dan percepatan kerja berkat AI, langkah ClickUp memperlihatkan sisi lain dari perubahan itu. Ada penyesuaian tenaga kerja, ada perubahan ekspektasi terhadap peran karyawan, dan ada pula dorongan agar pekerja yang tersisa bisa memberikan dampak yang lebih besar dengan bantuan AI. Semua itu menunjukkan bahwa teknologi ini bukan hanya menghadirkan peluang, tetapi juga tekanan baru di dunia kerja.
PHK 22% pekerja di ClickUp pun menjadi contoh terbaru bagaimana kemajuan AI ikut menggeser peta ketenagakerjaan di sektor teknologi. Evans menggambarkan situasinya sebagai fase besar yang sedang terjadi di depan mata, bukan sesuatu yang masih jauh. Dengan bahasa yang tegas, ia menempatkan AI sebagai kekuatan yang sudah berada tepat di ambang pintu dan akan segera mengubah lebih banyak hal di dalam perusahaan.
Bagi ClickUp, langkah tersebut tampaknya dimaksudkan sebagai sinyal bahwa perusahaan ingin bergerak mengikuti arah perubahan, bukan melawannya. Bagi para pekerja, pernyataan Evans memberi gambaran bahwa kompetensi di era AI akan dinilai semakin tinggi, terutama bagi mereka yang bisa menunjukkan hasil besar. Namun, di balik narasi optimisme itu, tetap ada kenyataan bahwa 22% pekerja perusahaan harus keluar dari organisasinya di tengah gelombang transformasi teknologi yang terus berkembang.
Dengan demikian, cerita ClickUp menjadi satu lagi contoh kelam dari dampak AI terhadap dunia kerja. Di satu sisi, perusahaan mengklaim teknologi ini mendorong produktivitas dan membuka fase baru. Di sisi lain, perubahan itu juga datang bersama pemangkasan tenaga kerja yang nyata. Di tengah euforia AI, keputusan seperti ini memperlihatkan bahwa transisi teknologi tidak selalu berjalan mulus bagi semua pihak yang terdampak.












