jurnalistik.co.id – Di Desa Plumbon, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, sebuah jalan sepanjang sekitar 2,5 kilometer kini membelah kawasan perbukitan dan hutan lebat. Di atas bentang itu pula berdiri dua bangunan jembatan yang selama ini menjadi penanda beralihnya akses menuju lahan pertanian.
Di balik tampilannya yang sederhana, proyek tersebut lahir bukan dari kucuran anggaran pemerintah. Jalan dan jembatan itu dibangun dari ketulusan seorang perempuan lansia bernama Hj Siti Srimulati, yang akrab disapa Hj Siti Sudar, dengan pembiayaan yang berasal dari tabungan pribadinya.
Hj Siti Srimulati, 72 tahun, mengungkapkan niatnya untuk menghadirkan akses yang lebih layak bagi warga setempat sudah muncul sejak lama. Ia mulai memikirkan kebutuhan itu setelah ibu mertuanya meninggal dunia pada tahun 2016.
Perempuan yang bukan warga asli Desa Plumbon tersebut menuturkan bahwa ia telah diterima dengan baik oleh masyarakat. Namun, saat merenung di masa itu, ia merasa belum pernah memberikan sesuatu yang benar-benar bermanfaat secara nyata bagi lingkungan tempat ia tinggal.
“Saya berpikir, saya sudah lama diterima di sini, diterima dengan baik oleh masyarakat, tetapi belum pernah memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk mereka,” kata Hj Siti Srimulati saat ditemui di ujung pembangunan jalan tersebut, Senin (6/7/2026).
Keprihatinannya menguat ketika ia melihat langsung kondisi hutan dan lahan pertanian desa yang sebenarnya menyimpan potensi ekonomi besar. Masalahnya, potensi itu tidak mudah dimaksimalkan karena akses jalur darat yang sangat terbatas membuat warga kesulitan mengelola dan membawa hasil produksi.
Hj Siti Srimulati menceritakan, dahulu untuk mencapai lokasi perkebunan di atas bukit, seorang petani harus berjalan kaki dari pagi buta hingga sore hari. Medan yang berat serta jarak yang panjang membuat banyak lahan produktif akhirnya terbengkalai, karena warga kesulitan mengangkut hasil panen menuju pasar.
Berita Terkait
Saat itu, ia menyadari adanya dua persoalan yang saling terkait: kawasan yang potensial, tetapi tidak memiliki jalan penghubung. Ia kemudian menyampaikan doa dan harapan bahwa bila suatu saat Allah memberi rezeki, ia ingin membantu mewujudkan akses tersebut.
“Saya melihat potensi hutannya bagus, tetapi tidak ada jalan. Saya berdoa, kalau suatu saat Allah memberi rezeki, saya ingin membantu membuat jalan,” katanya.
Kesempatan untuk bergerak datang beberapa tahun kemudian. Hj Siti Srimulati membeli sebidang tanah sawah milik saudaranya yang hendak menjual aset demi menutup biaya menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Menurutnya, proses pembelian itu justru menjadi dorongan yang semakin meneguhkan tekad untuk membuka akses yang lebih luas menuju kawasan pertanian di sekitarnya.
Ketika akhirnya memulai pengerjaan fisik, ia menegaskan bahwa tidak ada langkah untuk mencari sponsor dari korporasi maupun meminta bantuan pihak lain. Semua tahapan pembangunan dijalankan dengan murni memanfaatkan harta tabungan pribadinya, hingga jalan dan dua jembatan tersebut kini bisa digunakan.
Dengan terbukanya jalan penghubung sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer itu, akses warga menuju area perbukitan dan hutan yang selama ini hanya bisa dijangkau dengan jalur sulit menjadi lebih terbaca. Dua bangunan jembatan yang ikut dibangun berfungsi sebagai penanda bahwa perjalanan tidak lagi terhenti di hambatan alam, sehingga ladang dan kawasan pertanian di sekitarnya dapat didekati dengan cara yang lebih sederhana.
Hj Siti Srimulati menekankan bahwa pembenahan akses tersebut berangkat dari pengamatannya langsung terhadap keseharian warga. Saat jalur darat belum tersedia, banyak lahan akhirnya sulit diurus karena hasil produksi tidak mudah dibawa ke tujuan pasar. Kini, ketika jalan sudah dapat dilalui, warga punya ruang lebih baik untuk memanfaatkan kembali potensi yang sebelumnya tidak berkembang secara optimal.
Tekadnya juga lahir dari keyakinan bahwa bantuan tidak harus selalu datang dari pihak luar. Ia memilih menempuh jalan yang ia mampu sendiri, tanpa mengejar dukungan sponsor maupun mencari bantuan korporasi. Proses yang dijalankan dari tabungan pribadi itu, menurutnya, sekaligus menjadi cara untuk menghadirkan manfaat yang benar-benar terasa bagi lingkungan tempat ia tinggal.












