Bisnis & Ekonomi

Efektivitas LCT RI–China: Benarkah Mengurangi Dominasi Dollar AS dan Menstabilkan Rupiah?

×

Efektivitas LCT RI–China: Benarkah Mengurangi Dominasi Dollar AS dan Menstabilkan Rupiah?

Sebarkan artikel ini
Menilik Efektivitas Transaksi Mata Uang Lokal RI-China, Benarkah Dapat Kurangi Dominasi Dollar AS? Money 17 Juni 2026
Ilustrasi: Menilik Efektivitas Transaksi Mata Uang Lokal RI-China, Benarkah Dapat Kurangi Dominasi Dollar AS?

jurnalistik.co.id – Penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi Indonesia–China mulai menunjukkan tanda-tanda hasil. Meski dampaknya belum terlihat besar untuk mengurangi ketergantungan pada dollar Amerika Serikat (AS), kebijakan Local Currency Transaction (LCT) Indonesia–China dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat stabilitas rupiah dalam jangka panjang.

Upaya ini dinilai tak hanya bersifat jangka pendek, tetapi diarahkan untuk mengubah pola transaksi agar pelaku usaha tidak selalu menjadikan dollar AS sebagai perantara. Dengan demikian, risiko yang muncul dari ketergantungan pada satu mata uang dapat ditekan sejak proses pembayaran dilakukan.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyebut kerja sama yang terus diperkuat tersebut sebagai langkah positif. Menurutnya, penguatan skema LCT selaras dengan upaya Bank Indonesia (BI) dan diikuti oleh langkah yang dilakukan Mandiri dalam mendorong transaksi non-dollar.

“Menurut saya langkah Bank Indonesia (BI) dan diikuti kerja sama Mandiri ini sebuah langkah strategis yang sangat positif untuk mendorong transaksi nilai tukar non- dollar AS ,” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (16/6/2026).

Andry menjelaskan bahwa LCT merupakan mekanisme yang memungkinkan transaksi perdagangan dan investasi antara dua negara dilakukan menggunakan mata uang lokal masing-masing, tanpa harus bergantung pada dollar AS sebagai mata uang perantara. Dalam praktik yang lebih konvensional, pelaku usaha di Indonesia umumnya perlu menukar rupiah ke dollar AS terlebih dahulu sebelum pembayaran dilakukan kepada mitra dagang di negara lain.

Pola ini membuat perusahaan menanggung biaya konversi tambahan dan menghadapi risiko fluktuasi kurs dollar. Ketika transaksi bergantung pada dollar sebagai jembatan pembayaran, perubahan nilai tukar dollar berpotensi ikut memengaruhi biaya maupun kepastian nilai pembayaran yang diterima oleh mitra dagang.

Melalui skema LCT, pelaku usaha dapat bertransaksi langsung menggunakan mata uang lokal, misalnya rupiah dan yuan, dalam perdagangan Indonesia–China. Karena pembayaran tidak lagi “melewati” dollar AS, skema ini dapat menekan biaya transaksi serta mengurangi risiko nilai tukar yang terkait dengan pergerakan kurs dollar.

Lebih jauh, Andry menilai kebijakan LCT berpotensi membentuk nilai tukar rupiah yang lebih stabil dalam jangka menengah. Ia menekankan bahwa upaya stabilisasi membutuhkan pengurangan ketergantungan pada satu mata uang tertentu, khususnya dollar AS.

“Untuk memperkuat stabilitas rupiah, kita perlu mengurangi ketergantungan atau risiko konsentrasi terhadap penggunaan satu nilai tukar, contohnya dollar AS . Mendorong LCT dengan China ini adalah upaya untuk mengurangi ketergantungan tersebut, Apalagi kalau kita lihat China merupakan mitra dagang utama Indonesia yang seharusnya memiliki transaksi nilai tukar yang sangat besar,” jelas Andry.

Selain alasan strategis, efektivitas LCT juga dinilai perlu dilihat dari perubahan pola transaksi yang benar-benar terjadi. Dalam penilaian Andry, implementasi LCT Indonesia–China sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda efektivitas.

“Sejauh ini mulai terlihat efektivitasnya dengan mulai meningkatnya penggunaan transaksi renminbi tersebut untuk perdagangan yang direct dengan China,” ungkapnya.

Dengan kata lain, indikator yang ia gunakan bukan hanya wacana kebijakan, melainkan perkembangan penggunaan mata uang lokal—dalam hal ini renminbi atau yuan—untuk perdagangan yang langsung dilakukan dengan China. Peningkatan penggunaan mata uang lokal tersebut menjadi bukti bahwa pelaksanaan skema berjalan dan mulai memberi ruang bagi transaksi yang tidak sepenuhnya bergantung pada dollar AS.

Meski demikian, Andry juga mengingatkan bahwa peningkatan tersebut belum otomatis berarti ketergantungan pada dollar AS langsung berkurang secara tajam. Ia menilai masih ada jarak antara peningkatan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral dan target pengurangan ketergantungan secara signifikan.

“Masih belum mengurangi ketergantungan secara signifikan, namun ini langkah strategis yang bisa dilihat dampak positifnya di masa depan,” kata Andry.

Penilaian tersebut menunjukkan bahwa LCT diposisikan sebagai proyek perubahan bertahap, yang efeknya terhadap stabilitas rupiah akan lebih terasa jika penggunaan mata uang lokal terus ditingkatkan. Selama proses transaksi bilateral masih berkembang menuju penggunaan rupiah dan yuan secara lebih luas, dampak jangka panjang terhadap pengurangan risiko konsentrasi pada dollar AS diharapkan menjadi semakin nyata.

Pada akhirnya, arah kebijakan LCT Indonesia–China berfokus pada pembentukan pola transaksi yang lebih berimbang. Dengan memperbesar porsi pembayaran menggunakan mata uang lokal dan mengurangi ketergantungan pada dollar AS, skema ini ditargetkan memberi kontribusi pada stabilitas rupiah yang lebih kokoh dalam jangka panjang.