Bisnis & Ekonomi

Ekonomi Kita Perlu Segera Dibenahi

0
×

Ekonomi Kita Perlu Segera Dibenahi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kondisi Ekonomi Kita

jurnalistik.co.id – Kondisi ekonomi di negeri ini, menurut penulis kolom tersebut, tidak sedang baik-baik saja dan karena itu pengelola negara diminta segera membenahinya. Bila ekonomi terus dibiarkan rapuh, masalah sosial bisa ikut muncul dan merambat ke kehidupan sehari-hari rakyat.

Gagasan itu disampaikan dengan nada keras sejak awal. Pertanyaannya sederhana: siapa yang bisa mengatakan hidup rakyat sekarang baik-baik saja, atau menilai fondasi ekonomi tidak perlu dirisaukan? Dalam pandangan penulis, kenyataan di bawah justru memberi sinyal yang cukup jelas bahwa ada yang tidak beres.

Salah satu ukuran yang disebut paling mudah terlihat adalah isi celengan masjid. Tidak perlu metode ilmiah yang rumit dengan rumus dan parameter canggih, tulisnya. Cukup datang ke beberapa masjid dan bertanya kepada para pengurus: apakah isi celengan tiap hari Jumat naik, datar, atau turun? Jawaban yang paling mungkin, menurut dia, adalah turun, meski jumlah jamaah tetap sama.

Penulis juga mengingatkan bahwa sekarang sebagian donasi jamaah sudah memakai QRIS, bukan lagi uang tunai yang dimasukkan ke celengan. Namun, bahkan dengan perubahan cara berdonasi itu, ia tetap melihat tanda yang sama: arus sumbangan tidak memberi kesan bahwa ekonomi sedang longgar. Sebaliknya, yang tampak justru kehati-hatian dan penyusutan.

Ukuran lain yang dipakai adalah peristiwa Idul Adha yang baru saja berlangsung beberapa hari sebelumnya. Penulis meminta orang-orang memperhatikan jumlah hewan kurban yang disembelih dan dibagikan oleh masjid-masjid tahun ini. Menurutnya, jumlah sapi, kerbau, atau kambing yang dipotong dan dibagikan kepada warga pasti berkurang secara signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Dari situ, ia mempertanyakan kembali klaim bahwa fundamental ekonomi Indonesia sangat kuat dan tak perlu dikhawatirkan. Baginya, pernyataan semacam itu berjarak jauh dari keadaan di lapangan. Karena itu ia menyebut upaya menutupi kenyataan dengan kata-kata manis sebagai sihir, dan sihir itu pada dasarnya adalah fatamorgana.

Dalam logika tulisan tersebut, fatamorgana bukan sekadar ilusi, melainkan kebohongan publik. Ia menilai kebohongan publik yang dilakukan para pesohor negeri adalah aib yang tak terampuni. Rakyat, kata dia, punya alasan untuk marah ketika fakta kehidupan sehari-hari diputarbalikkan oleh narasi yang meninabobokan.

Penulis bahkan membandingkan situasi itu dengan negeri komunis, tempat fatamorgana disebut bisa menjadi barang sah dan metode sihir memperoleh pembenaran. Sementara dalam demokrasi, seperti Indonesia, meninabobokan rakyat justru dianggap sebagai jalan menuju keruntuhan. Jarak yang lebar antara kehendak penguasa dan fakta kehidupan rakyat, menurutnya, tidak pantas dijembatani dengan kebohongan yang ditutup-tutupi oleh intrik dan intimidasi.

Dalam pandangannya, rakyat seakan diperlakukan sebagai pihak yang tidak punya kecerdasan dan tidak perlu ribut. Padahal, justru rakyatlah yang paling cepat merasakan gejala ekonomi yang melemah. Ketika daya beli menyempit, orang akan menahan pengeluaran, termasuk untuk donasi, konsumsi, dan kebutuhan sosial lain yang sebelumnya lebih longgar.

Penulis lalu mengalihkan perhatian ke desa. Ia bertanya betapa dahsyat pengaruh kenaikan dollar terhadap kehidupan rakyat desa. Menurutnya, ada barang konsumsi yang kini dipakai seragam baik di kota maupun di desa, dan salah satunya adalah air mineral dalam kemasan botol plastik. Dari barang yang tampak biasa itu, dampak ekonomi global ternyata bisa ikut dirasakan sampai ke tingkat paling dekat dengan warga.

Kesimpulan besar dari kolom ini tegas: pengelola negeri perlu segera fokus membenahi ekonomi kita. Sebab ketika ekonomi tidak dijaga dengan benar, yang terdampak bukan hanya angka-angka di atas kertas, melainkan juga kebiasaan masyarakat, ruang hidup warga desa, kehidupan masjid, sampai solidaritas sosial yang tercermin dalam kurban dan donasi. Jika semua tanda itu diabaikan, masalah yang muncul tidak berhenti di ekonomi, tetapi bisa melebar menjadi persoalan sosial yang lebih serius.