jurnalistik.co.id – Laporan tahunan BBC tahun ini tidak sekadar merangkum kinerja lembaga penyiaran publik, melainkan mengirim pesan politik yang sengaja ditata di depan publik. Di saat pemerintah dan BBC masih bernegosiasi terkait royal charter baru, dokumen tersebut dipenuhi istilah seperti “challenges”, “financial pressures”, hingga “jeopardy”.
Menurut Katie Razzall, pemberitaan mengenai pendapatan Scott Mills dan sejumlah presenter bergaji tinggi memang mungkin lebih mudah menarik perhatian, tetapi laporan tahunan BBC memuat cerita yang lebih besar. Seruan itu muncul lewat narasi tentang kesulitan yang “ditampilkan” secara terang-terangan—seolah diarahkan langsung kepada pemerintah dan sosok perdana menteri yang dipandang akan segera memegang peran berikutnya.
Direktur jenderal BBC, Matt Brittin, bahkan menegaskan situasinya sebagai “a moment of real jeopardy, not just for the BBC but for public service broadcasting and the UK as a whole”. Pernyataan tersebut menempatkan persoalan BBC bukan hanya sebagai urusan internal lembaga, melainkan bagian dari gambaran besar perubahan kebiasaan media di Inggris.
Razzall menilai dominasi layanan streaming global dan perubahan cara konsumsi informasi membuat institusi media kian “very challenged”. Dalam konteks itu, laporan tahunan berusaha meyakinkan bahwa peran BBC tetap vital dan karena itu membutuhkan model pendanaan baru untuk menjaga keberlanjutan layanan publik.
BBC menyajikan sejumlah angka yang menjadi titik tekan. Razzall menyebut jumlah rumah tangga yang membayar biaya lisensi turun sekitar setengah juta pada tahun lalu. Lebih jauh, TV licences in force turun dua juta atau 8% dalam lima tahun terakhir: dari 25,3 juta pada 2020-21 menjadi 23,3 juta pada 2025-26.
Di sinilah laporan itu menekankan dua kemungkinan pembacaan. Apakah penurunan pembayaran menandakan pilihan yang menolak BBC, atau justru respon terhadap sistem biaya lisensi yang—dalam penjelasan Brittin kepada anggota parlemen pekan lalu—disebut sebagai “busted flush”. BBC, kata Razzall, cenderung memilih penjelasan kedua.
Menurut sistem yang berlaku, seseorang wajib membeli biaya lisensi bila menonton televisi siaran langsung atau menggunakan iPlayer. Razzall mengingatkan bahwa pada masa sebelum streaming menjadi kebiasaan, aturan itu berarti bahkan bila seseorang menonton ITV dan tidak pernah menyalakan BBC, ia tetap memerlukan lisensi TV. Ada pula anomali yang disebutkan: bila hanya mendengarkan radio BBC, tidak perlu membayar biaya lisensi.
BBC berargumen bahwa penurunan pembayaran terjadi terutama karena orang tidak lagi mengonsumsi televisi siaran langsung seperti dulu. Razzall menulis bahwa tren tersebut tidak akan berbalik, bahkan diprediksi akan semakin cepat. BBC menyebut kurang dari 80% rumah tangga membayar biaya lisensi, sementara 94% orang dewasa mengakses BBC.
Meski angka akses lebih tinggi, Razzall menekankan bahwa pembandingan tidak sepenuhnya “like-for-like” karena beberapa orang dewasa dapat tinggal dalam satu rumah tangga yang sama. Namun tetap, gambaran kesenjangan itu menjadi dasar logika bahwa cara kerja sistem lisensi kini tidak lagi sejalan dengan pola konsumsi audiens.
Dari sisi pendanaan, BBC menyatakan pemasukan dari biaya lisensi—sumber utama pembiayaan—sebenarnya relatif “roughly level” sejak royal charter yang berlaku sejak 2017. Akan tetapi, setelah memperhitungkan inflasi, pendapatan tersebut dinilai efektif turun sebesar £1,2 miliar, atau sekitar seperempat. Razzall mengaitkan penurunan itu pada pembekuan biaya lisensi selama sebagian periode serta perubahan perilaku audiens.
Perubahan perilaku tersebut, menurut laporan, menjadi semakin terlihat bila dilihat dari perbedaan generasi. Razzall menuliskan bahwa untuk usia di atas 35 tahun, BBC masih menjadi merek media yang paling banyak digunakan: 95% dari kelompok usia lebih dari 55 tahun dan 81% dari mereka yang berusia lebih dari 35 tahun mengakses BBC setiap minggu. Sebaliknya, untuk kelompok di bawah 35 tahun, ceritanya berbeda.
Dalam narasi BBC, YouTube menjadi pilihan utama bagi kelompok usia yang lebih muda. Namun, Razzall juga mencatat ada sisi positif. BBC disebut sebagai satu-satunya merek media Inggris yang masuk lima besar merek yang diakses anak muda: 69% dari mereka yang berusia di bawah 16 tahun dan 63% dari kelompok usia 16-34 tahun mengakses BBC setiap minggu.
Berita Terkait
Bagi kelompok usia muda, merek lain yang paling sering diakses—seperti yang disebut—adalah layanan streaming besar dan platform media sosial. Di luar dinamika domestik, laporan juga menyebut BBC kini menjangkau lebih dari setengah miliar orang untuk pertama kalinya. Secara nasional, rata-rata 94% orang dewasa di Inggris menggunakan BBC setiap bulan.
Kesalahan editorial dan beban reputasi
Razzall menegaskan bahwa laporan tahunan ini tidak menutup mata terhadap persoalan reputasi. Di dalam dokumen, BBC mengakui adanya kekeliruan editorial dan skandal pada tahun sebelumnya yang merusak citranya. Contoh yang disebut meliputi dokumenter Gaza yang dinarasikan oleh putra pejabat Hamas, serta dokumenter mengenai tenaga medis di Gaza yang diputuskan BBC untuk tidak ditayangkan, tetapi kemudian muncul di Channel 4.
Kasus lain yang disebut adalah Panorama tentang Donald Trump yang memicu presiden Amerika Serikat menggugat BBC. Razzall menuliskan bahwa Trump menuntut $10 miliar atau ÂŁ7,45 miliar. BBC disebut masih berupaya melawan gugatan tersebut, dengan argumentasi bahwa klaim Trump mengenai kerusakan akibat penayangan dokumenter tidak sesuai karena BBC menyatakan dokumenter itu tidak pernah tayang di AS.
Dalam laporan 256 halaman tersebut, Trump hanya disebut sembilan kali. BBC juga mengulang permintaan maafnya terkait penyisipan dua bagian pidato Trump menjelang kerusuhan di Capitol Hill, sebagaimana ditulis dalam bagian laporan yang mengingat kembali kontroversi tersebut.
Razzall menempatkan detail finansial di atas beban-beban itu. Ia menyebut pendapatan tahunan BBC mencapai £3,88 miliar dari biaya lisensi dan £2,15 miliar dari operasi komersial. Dengan angka tuntutan setinggi $10 miliar, ia menilai konsekuensi terhadap pembukuan akan sangat besar—dan laporan memperjelas bahwa “no provision” dibuat untuk menanggung tagihan tersebut.
Model pendanaan yang lebih selamat
“A call to arms” menjadi frasa yang merangkum maksud laporan: BBC meminta model pendanaan yang lebih baik. Razzall menulis bahwa di tengah tekanan finansial yang dirasakan masyarakat di seluruh Inggris, tuntutan tambahan uang dari individu dipandang sebagai langkah yang tidak realistis. Karena itu, logika yang dibangun BBC adalah harga bisa turun bagi semua pihak bila mereka yang mengonsumsi layanan BBC benar-benar membayarnya.
Dalam pembahasan pendanaan masa depan, BBC juga sebelumnya telah mengemukakan gagasan agar orang yang menonton layanan streaming ikut diwajibkan membayar biaya lisensi. Namun, Razzall mencatat bahwa Lisa Nandy telah menolak pendanaan melalui pajak umum, skema pungutan korporasi terhadap layanan streaming, maupun kebijakan mengizinkan BBC menayangkan iklan.
Di kalangan BBC sendiri, ada optimisme—terlepas dari apakah optimisme itu keliru atau tidak—bahwa perdana menteri baru bisa memberi direktur jenderal kesempatan baru. Bagian lain yang menonjol dalam laporan adalah gagasan “moving power and jobs out of London”, yang dalam istilah Razzall disebut sebagai devolution dengan nama lain.
Razzall menyebut bahwa 59% dari anggaran TV jaringan BBC dihabiskan di luar London pada tahun lalu, turun satu poin persentase dibanding tahun sebelumnya. BBC, menurut laporan, juga merasa bangga pada perannya yang mendorong ekonomi kota-kota dengan pusat produksi besar. Salah satu yang disebut adalah Greater Manchester melalui investasi jangka panjang di MediaCity.
Dalam dokumen tersebut, Manchester disebut sekilas sebanyak 13 kali—mungkin, demikian Razzall, sekaligus menyentuh suasana politik ketika “Manchesterism” ala Andy Burnham sedang menjadi perhatian. Pada akhirnya, Razzall menyimpulkan bahwa laporan tahunan ini mungkin ditujukan pada satu pembaca kunci: perdana menteri baru.












