jurnalistik.co.id – JAKARTA — Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Eropa Barat kembali menegaskan bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung. Di tengah suhu yang terus menembus rekor, Perserikatan Bangsa-Bangsa menilai kondisi ini sangat berkaitan dengan ketergantungan dunia terhadap bahan bakar fosil.
Executive Secretary of the United Nations Framework Convention on Climate Change, Simon Stiell, mengatakan gelombang panas yang melanda berbagai negara Eropa merupakan dampak nyata dari perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Ia menekankan bahwa ilmu pengetahuan telah menunjukkan hubungan yang jelas antara pemanasan global dan meningkatnya frekuensi serta intensitas gelombang panas.
“Ilmu pengetahuan jelas menunjukkan bahwa perubahan iklim yang disebabkan manusia membuat gelombang panas ini lebih sering dan ekstrem,” kata Stiell dalam sebuah pernyataan melansir AFP, Rabu (27/5/2026).
Stiell juga menyoroti kondisi ekstrem yang terjadi di India. Menurut dia, pasukan di negara tersebut tengah berjuang melawan kebakaran hutan, sementara otoritas setempat juga telah melaporkan kematian akibat serangan panas. Platform pemantauan kualitas udara internasional AQI pada siang hari Rabu mencatat 45 kota terpanas di dunia semuanya berada di India, dan seluruhnya berada di atas 43C.
Dalam pandangannya, perlindungan terhadap nyawa manusia, bisnis, dan perekonomian dari panas ekstrem bukan lagi isu sampingan. Ia menyebut hal itu sebagai urusan inti setiap negara, dan langkah awalnya adalah menghentikan ketergantungan pada bahan bakar fosil jauh lebih cepat.
“Melindungi nyawa manusia, bisnis, dan ekonomi dari panas ekstrem dan banyak biaya lain yang melonjak akibat perubahan iklim adalah urusan inti bagi setiap negara, dan itu dimulai dengan menghentikan ketergantungan pada bahan bakar fosil jauh lebih cepat,” kata Stiell.
Ia menambahkan, perang di Timur Tengah juga telah memperlihatkan “biaya yang melonjak” dari ketergantungan pada bahan bakar fosil. Situasi itu, menurut dia, sekaligus menegaskan kebutuhan untuk beralih ke sumber energi yang lebih bersih.
Di Eropa, dampak panas ekstrem sudah mulai memakan korban. Otoritas Prancis pada hari Selasa melaporkan setidaknya tujuh kematian yang terkait dengan gelombang panas. Dari jumlah itu, lima di antaranya adalah tenggelam, karena banyak orang mencari perlindungan di tempat-tempat berair.
Di Inggris, otoritas setempat mengatakan empat remaja telah tenggelam sejak Minggu. Kondisi ini terjadi saat cuaca panas mendorong lebih banyak orang mencari cara untuk mengatasi suhu yang terasa semakin menyengat di berbagai wilayah.
Prancis dan Inggris sama-sama mencatat hari terpanas sepanjang masa di bulan Mei pada hari Senin, lalu kembali mencatat suhu yang sama ekstremnya pada hari Selasa. Di Irlandia, suhu yang memecahkan rekor untuk bulan Mei juga dilaporkan terjadi, sementara Spanyol, Italia, dan Austria turut mengalami kondisi yang sangat panas untuk waktu ini dalam setahun.
Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa gelombang panas bukan lagi fenomena yang berdiri sendiri. Ketika suhu melonjak, dampaknya merambat ke keselamatan warga, aktivitas harian, hingga tekanan pada sektor ekonomi dan layanan publik. Dalam konteks itu, peringatan PBB kembali menggarisbawahi bahwa krisis iklim sudah hadir dalam bentuk yang paling nyata: panas ekstrem, rekor suhu, dan risiko kematian yang terus bertambah.
Pesan itu pada dasarnya menempatkan panas ekstrem sebagai persoalan kebijakan, bukan sekadar cuaca musiman. Dengan risiko yang sudah menyentuh keselamatan publik, tekanan pada layanan darurat, dan gangguan pada aktivitas ekonomi, dorongan untuk mempercepat transisi energi menjadi semakin sulit diabaikan.
Di saat berbagai negara menghadapi suhu yang terus naik, rangkaian kejadian di Eropa, India, dan Timur Tengah menunjukkan pola yang sama: ketergantungan pada energi fosil kian mahal biayanya. Dari korban jiwa hingga rekor suhu, semua itu menjadi pengingat bahwa respons terhadap krisis iklim tak lagi bisa ditunda.









