Politik & Parlemen

Jordan Bardella Terpaksa Menunggu Giliran, Bayang-Bayang Marine Le Pen Kembali Menyelimuti

×

Jordan Bardella Terpaksa Menunggu Giliran, Bayang-Bayang Marine Le Pen Kembali Menyelimuti

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Forced to wait his turn, Marine Le Pen's deputy Bardella returns to the shadows

jurnalistik.co.id – Jordan Bardella kembali berada dalam posisi menunggu setelah putusan banding di Paris membuka jalan bagi Marine Le Pen untuk maju dalam pencalonan presiden, sementara dia tidak akan menjadi kandidat utama untuk 2027.

Dalam sebuah acara kampanye di desa La Flèche, ketika ditanya apakah ia merasa lega atau kecewa karena tidak akan menjadi kandidat presiden, Bardella menjawab tanpa banyak emosi.

“Neither,” katanya dalam nada datar, sebelum menegaskan, “I am glad Marine can represent us. We will work together hand in hand like we’ve always done.”

Keputusan itu datang setelah Marine Le Pen, pada malam sebelumnya, mengumumkan bahwa ia akan mencalonkan diri pada pemilihan presiden tahun depan—bukan Bardella. Dalam rentang waktu sekitar 20 menit di siaran televisi prime time pada Selasa, pengumuman tersebut meruntuhkan kemungkinan partai menyerahkan tiket pencalonan kepada deputinya.

Langkah hukum yang membalik arah terjadi ketika pengadilan di Paris mengakhiri larangan Marine Le Pen memegang jabatan publik. Pengadilan juga memerintahkan Marine Le Pen untuk mengenakan tag elektronik selama setahun.

Malam yang sama, Le Pen menyatakan bahwa ia dan Bardella akan maju bersama dengan konsep “a winning ticket”. Le Pen menyebut ia akan menjadi presiden dan Bardella menjadi perdana menteri.

Namun, Bardella tetap berada dalam ruang abu-abu karena mekanisme politik Prancis tidak berjalan otomatis seperti narasi “peran bergantian” yang diisyaratkan. Pemilihan parlemen berikutnya di Prancis baru akan berlangsung pada 2029.

Teoretisnya, jika Le Pen menang dan langsung menjalankan jabatan presiden, bisa saja memicu pemilihan dadakan setelah ia menjabat. Tetapi, tidak ada kepastian bahwa proses tersebut akan terjadi cepat.

Itulah sebabnya Bardella akhirnya harus menunggu giliran.

Bagi sebagian pendukung National Rally, keputusan Le Pen untuk maju justru memberi rasa lega. Mereka menilai bahwa usia Le Pen dan pengalaman politiknya bisa menghindarkan partai dari sorotan yang mungkin muncul terhadap usia Bardella dan kekurangannya dalam pengalaman.

Ketika Le Pen menjalani politik sebagai pekerjaan seumur hidup, ia sudah pernah menempuh tiga kampanye presiden. Pilihannya untuk maju disebut ikut menjaga posisinya di jajak pendapat.

Di sisi lain, bentuk tubuh dan ekspresi Bardella pada acara kampanye Rabu di wilayah barat laut memberi sinyal yang berbeda. Sementara Le Pen tersenyum lebar di depan kamera, Bardella terlihat tidak banyak bereaksi dan nyaris tidak tersenyum.

Saat Le Pen menepis dugaan bahwa deputinya akan tersisih, ia juga menegaskan bahwa “our personal ambitions are absolutely irrelevant”.

Dengan kondisi itu, kenaikan cepat Bardella di jajaran National Rally—yang selama ini menjadi ciri karier politiknya—terlihat mengalami jeda. Jika ia benar-benar diizinkan maju, pada musim semi 2027 ia berpotensi menggantikan Emmanuel Macron menjadi presiden termuda Prancis.

Ia juga akan menjadi kepala negara hard-right pertama dalam sejarah politik modern Prancis.

Di balik posisi yang menunda itu, Bardella lahir pada 1995 dan dibesarkan oleh ibunya, Luisa, yang berasal dari Italia dan berstatus orang tua tunggal di pinggiran Paris. Meski Bardella sering mengatakan ibunya kesulitan memenuhi kebutuhan, ayahnya, Olivier—juga berdarah Italia—menjalankan bisnis distribusi minuman dan tinggal di kota yang lebih mapan, Montmorency.

Rincian tersebut, sebagaimana disebut dalam laporan, melemahkan narasi “kesulitan hidup” yang kemudian sering digunakan Bardella untuk menjangkau pemilih yang lebih luas.

Baik orang tua Bardella maupun lingkungan awalnya tidak terlalu terkait dengan politik. Berdasarkan sebuah wawancara dari teman ketika Bardella masih remaja yang dilaporkan oleh Le Monde, Bardella muda juga tidak menunjukkan minat politik yang kuat pada masa itu.

Ia lebih memilih bermain PlayStation dan menyiarkan sesi Call of Duty melalui kanal YouTube bernama Jordan9320.

Namun semuanya berubah ketika pada usia 17 tahun, pada 2012, ia memutuskan bergabung dengan National Front yang berhaluan jauh-kanan. Setelah itu, ia naik dengan cepat di struktur partai: pada usia 19 tahun ia menjadi sekretaris lokal tingkat departemen, lalu pada usia 20 tahun ia menjadi anggota dewan regional untuk wilayah Paris.

Sepanjang perjalanan itu, Bardella juga meninggalkan kuliah agar fokus pada karier politik.

Keputusan awal bergabung dengan partai, kemudian ia kaitkan dengan ketertarikannya pada Marine Le Pen. Pada 2011, Marine Le Pen mengambil alih kendali partai dari Jean-Marie Le Pen dan berupaya mengubahnya dari gerakan pinggiran ekstrem menjadi kekuatan politik yang dipandang lebih arif.

“There’s something about her that others don’t have,” kata Bardella pada 2021. Ia menambahkan, “She has a character, an energy… a courage that speak to me.”

Ketertarikan itu ternyata saling berbalas. Pada awalnya, Bardella masuk ke lingkar dalam partai melalui hubungan dekatnya dengan Frederic Chatillon, yang disebut sebagai ayah dari seorang figur yang terkait dengan dunia lama National Front. Pada 2017, Marine Le Pen menunjuk Bardella sebagai juru bicara partai.

Seiring waktu, Bardella juga mulai menjalin hubungan romantis dengan Nolwenn, yang merupakan keponakan dari Le Pen. Dua tahun kemudian, ia menjadi anggota parlemen Eropa sebagai yang kedua termuda, dan pada usia 27 tahun—ketika ia sudah menjadi salah satu figur paling terlihat di partai—ia terpilih menjadi presiden National Rally.

Pada 2024, peluang Bardella tampak terbuka lebar. National Rally meraih 33% suara pada putaran pertama pemilihan parlemen yang berlangsung cepat, atau pemilu sela.

Kondisi itu membuat Bardella berada sangat dekat dengan kemungkinan menjadi perdana menteri. Meski pada akhirnya koalisi dari kubu kiri-tengah memenangkan putaran kedua, dalam dua tahun berikutnya popularitas Bardella tetap dinilai stabil.

Di awal Juli, persetujuan publik terhadap Bardella disebut mencapai 40%, sedangkan Marine Le Pen bertahan pada angka 39%.

Banding hukum dan agenda pencalonan ini juga menempatkan Bardella pada pertanyaan yang lebih luas: apakah ia punya kemampuan untuk merangkul berbagai bagian pemilih. Dalam laporan, ia disebut berhasil berbicara langsung kepada pemilih muda melalui kanal media sosialnya, yang memiliki dua juta pengikut.

Hubungannya dengan putri sosial Italia, Princess Maria Carolina of Bourbon-Two Sicilies, disebut memberi kesan glamor. Meski begitu, ia juga sering mengacu pada latar belakangnya yang “rendah” sebagai cara membangun kedekatan dengan pemilih.

Dari sisi garis politik, pendekatan Bardella pada umumnya selaras dengan tema-tema yang disampaikan Marine Le Pen. Ia membawa sikap anti-imigrasi yang menjadi ciri serta gaya retorika populis yang kerap dipakai dalam kampanye partai.

Pada BBC, Bardella menyatakan bahwa “Mass immigration was ‘shaking the balance of European countries, of Western societies, and namely French society’”.

Ia juga menyebut bahwa langkah pertamanya setelah memegang jabatan sebagai presiden adalah mendorong referendum mengenai imigrasi, dengan tujuan agar “allow France to take back control of [its] borders”.

Selain isu perbatasan, Bardella juga mengarah pada kebutuhan kalangan bisnis. Ia pernah berjanji untuk melindungi pengusaha dari “an unbearable fiscal and regulatory straitjacket”.

Di ranah Eropa, ia menarik perhatian euroskeptik dengan keinginannya untuk menegosiasikan ulang keanggotaan Prancis di Uni Eropa. Keanggotaan itu ia pandang “profoundly old-fashioned” dan “obsolete”, bahkan sempat menyarankan pemotongan kontribusi Prancis ke anggaran Uni Eropa hingga setengah.

Meski membawa banyak perubahan yang berpotensi menimbulkan kekhawatiran, Bardella juga berusaha menenangkan pemilih yang lebih hati-hati. Ia menegaskan bahwa ia tidak bermaksud “to destroy anything”, sehingga ia memberi sinyal bahwa ia ingin menata arah politik tanpa menghancurkan sistem secara total.

Perbedaan cara pandang terhadap dirinya juga muncul di kalangan pengamat. Ada yang menyebut Bardella seperti “incredible blank canvas”—ruang kosong yang bisa diisi pemilih National Rally dengan kandidat ideal versi mereka.

Tetapi, ada pula yang menilai sebaliknya. Lecturer Pierre-Henri Tavoillot menyebutnya sebagai “a huge question mark”.

Menurut Tavoillot, susunan ideologi Bardella masih belum jelas: “unclear… and his smooth image allows him to cast a wide net”.

Dengan demikian, keputusan pengadilan dan timing pencalonan membuat Bardella tidak segera naik ke panggung puncak—namun tetap berada di pusat dinamika partai, menunggu kapan ruang politik itu benar-benar terbuka.