Daerah

Gempa Jember di Bondowoso Sempat Hentikan Acara Pernikahan Kerabat Anggota DPRD

1
×

Gempa Jember di Bondowoso Sempat Hentikan Acara Pernikahan Kerabat Anggota DPRD

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Dampak Gempa Jember di Bondowoso, Acara Pernikahan Kerabat Anggota DPRD Sempat Terhenti

jurnalistik.co.id – BONDOWOSO — Getaran gempa yang berpusat di Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada Selasa (26/5/2026) sore turut dirasakan warga Kabupaten Bondowoso. Salah satu dampaknya terlihat saat acara pernikahan kerabat Anggota DPRD Bondowoso di Desa Selolembu, Kecamatan Curahdami, sempat terhenti beberapa saat ketika guncangan terasa cukup kuat.

Gempa tersebut tercatat memiliki parameter update dengan magnitudo 4,8. Getarannya dirasakan di sejumlah daerah di Jawa Timur, bahkan sampai Bali, sehingga suasana di banyak tempat ikut berubah dalam hitungan detik ketika guncangan datang.

Prosesi walimahan sempat terhenti

Anggota DPRD Bondowoso dari Fraksi PKB, Samsul Tahar, mengatakan saat gempa terjadi dirinya sedang mendampingi kerabat dalam acara pernikahan di Desa Selolembu, Kecamatan Curahdami, Bondowoso. Ketika prosesi walimahan berlangsung, ia sedang memberikan sambutan mewakili keluarga.

“Tiba-tiba terjadi guncangan. Peserta walimahan sempat panik, namun tidak sampai beranjak dari tempat duduknya,” ungkap Tahar. Meski suasana sempat mendadak tegang, acara tidak benar-benar bubar dan para tamu tetap berada di lokasi.

Tahar menambahkan, ketegangan justru terasa jelas di bagian dapur, tempat para ibu-ibu sedang menyiapkan hidangan. Menurut dia, “Ibu-ibu yang di dapur sempat menjerit karena kaget. Acara sempat terhenti sebentar, tapi tidak sampai berhamburan.”

Peristiwa itu memperlihatkan bagaimana getaran gempa bisa langsung memengaruhi jalannya acara keluarga yang sedang berlangsung. Dalam situasi seperti itu, kepanikan muncul spontan, meski para tamu maupun panitia acara tetap berusaha menjaga ketertiban agar prosesi tidak sepenuhnya terganggu.

Pegawai Bakesbangpol ikut panik

Getaran gempa juga dirasakan pegawai di lingkungan kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Bondowoso. Saat gempa terjadi, mereka langsung keluar ruangan karena merasakan guncangan yang cukup membuat aktivitas kantor terhenti seketika.

Sekretaris Bakesbangpol Bondowoso, Nanang Dwi Haryanto, mengatakan kursi-kursi di kantor sampai ikut bergetar saat gempa berlangsung. Ia menuturkan, “Semua langsung keluar kantor. Saya lari juga.” Pernyataan itu menggambarkan betapa cepat respons pegawai ketika guncangan mulai terasa.

Sampai sementara waktu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso belum menerima laporan kerusakan akibat gempa tersebut. Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, mengatakan pihaknya masih terus memantau perkembangan di lapangan. “Belum ada, tetapi terus kita pantau,” ujarnya.

Meski belum ada laporan kerusakan, gempa yang dirasakan di Bondowoso tetap meninggalkan kepanikan sesaat di dua lokasi berbeda, yakni acara pernikahan dan kantor pemerintahan. Pada satu sisi, acara keluarga sempat tertunda; pada sisi lain, aktivitas perkantoran juga langsung berhenti saat getaran datang.

Dengan magnitudo 4,8 dan sebaran getaran yang dirasakan hingga Bali, gempa Jember sore itu menunjukkan dampak yang cukup luas di wilayah Jawa Timur. Bagi warga Bondowoso, guncangan itu bukan hanya terasa di bangunan dan kursi, tetapi juga dalam suasana panik yang muncul serentak saat kejadian berlangsung.

Dalam situasi seperti itu, jeda singkat akibat gempa ternyata cukup untuk mengubah ritme kegiatan yang sedang berjalan. Prosesi yang semula berlangsung normal mendadak harus menyesuaikan diri dengan rasa kaget para tamu, terutama ketika guncangan datang tanpa aba-aba. Meski demikian, suasana tetap terkendali karena orang-orang yang berada di lokasi memilih bertahan dan menunggu kondisi kembali tenang sebelum melanjutkan rangkaian acara.

Respons serupa juga tampak di kantor pemerintahan, ketika para pegawai memilih segera keluar ruangan setelah merasakan getaran yang membuat kursi ikut bergoyang. Situasi itu menunjukkan bahwa dampak gempa tidak hanya dirasakan sebagai gerakan fisik, tetapi juga sebagai gangguan spontan terhadap aktivitas harian. Hingga saat ini, pemantauan masih dilakukan dan belum ada laporan kerusakan yang diterima, sehingga kepanikan yang muncul sejauh ini lebih banyak berhenti pada momen sesaat setelah guncangan terjadi.

Dengan kondisi demikian, peristiwa di Bondowoso menjadi gambaran bahwa dampak gempa bisa menyentuh banyak sisi sekaligus, mulai dari kegiatan keluarga, suasana kerja, hingga kewaspadaan warga di sekitar lokasi. Walau tidak berkembang menjadi kepanikan yang lebih besar, getaran yang terasa cukup jelas tetap meninggalkan kesan kuat bagi mereka yang sedang beraktivitas saat kejadian berlangsung.