jurnalistik.co.id – Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan masih berlangsung hingga Senin (6/7/2026) pagi.
Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-laki mencatat, sejak pukul 00.00 Wita hingga 06.00 Wita terjadi dua kali erupsi.
Berdasarkan pengamatan seismogram, dua letusan tersebut memiliki amplitudo 18,5–44,4 mm dengan durasi sekitar 46–145 detik.
Petugas Pos PGA Lewotobi Laki-laki, Fransiskus Xaverius Masan, menyampaikan bahwa letusan teramati dengan tinggi 500–1000 m dan warna asap kelabu.
“Teramati dua kali letusan dengan tinggi 500-1000 m dan warna asap kelabu,” ujar Fransiskus, Senin.
Ia menjelaskan, secara visual gunung api tampak jelas hingga kabut 0–I. Asap kawah bertekanan lemah terlihat berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 50–100 meter di atas puncak kawah.
Status gunung api level III siaga, dan menurut Fransiskus, gunung kembali mengalami erupsi pada pukul 06.14 Wita.
Pada erupsi lanjutan itu, kolom abu teramati sekitar 800 meter di atas puncak, atau kurang lebih berada pada ketinggian 2.384 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu yang teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan condong ke arah utara serta timur laut. Fransiskus menambahkan, erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 47,3 mm dan durasi sekitar 58 detik.
Berita Terkait
“Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 47.3 mm dan durasi sekitar 58 detik,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Fransiskus mengimbau masyarakat sekitar maupun wisatawan agar tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat gunung.
“Kami juga imbau masyarakat agar tenang dan mengikuti arahan pemda (pemerintah daerah) serta tidak mempercayai isu-isu yan tidak jelas sumbernya,” pungkasnya.
Dengan masih berlangsungnya aktivitas erupsi hingga Senin pagi, imbauan penyesuaian aktivitas di area sekitar gunung menjadi bagian dari langkah kewaspadaan yang disampaikan oleh pihak pengamat.
Menurut catatan PGA Lewotobi Laki-laki, aktivitas letusan tidak muncul sekali saja pada periode pengamatan dini hari, melainkan terjadi dalam dua kejadian yang terpantau sejak pukul 00.00 Wita hingga 06.00 Wita. Pencatatan tersebut menjadi dasar untuk menilai pola aktivitas gunung pada awal hari sebelum erupsi lanjutan berikutnya.
Berdasarkan analisis terhadap seismogram, setiap letusan memperlihatkan karakteristik yang bisa dibaca dari rentang amplitudo dan lamanya aktivitas gempa letusan. Untuk dua kejadian yang berlangsung pada rentang waktu tersebut, amplitudo tercatat berada pada kisaran 18,5–44,4 mm, dengan durasi sekitar 46–145 detik. Rentang ini menunjukkan perbedaan tingkat energi pada masing-masing kejadian.
Dari sisi pengamatan visual, keterangan petugas menyebutkan ketinggian erupsi pada letusan awal berada di antara 500–1000 meter. Warna asap yang tampak dijelaskan berwarna kelabu, sementara kemunculan asap dari kawah juga terlihat dengan ciri bertekanan lemah. Asap kawah tertangkap hingga kondisi kabut 0–I, dengan intensitas tipis dan tinggi yang teramati sekitar 50–100 meter di atas puncak kawah.
Setelah jeda, gunung kembali mengalami erupsi pada pukul 06.14 Wita Wita. Pada kejadian lanjutan ini, kolom abu disebut teramati sekitar 800 meter di atas puncak, atau kira-kira berada pada ketinggian 2.384 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas lebih tebal, dan arahnya condong ke utara serta timur laut, sehingga pengamat menekankan pentingnya menjaga jarak aman dari area pusat aktivitas.
Status gunung api tetap berada pada level III siaga. Fransiskus juga menyampaikan imbauan agar masyarakat di sekitar gunung dan wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat. Selain itu, pihak pengamat mengingatkan untuk tetap tenang, mengikuti arahan pemerintah daerah, serta tidak menanggapi informasi yang tidak jelas sumbernya, mengingat aktivitas erupsi masih berlangsung hingga Senin pagi.












