Peristiwa

Gunung Semeru Erupsi, Awan Panas Guguran Meluncur 2.500 Meter

0
×

Gunung Semeru Erupsi, Awan Panas Guguran Meluncur 2.500 Meter

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Gunung Semeru Erupsi, Luncurkan Awan Panas Guguran Sejauh 2.500 Meter

jurnalistik.co.id – Gunung Semeru di Jawa Timur kembali mengalami erupsi pada Kamis malam, 28 Mei 2026, pukul 20.10 WIB. Letusan tersebut disertai awan panas guguran yang dilaporkan meluncur sejauh sekitar 2.500 meter.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyampaikan bahwa erupsi itu terekam dengan jelas dan menunjukkan adanya aktivitas guguran yang bergerak ke arah tenggara. Kondisi ini menjadi perhatian karena jalur luncuran awan panas mengikuti sektor Besuk Kobokan yang selama ini menjadi salah satu area terdampak utama aktivitas Semeru.

Dalam keterangan tertulisnya, PVMBG menyebut, “Letusan disertai Awan Panas Guguran dengan jarak luncur ±2500m, mengarah ke tenggara (besuk kobokan),” pada Kamis (28/5/2026). Keterangan tersebut menegaskan bahwa erupsi malam itu tidak hanya menghasilkan abu vulkanik, tetapi juga material panas yang meluncur cukup jauh dari puncak.

PVMBG juga mencatat tinggi kolom abu letusan yang teramati mencapai sekitar 1.500 meter di atas puncak. Jika dihitung dari permukaan laut, ketinggian kolom abu itu berada pada kisaran 5.176 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu dilaporkan berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal. Arah sebarannya condong ke tenggara dan selatan, menandakan hembusan material vulkanik pada saat erupsi mengikuti pola angin dan dorongan letusan yang terbaca dari pengamatan petugas.

Selain itu, erupsi tersebut juga terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi sekitar 4 menit 36 detik. Data kegempaan ini memperkuat catatan bahwa aktivitas Semeru pada malam itu cukup signifikan dan berlangsung dalam rentang waktu yang tidak singkat.

Gunung Semeru saat ini masih berstatus Level III atau Siaga. Dengan status tersebut, PVMBG kembali menegaskan rekomendasi agar masyarakat tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara, khususnya di sepanjang Besuk Kobokan, dalam radius 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.

Rekomendasi ini menjadi penting karena awan panas guguran memiliki karakter bergerak cepat dan berbahaya bagi warga yang berada di jalur luncuran. Dengan jarak luncur yang mencapai sekitar 2.500 meter, kawasan di sekitar aliran Besuk Kobokan tetap harus menjadi perhatian utama dalam pemantauan aktivitas Semeru.

Erupsi yang terjadi pada Kamis malam itu menambah catatan aktivitas Gunung Semeru yang dalam beberapa waktu terakhir terus menunjukkan dinamika. Kondisi abu, guguran panas, dan status siaga menegaskan bahwa kewaspadaan masyarakat serta pemantauan resmi dari PVMBG masih perlu dijaga ketat.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat di sekitar lereng Semeru diingatkan untuk tetap mengikuti informasi resmi dan tidak mengandalkan kabar yang belum terverifikasi. Dalam situasi erupsi seperti ini, pembaruan dari petugas pemantau menjadi rujukan utama agar warga dapat memahami perkembangan aktivitas gunung secara tepat dan tidak keliru dalam mengambil langkah.

Catatan PVMBG mengenai arah sebaran abu ke tenggara dan selatan juga memperlihatkan bahwa dampak erupsi tidak berhenti pada titik letusan saja. Sebaran material vulkanik dapat berubah mengikuti kondisi saat aktivitas berlangsung, sehingga pemantauan visual maupun kegempaan tetap diperlukan untuk membaca potensi perkembangan berikutnya pada tubuh Gunung Semeru.

Di sisi lain, kombinasi antara awan panas guguran, kolom abu yang cukup tinggi, serta durasi gempa yang mencapai lebih dari empat menit menunjukkan bahwa erupsi malam itu tergolong aktif dan harus dipandang serius. Selama status Siaga masih berlaku, kewaspadaan di area rawan tetap menjadi hal yang tidak bisa diturunkan, terutama pada sektor tenggara yang disebut paling terdampak.