Peristiwa

Boks Pengaman Dibuka untuk Preview Bayeux Tapestry di British Museum

×

Boks Pengaman Dibuka untuk Preview Bayeux Tapestry di British Museum

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Donning protective kit for a first glance at the Bayeux Tapestry

jurnalistik.co.id – British Museum bersiap menampilkan Bayeux Tapestry, sulaman legendaris yang akan dibawa masuk ke ruang pamer pada September. Karya bertali-temali itu menorehkan kisah menjelang pertempuran yang berujung pada Perang Hastings dan penaklukan Norman atas Inggris pada 1066.

Persiapan menjelang momen besar itu dilakukan dengan tingkat kehati-hatian tinggi. Dalam kesempatan ā€œsneak peekā€, editor budaya BBC Katie Razzall tampak mengenakan perlengkapan pelindung saat meninjau langsung karya tersebut untuk pertama kalinya.

Berdasarkan informasi yang disampaikan, sulaman sepanjang 70 meter ini merupakan artefak abad ke-11. Ia telah tiba di London dari wilayah utara Prancis pekan lalu, untuk kemudian diambil alih oleh tim museum sebelum dipublikasikan kepada pengunjung.

Proses pemindahannya disebut berlangsung di bawah pengamanan ketat. Bayeux Tapestry dikawal oleh penjagaan polisi dari lokasi yang dirahasiakan menuju British Museum, dilakukan pada malam hari dengan upaya menjaga kerahasiaan rute dan kondisi perpindahan.

Karya ini disebut ā€œpricelessā€, tidak ternilai, sehingga penanganannya diperlakukan seperti artefak yang sangat rentan. Langkah-langkah pengamanan itu dipilih agar sulaman berusia berabad-abad tetap dalam kondisi terbaik sebelum dibuka untuk tontonan publik.

Kembali setelah lebih dari 900 tahun

Ini kali pertama Bayeux Tapestry kembali ke Inggris dalam lebih dari 900 tahun. Artefak yang menggambarkan rangkaian peristiwa menjelang 1066 tersebut selama masa yang sangat panjang berada di luar Inggris, sehingga kepulangannya menjadi peristiwa sejarah tersendiri bagi museum.

Keberadaan sulaman yang memuat narasi peristiwa penting itu membuat Bayeux Tapestry dipandang bukan hanya sebagai koleksi seni, melainkan juga dokumen visual atas momen-momen transisi politik di Eropa abad pertengahan. Museum memosisikannya sebagai karya yang membantu pembaca modern memahami alur peristiwa menjelang Perang Hastings.

Di sisi lain, ada pula pandangan bahwa Bayeux Tapestry dibuat di wilayah setempat, dan kemungkinan besar dibuat hampir 1.000 tahun lalu. Dugaan tersebut menambah nilai historis karena karya ini tidak semata-mata ā€œtamuā€ dari luar, melainkan memiliki kedekatan asal-usul dengan kawasan yang kini diingat ulang melalui pameran.

Razzall sendiri melakukan kunjungan ke British Museum untuk mendapatkan pandangan awal. Ia hadir untuk melihat bagian sulaman sebelum karya itu resmi dipamerkan, sekaligus memberi gambaran kepada publik mengenai bagaimana museum menyiapkan artefak dalam kondisi aman.

Pada akhirnya, September diposisikan sebagai titik ketika Bayeux Tapestry akan kembali bisa dinikmati oleh khalayak. Dengan jadwal pamer yang sudah ditetapkan, perhatian kemudian beralih pada bagaimana museum akan menghadirkan karya sepanjang 70 meter itu kepada pengunjung, setelah perjalanan panjang yang dipenuhi pengamanan ketat.

Di balik jadwal pameran September, museum menempatkan perhatian khusus pada aspek keselamatan selama masa persiapan. Pemindahan yang dilakukan dengan pengamanan ketat itu dimaksudkan agar setiap bagian sulaman tetap terjaga, mengingat Bayeux Tapestry merupakan karya yang telah berusia berabad-abad.

Selain memperhatikan kondisi fisik, kerahasiaan menjadi bagian dari strategi. Penjagaan polisi sepanjang perjalanan dari lokasi yang dirahasiakan membantu mengurangi gangguan yang berpotensi mengganggu ritme pemindahan dan menjaga agar proses tetap terkendali hingga tiba di ruang pamer British Museum.

Keberhasilan membawa kembali artefak ini juga dipandang sebagai momen yang mempertemukan pembaca modern dengan kisah kuno yang sama. Narasi visual menjelang Perang Hastings, yang terangkai dalam sulaman sepanjang 70 meter, diharapkan memberi konteks historis yang lebih mudah diikuti saat publik menyaksikannya secara langsung.

Dalam pameran nanti, museum tidak hanya menampilkan apa yang tergelar, tetapi juga menekankan bahwa sulaman ini memiliki nilai historis ganda. Dari sudut pandang tertentu, asal-usul yang mungkin terkait wilayah setempat—dengan kemungkinan pembuatan sekitar 1.000 tahun lalu—membuat karya tersebut terasa lebih dekat dengan Inggris, meski perjalanan panjangnya telah membawanya ke luar.

Persiapan yang mempertemukan tim museum dan peninjau, termasuk Katie Razzall pada sesi ā€œsneak peekā€, memperlihatkan bagaimana pengamanan dipadukan dengan kebutuhan agar karya dapat dinikmati. Dengan meninjau bagian sulaman sebelum pembukaan resmi, gambaran proses penataan dan penanganan diupayakan tetap transparan bagi publik dalam kerangka informasi yang tersedia.