jurnalistik.co.id – Tinjauan resmi Donna Ockenden terhadap layanan pascakematian di Nottingham University Hospitals (NUH) NHS Trust mengungkap bahwa masalah tidak hanya berhenti pada hilangnya bayi atau orang tercinta. Dalam sejumlah kasus, orang yang telah meninggal justru disebut kehilangan martabat—termasuk melalui cara penanganan jenazah yang dinilai gagal melindungi kehormatan almarhum.
Menurut laporan Ockenden, untuk banyak keluarga, penderitaan berlanjut lewat prosedur mortuary yang bermasalah. Temuan itu dipaparkan dalam peninjauan yang diterbitkan bulan lalu.
Ockenden menyebut adanya “recurring examples of failure to protect the dignity of the deceased” dalam layanan pascakematian. Tinjauan tersebut tidak hanya menyoroti potensi bahaya yang bisa dihindari bagi ibu dan bayi, tetapi juga memperinci rangkaian kekeliruan pada layanan kamar jenazah.
Dalam beberapa peristiwa yang disorot, seorang bayi dilaporkan dibuang sebagai “clinical waste”. Di kasus lain, bayi ditempatkan di ruang mortuary yang ternyata masih ditempati oleh orang dewasa yang telah meninggal lebih dulu. Ada pula situasi di mana bayi yang salah dirilis kepada petugas pengarah pemakaman (funeral directors).
Laporan menegaskan bahwa persoalan semacam ini bukan sesuatu yang sepenuhnya sudah menjadi masa lalu. Pada bulan Maret, delapan jenazah ditemukan berada dalam kondisi “advanced deterioration” di mortuary NUH setelah rumah sakit kehabisan ruang freezer.
Donna Ockenden: pola kegagalan dan kurangnya pembelajaran
Ockenden juga menyimpulkan adanya pola yang berulang dalam perawatan setelah kematian. Ia menulis, “Many incidents involving poor post-death care share striking similarities, showing a marked lack of learning”.
Peninjauan menyinggung cara kerja yang “siloed way of working” antara layanan dukacita (bereavement service), kamar jenazah (mortuary), dan funeral directors. Menurut laporan, pemisahan antarbagian itu ikut berkontribusi pada lemahnya respons terhadap insiden.
Selain prosedur, laporan juga menyatakan beberapa tenaga kesehatan memakai bahasa yang dinilai “dehumanising” saat membahas bayi, misalnya menggunakan istilah “fetus”, “a sample” atau “specimen”.
Laporan setebal 381 halaman itu membentangkan detail layanan mortuary di dua rumah sakit utama NUH—Queen’s Medical Centre (QMC) dan City Hospital—mulai 2008 hingga 2025. Tinjauan mencakup 17 bayi dan satu orang dewasa.
Contoh kasus yang disebut dalam laporan
Salah satu temuan menyatakan ada bayi yang disimpan di mortuary selama 772 hari. Dalam laporan disebutkan kondisi diperiksa 31 hari setelah kematian dan ditemukan tanda pemburukan, namun bayi tidak dipindahkan ke penyimpanan freezer hingga 151 hari setelah kematian.
Kasus lain, seorang ibu diberitahu setelah kematian bayi yang masih dalam tahap kehamilan awal bahwa bayinya adalah laki-laki. Namun lima bulan kemudian, ibu tersebut mengetahui bahwa bayinya perempuan. Ibu itu sudah terlanjur mengubur bayinya sebagai laki-laki di dalam peti mati warna biru.
Laporan juga menuliskan bahwa ibu itu telah memberikan nama laki-laki kepada bayinya, dan nama tersebut bahkan ditato pada tubuh bayi. Setelah peninjauan, pencatatan kelahiran dan kematian bayi kemudian dilakukan dengan benar.
Pada 2008, seorang ibu melaporkan kehamilan dengan saudari kembar triplet yang mengalami keguguran. Dua dari saudari tersebut, menurut temuan, sempat hidup “for a significant amount of time”, tetapi NUH mendaftarkan ketiganya sebagai miscarriages. Ibu tersebut disebut tidak dapat mengambil cuti melahirkan ataupun mengajukan manfaat terkait melahirkan.
Setelah peninjauan, kelahiran dan kematian ketiga bayi kemudian berhasil didaftarkan, lebih dari 17 tahun kemudian.
Di tahun 2024, sebuah bayi yang lahir meninggal (“stillborn”) dilaporkan “remained in fridge for four days on the labour ward”. Kegagalan memindahkan bayi ke mortuary baru teridentifikasi empat hari setelahnya. Insiden tersebut diberi judul “baby found in fridge”.
Sementara itu, pada 2025, seorang ibu yang meminta untuk melihat bayinya diberi tahu bahwa bayi berada di freezer dan “would need to thaw”. Ibu tersebut sebelumnya tidak diberi tahu bahwa bayinya akan disimpan dalam kondisi beku.
Surat dan foto pascakematian: kisah Natalie Needham
Di antara keluarga yang menjadi sorotan, Natalie dan David Needham menyatakan trauma kehilangan bayi mereka, Kouper, diperparah oleh cara informasi pascakematian disampaikan.
Natalie mengatakan bahwa bayinya Kouper meninggal pada Juli 2019, ketika usianya baru 24 jam. Ia dikatakan meninggal karena komplikasi pernapasan (“respiratory complications”) di dalam Moses basket di ruang keluarga rumah mereka. Kouper disebut telah dipulangkan dari Nottingham City Hospital sekitar 14 jam setelah ia lahir.
Natalie menyatakan keluarga menerima surat tanpa peringatan pada Februari 2020. Ia menuturkan, “The letter itself read ‘dear Doctor’, so it wasn’t actually written to me”.
Dalam surat yang diterima, Natalie menyebut ada daftar rincian biaya kematian Kouper. Ia mengatakan daftar itu mencantumkan, antara lain, biaya inkubasi (“incubation tubes”), biaya pengiriman ambulans, hingga biaya penerbangan pesawat udara khusus.
Natalie juga mengutip bagian terakhir dari daftar tersebut: “The last item on the list was that it cost the NHS £57 for a nurse to come and tell me that my son was dead”.
Berita Terkait
Ia menuturkan pula bahwa pada cakram (disc) terdapat semua foto pemeriksaan pascakematian (“post-mortem images”), termasuk ketika Kouper ditempatkan di meja mortuary (“put upon a mortuary slab”). Natalie menyebut itu adalah sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan harus dilihat.
Natalie mengungkapkan, “I’d always wanted my last image of Kouper to be when I was holding him in hospital while he was still breathing,” dan melanjutkan bahwa “That was taken away from me – because my last image of him now is those mortuary pictures.”
Menurut Natalie, ketika ia menelepon nomor pada surat setelah membukanya, sekitar satu jam kemudian ada petugas yang datang ke rumah meminta dokumen dikembalikan. Ia menyatakan menolak menyerahkan dokumen tersebut.
Natalie menuturkan, “Within about an hour of me contacting them, somebody was at my door from the hospital asking for the paperwork back. I refused to give it to them”. Ia lalu menceritakan bahwa pihak rumah sakit kemudian menulis kembali bahwa jika Natalie menolak mengirim dokumen, mereka akan memulai proses pengadilan karena Natalie dianggap menahan informasi yang seharusnya menjadi milik mereka.
Natalie menyatakan ia tetap menolak menyerahkan dokumen, dan ia mengatakan masih menyimpan dokumen tersebut hingga kini.
NUH dimintai tanggapan atas insiden itu, namun trust tidak menjawab secara langsung. Ketika Natalie kemudian mengangkat kasusnya kepada chief executive NUH yang baru, Anthony May, pada 2022, keluarga diberi penjelasan bahwa surat dikirim setelah penyelidikan sebagai bagian dari subject access request (SAR)—hak formal di bawah hukum perlindungan data yang memungkinkan seseorang meminta akses informasi pribadi yang dimiliki atau disimpan oleh suatu organisasi.
Tim peninjauan Ockenden juga menyelidiki kejadian yang melibatkan Natalie. Dalam laporan disebutkan dokumen-dokumen tersebut dikirim sebagai respons atas SAR. Sebuah surat yang ditujukan kepada keluarga Needhams disebut menyatakan, “the disclosure of these items was completely unacceptable in every way”.
Laporan menuliskan juga penilaian bahwa “The sending of such graphic images and financial information to a grieving family who have already been through a very traumatic experience is incomprehensible”.
Namun Natalie menyatakan ia tidak yakin surat tersebut datang sebagai bagian dari SAR, dan ia menyebut masih mencari jawaban. Ia mengatakan, “Somebody has done that. You don’t type up a letter with someone’s address on it, address it to the trust and send it. I feel like it was done on purpose”.
Permintaan maaf dan langkah perbaikan yang disebut NUH
Menanggapi, Tracy Pilcher selaku chief nurse NUH menyampaikan permintaan maaf kepada Natalie Needham dan keluarganya atas kesalahan dalam penanganan SAR. Ia mengatakan, “I would like to apologise to Natalie Needham and her family for the mistakes we made in handling her subject access request (SAR)”.
Ia juga menyatakan bahwa setelah insiden tersebut dilakukan penyelidikan menyeluruh untuk menilai area di mana proses quality assurance dinilai belum memenuhi standar yang diharapkan. Menurut pernyataannya, “Actions have been taken to strengthen these processes and reduce the risk of such an incident happening again.”
Kasus Harriet Hawkins dan insiden kerusakan yang dipaparkan
Dalam laporan, kekhawatiran awal tentang perawatan mortuary disebut muncul dari Jack dan Sarah Hawkins, orang tua dari Harriet yang lahir meninggal pada 2016. Ockenden memaparkan bahwa ada “exemplar case” yang kemudian mendorong peninjauan pascakematian di trust tersebut.
Ockenden menyatakan, “The first very serious mortuary case the review became aware of occurred in 2016, that of the complete failure of the after-death care and treatment of Harriet Hawki” lalu disebutkan bahwa ini termasuk pelanggaran yang berdampak serius. Ia menambahkan bahwa kondisi yang seharusnya bisa dimonitor dengan investigasi lanjutan tidak berlangsung sesuai yang diharapkan, namun bagian lanjutan kutipan yang diberikan dalam teks sumber terpotong.
Keluarga kemudian mengetahui bahwa tubuh Harriet dibiarkan membusuk sedemikian buruk hingga jenazah harus dimasukkan ke “triple-bagged” sebelum pemakaman.
Bulan lalu, setelah terkuak delapan jenazah ditemukan dalam kondisi “advanced deterioration” di mortuary, Anthony May menyatakan kepada BBC bahwa ia mengambil “responsibility and accountability” atas kekurangan yang “happened on my watch”.
Hal itu disebut mengikuti penyelidikan Human Tissue Authority (HTA), lembaga yang mengatur perawatan mortuary di Inggris, Wales, dan Irlandia Utara. Manjeet Shehmar, medical director NUH, menyebut trust telah bertemu HTA untuk membahas kekhawatiran dan cara memperbaiki.
NUH juga menyatakan telah membentuk “a new daily mortuary capacity and flow meeting” untuk mengelola kapasitas dan mengurangi pemburukan, serta memperluas kapasitas penyimpanan. NUH juga disebut telah mengirimkan daftar insiden secara retrospektif kepada HTA untuk “additional oversight”.
Penangkapan terkait praktik mortuary
Di sisi lain, Nottinghamshire Police melakukan penangkapan terhadap dua pria pada bulan lalu dengan dugaan “misconduct in a public office” terkait praktik mortuary NUH. Penangkapan dilakukan dalam rangka Operation Perth, dan disebut terkait investigasi yang terpisah dari penyelidikan corporate manslaughter terhadap NUH.
Dalam teks sumber, disebutkan usia dua pria tersebut adalah 55 dan 59 tahun, dan mereka tetap berstatus di tahanan sementara dengan jaminan (on bail).
Keinginan Natalie untuk tetap mencari jawaban
Meski berbagai pernyataan dan langkah perbaikan disebutkan, Natalie menyatakan ia tidak akan berhenti memperjuangkan jawaban. Ia berkata, “I really would love to get answers, because there needs to be accountability,” dan menambahkan, “Then I wouldn’t have to live the rest of my life with the ‘what ifs’ and the ‘whys’.”












