jurnalistik.co.id – Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), menyatakan kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU. Ia juga menegaskan bahwa niat pencalonan itu berorientasi pada upaya mengurai persoalan yang dihadapi NU serta merumuskan arah organisasi ke depan.
Gus Rozin menyampaikan hal tersebut dalam keterangannya kepada Kompas.com pada Jumat (17/6/2026). Menurutnya, langkah yang ia ambil merupakan bentuk ikhtiar untuk berkontribusi pada masa depan organisasi.
Dalam penjelasannya, ia tidak ingin kontestasi dipahami sekadar sebagai arena persaingan antartokoh. Gus Rozin menegaskan, “Kita tidak usah mengulik tokoh-tokoh yang berkontestasi”.
Ia kemudian mengarahkan pembicaraan pada kebutuhan internal organisasi. “Kita mencoba mengurai masalah yang ada,” ujar Gus Rozin, dan menyatakan bahwa fokus tersebut menjadi alasan utama di balik keputusannya untuk ikut berkontestasi.
Gus Rozin juga menyatakan bahwa keputusan untuk maju tidak diambil secara mendadak. Sebelum menyatakan sikap, ia mengaku telah melalui proses perenungan dan berdiskusi dengan sejumlah sahabat serta pengurus NU dari berbagai daerah.
“Saya sempat berpikir lama dan akhirnya sekitar dua hari lalu, saya bersama teman-teman dan beberapa Ketua PCNU yang menghubungi saya, maka saya berikhtiar untuk berkontestasi pada Muktamar tahun ini,” ungkap Gus Rozin. Ia menggambarkan proses itu sebagai rangkaian pertimbangan yang matang, bukan dorongan sesaat.
Sebelum memasuki tahapan pencalonan, ia juga menyebut telah menyampaikan pemberitahuan kepada pengurus cabang yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan organisasinya di Nahdlatul Ulama. “Ini merupakan ikhbar sekaligus meminta doa kepada para Ketua PCNU se-Jawa Tengah. Saya melakukan ini karena saya berangkat dari Jawa Tengah, dan saya merasa bahwa para Ketua PCNU ini bukan orang lain,” katanya.
Berita Terkait
Menurut Gus Rozin, permohonan doa dan dukungan kepada para pengurus cabang dipandangnya sebagai bentuk keterikatan yang berangkat dari asal dan jejak aktivitas organisasi. Dari sudut pandangnya, restu dari jejaring tersebut penting sebelum mendorong langkah yang lebih besar pada tingkat PBNU.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pencalonan tetap dibaca dalam konteks memperkuat persatuan organisasi. Ia menyatakan langkah itu sekaligus menjadi ruang untuk menawarkan gagasan bagi masa depan NU, tanpa menjadikan kompetisi personal sebagai pusat perhatian.
Gus Rozin juga menyampaikan visi agar Nahdlatul Ulama menjadi organisasi sosial keagamaan Islam yang berdaulat, bermartabat, dan memberi manfaat. Ia menyebutkan, “Kita ingin NU terwujud sebagai perkumpulan sosial keagamaan Islam yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat untuk kemaslahatan dan kesejahteraan Indonesia dan semesta”.
Dalam arah yang ia susun, pembenahan tidak hanya diarahkan pada tata kelola, tetapi juga pada dampak bagi kemaslahatan umat, bangsa, serta kemanusiaan. Ia ingin gagasan visi tersebut menjadi pijakan untuk membentuk perjalanan organisasi setelah muktamar.
Gus Rozin juga mengajak seluruh PCNU di Jawa Tengah untuk menjadikan Muktamar sebagai momentum memperkuat konsolidasi. Ia menekankan bahwa muktamar seharusnya tidak memperlebar perbedaan, melainkan menguatkan kebersamaan di internal NU.
“Yang harus kita menangkan adalah masa depan NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat. Muktamar harus menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan dan melanjutkan khidmah kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan,” ujar Gus Rozin, yang juga tercatat sebagai Rektor Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati.
Dengan demikian, Gus Rozin memposisikan pencalonannya bukan sebagai upaya mempertajam persaingan, melainkan sebagai ikhtiar untuk menjawab tantangan organisasi melalui konsolidasi dan perumusan arah. Ia berharap dukungan dan doa dari para pengurus cabang dapat menjadi pijakan langkahnya pada Muktamar ke-35 NU.












