Politik & Parlemen

PKB: Cak Udin Nilai PBNU Lima Tahun Terakhir Didominasi Kisah Konflik

×

PKB: Cak Udin Nilai PBNU Lima Tahun Terakhir Didominasi Kisah Konflik

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: PKB: PBNU 5 Tahun Terakhir Lebih Banyak Cerita Konfliknya

jurnalistik.co.id – Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Hasanuddin Wahid, yang akrab disapa Cak Udin, menilai kepengurusan Nahdlatul Ulama (PBNU) membutuhkan penyegaran. Menurutnya, pembaruan itu penting agar marwah organisasi kembali pada arah yang semestinya.

Dalam penilaiannya, dinamika lima tahun terakhir justru lebih banyak diisi oleh pertentangan antarelite. Cak Udin menyebut situasi tersebut terlihat secara terbuka dan tidak sejalan dengan tujuan penguatan peran organisasi di masyarakat.

“Kita lihat 5 tahun terakhir, kita dipertontonkan konflik para elitnya, secara terbuka gitu. Jadi, lebih banyak cerita konflik, cerita berantem daripada cerita keberhasilan mengayomi masyarakat, memberdayakan masyarakat dan sebagainya,” ujar Cak Udin saat ditemui di Kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, Rabu (15/7/2026).

Ia kemudian mengaitkan kebutuhan penyegaran itu dengan prospek peran NU di ruang keagamaan, kemasyarakatan, dan kebangsaan. Cak Udin berpendapat bahwa tanpa langkah pembaruan, organisasi dikhawatirkan semakin terpuruk dalam menjalankan fungsi utamanya.

“Saya sih menganggap bahwa NU perlu di- refreshing . Kenapa? Karena tanpa ada refreshing ini akan menjadikan peran, fungsi, marwah, martabat NU ke depan dalam kehidupan keagamaan, kemasyarakatan, dan kebangsaan akan semakin terpuruk,” ucapnya.

Lebih lanjut, Cak Udin mengarahkan agar warga Nahdlatul Ulama atau Nahdliyin menentukan pilihan ketua umum yang benar-benar membawa karakter berbeda. Ia menekankan ketum baru diharapkan mampu meneduhkan dan mengayomi, bukan sekadar menjadi figur yang mengumbar konflik.

“Jadi, siapakah itu? Ya, yang bukan yang sekarang. Silakan dipilih mau siapapun, yang penting bukan sekarang,” tutur dia.

Pernyataan Cak Udin sejalan dengan pandangan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) yang mendorong adanya perubahan kepemimpinan. Dalam pemberitaan sebelumnya, Cak Imin menyebut bahwa PBNU memerlukan pemimpin yang baru dan lebih segar karena pihak lama dinilai tidak membawa perubahan.

“Ya pemimpin yang baru. Saat ini butuh pemimpin baru yang fresh ,” ujar Cak Imin saat ditemui di Kemang, Jakarta, Minggu (12/7/2026). Ia menambahkan, “Karena yang lama sudah lima tahun enggak ada perubahan,” kata dia lagi.

Namun, penilaian tersebut mendapat respons dari Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf. Gus Yahya menilai Cak Imin tidak memahami sepenuhnya kerja kepengurusan di PBNU, terutama karena tidak pernah menduduki jabatan strategis di lingkungan organisasi.

“Kalau Pak Imin mengatakan begitu saya kira ya karena beliau memang ya mungkin kurang mengerti tentang NU ya? Karena seumur hidup beliau belum pernah jadi pengurus NU di semua tingkatan,” kata Gus Yahya.

Ia melanjutkan bahwa pengalaman Cak Imin di struktur kepengurusan selama ini juga tidak terbentuk hingga level ranting. Dari sudut pandangnya, perbedaan pengalaman itu membuat Cak Imin tidak mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi dalam organisasi dari waktu ke waktu.

“Jadi pengurus ranting saja belum pernah. Jadi, beliau tidak tahu perubahannya-perubahannya seperti apa kan beliau tidak tahu,” sambung dia.

Gus Yahya tetap membuka ruang bagi pandangan Cak Imin apa pun bentuknya, tetapi menegaskan bahwa penilaian kepemimpinan seharusnya datang dari warga NU sendiri. Dengan demikian, perbincangan mengenai penyegaran PBNU mengarah pada soal otoritas penilaian: siapa yang paling memahami kerja organisasi dan kondisi yang sedang berlangsung.

Kemudian, pernyataan-pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa isu penyegaran kepemimpinan PBNU tidak hanya berkutat pada wacana pergantian figur. Di mata Cak Udin, perubahan itu berhubungan langsung dengan orientasi organisasi agar kembali menekankan pengayoman dan pemberdayaan, bukan dominasi kisah konflik antarelite.