jurnalistik.co.id – Harga emas dunia kembali melemah pada akhir perdagangan Rabu (17/6/2026) waktu setempat, atau Kamis (18/6/2026) pagi WIB. Pergerakan ini terjadi setelah Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga dan memberi sinyal bahwa kenaikan masih mungkin dilakukan tahun ini.
Dalam perdagangan tersebut, harga emas spot turun 0,7 persen ke level 4.299,89 dollar AS per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS justru menguat 0,6 persen menjadi 4.381,40 dollar AS per ons.
Menurut laporan Reuters, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen. Namun, proyeksi terbaru menunjukkan 9 dari 19 pembuat kebijakan The Fed memperkirakan suku bunga perlu dinaikkan lagi pada tahun ini.
Sinyal tersebut mendorong penguatan dollar AS dan menekan harga emas. Logam mulia dinilai menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan cenderung tertekan.
The Fed memberi sinyal hawkish
Dalam konferensi pers pertamanya setelah memimpin rapat kebijakan moneter sebagai Ketua The Fed, Kevin Warsh mengumumkan pembentukan lima gugus tugas untuk meninjau berbagai aspek pelaksanaan kebijakan bank sentral. Langkah ini menjadi salah satu sorotan pelaku pasar di tengah ekspektasi arah kebijakan lanjutan.
Pedagang logam independen Tai Wong menilai cara Warsh menyampaikan pesan kebijakan terlihat lebih tegas. “Ini adalah The Fed yang baru. Warsh terlihat tajam, percaya diri, dan energik. Ia akan menjadi pengelola, bukan sekadar penjaga institusi. Pesan yang disampaikan adalah perubahan akan datang, tetapi setelah melalui pertimbangan yang matang,” kata Tai Wong.
Wong juga menyoroti pandangan Warsh mengenai suku bunga yang dinilai lebih hawkish dibanding Jerome Powell. Menurutnya, pernyataan itu memengaruhi persepsi pelaku pasar terhadap kemungkinan kenaikan lanjutan.
“Dia juga mengatakan dua kali, bahwa menurutnya suku bunga saat ini hanya bersifat membatasi di sektor perumahan. Itu membuat posisinya lebih hawkish dibandingkan Powell. Saya kira itulah yang mendorong pelemahan pasar. Pernyataan resmi dan proyeksi suku bunga sama-sama bernada hawkish dan Warsh tidak berusaha meredam pesan tersebut,” papar Wong.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini melihat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember 2026 mencapai 78 persen. Angka ini meningkat dari 61 persen sebelum pengumuman keputusan bank sentral tersebut.
Selain faktor suku bunga, kekhawatiran inflasi juga dipengaruhi harga minyak yang masih berada di level tinggi. Kombinasi kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga berpotensi tetap tinggi dalam waktu lebih lama.
Meski emas kerap dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven) terhadap inflasi, logam mulia cenderung tertekan ketika suku bunga meningkat. Hal ini karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya, sehingga daya tariknya bagi investor bisa menurun di lingkungan suku bunga yang lebih tinggi.
Pekan lalu, harga emas sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari enam bulan. Pergerakan itu muncul setelah konflik Iran memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatkan spekulasi kenaikan suku bunga.
Di tengah sentimen geopolitik, Presiden AS Donald Trump mengatakan kesepakatan yang dicapai dengan Iran pada pekan ini belum bersifat final. Ia juga menyebut dapat kembali melancarkan serangan jika tidak puas dengan hasil kesepakatan tersebut.
Sentimen tersebut ikut memengaruhi pasar logam mulia, meski arah pergerakannya juga tetap bergantung pada sinyal kebijakan moneter. Untuk sebagian pelaku pasar, kombinasi ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi suku bunga menjadi penentu dinamika harga aset terkait.
Pada perdagangan logam mulia lainnya, harga perak spot turun 1,1 persen menjadi 69,41 dollar AS per ons. Sementara platinum merosot 2 persen ke 1.768,03 dollar AS per ons dan palladium turun 1,1 persen ke 1.336,91 dollar AS per ons.
Dengan latar tersebut, pergerakan hari ini memperlihatkan bahwa pasar masih menempatkan penilaian terhadap kebijakan The Fed sebagai faktor dominan. Di saat yang sama, prospek suku bunga yang dipandang tetap ketat membuat emas menghadapi tekanan, meski sentimen inflasi dan ketegangan geopolitik terus menjadi perhatian pelaku pasar.












