Internasional

AS-Iran Saling Tembak saat Ketegangan Memanas di Selat Hormuz

×

AS-Iran Saling Tembak saat Ketegangan Memanas di Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: US and Iran trade fire as tensions rise over Strait of Hormuz

jurnalistik.co.id – Hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah dua pihak saling melaporkan serangan dalam rangkaian eskalasi yang berlangsung berhari-hari. Dalam beberapa jam di hari Minggu malam, klaim serangan baru muncul dari Washington dan Teheran, di tengah perdebatan sengit mengenai status Selat Hormuz.

Amerika Serikat meluncurkan serangan baru pada Minggu malam, melanjutkan rangkaian serangan sebelumnya terhadap Iran. Media negara Iran melaporkan serangan itu menewaskan satu orang di bagian barat daya Iran, serta melukai empat lainnya.

Tak lama setelah serangan AS tersebut, Komando Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan telah menyerang pangkalan militer AS di Kuwait, Yordania, dan Bahrain. Pernyataan IRGC tersebut muncul “dalam hitungan jam” setelah serangan baru AS.

Kronologi serangan dan lokasi yang diklaim

Pada malam itu, Pusat Komando AS (Centcom) mengumumkan gelombang serangan lanjutan terhadap sasaran militer Iran. Centcom menyebut serangan dimulai pada pukul 17:00 ET (22:00 BST) dengan menargetkan puluhan situs militer, termasuk sistem pertahanan udara, radar pesisir, serta kemampuan rudal dan drone.

Menurut Centcom, pasukan AS menyatakan kesiapan untuk memastikan “kebebasan navigasi” tetap tersedia bagi pelayaran komersial, meski Iran terus melakukan “agresi yang tidak semestinya”, pelecehan, ancaman, dan deklarasi sepihak. Pernyataan itu disampaikan bersamaan dengan pengumuman resmi serangan.

Beberapa menit sebelum pengumuman awal Centcom, televisi negara Iran melaporkan terdengar ledakan di Sirik, Qeshm, Bandar Abbas, dan Jask. Laporan tersebut menyertakan keterangan yang mengaitkan dampak serangan dengan klaim korban pada bagian tertentu wilayah Iran.

IRNA kemudian mengutip pejabat daerah, dengan menyebut “serangan musuh Amerika” pada Senin pagi menyebabkan satu orang disebut “syahid” dan empat lainnya cedera, dengan mengacu pada Wakil Gubernur urusan keamanan dan penegakan hukum di Provinsi Khuzestan, Valiollah Hayati.

Selat Hormuz dan ketegangan diplomatik

Eskalasi serangan itu turut menempatkan masa depan kesepakatan sementara AS–Iran yang ditandatangani pada Juni dalam bayang-bayang. Kesepakatan tersebut, sebagaimana disebut dalam narasi konflik, memiliki tujuan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan pada akhirnya mengarah pada akhir permanen permusuhan.

Di saat yang sama, klaim mengenai apakah Selat Hormuz “terbuka” atau “ditutup” kembali saling bertentangan. Iran menyatakan menutup jalur air strategis itu “hingga pemberitahuan selanjutnya”, sementara AS menegaskan bahwa selat tersebut masih dapat diakses.

Perdebatan itu muncul di tengah ingatan bahwa pada 28 Februari, setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran, Teheran secara efektif menutup Selat Hormuz. Selat itu menjadi jalur penting karena sekitar 20% minyak dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melewati perairan tersebut.

Centcom juga menegaskan bahwa Selat Hormuz terbuka, disertai peringatan bahwa militer AS berada dalam posisi untuk memastikan arusnya tetap lancar. Dengan kata lain, AS menempatkan serangan sebagai bentuk jaminan navigasi, bukan sekadar respons balasan.

Di ranah politik, Presiden AS Donald Trump menyatakan pekan ini bahwa serangan Iran berarti gencatan senjata telah berakhir. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh AS melanggar kesepakatan. Meski demikian, Trump mengatakan pembicaraan masih akan dilanjutkan dan para mediator berupaya menghidupkan kembali prosesnya.

Dampak ke pasar energi

Perubahan arah eskalasi turut tercermin pada pergerakan harga energi pada Senin pagi di Asia. Brent crude dilaporkan naik 4% menjadi $79,07 per barel, sedangkan minyak yang diperdagangkan AS naik 4,2% menjadi $74,53.

Harga energi di pasar grosir global disebut mengalami fluktuasi tajam dalam beberapa bulan terakhir, karena pelaku pasar merespons perkembangan konflik. Kendati ada kenaikan terbaru, harga masih berada di bawah level lebih dari $120 per barel yang pernah dicapai Brent pada akhir April.

Serangan sebelumnya dan respons berantai

Gelombang serangan pada Minggu malam datang setelah, menurut Centcom, pasukan AS menyerang 140 target militer Iran pada Sabtu malam. IRGC kemudian merespons serangan tersebut dengan serangan luas ke pangkalan AS dan sekutunya di kawasan, sehingga dinilai menandai eskalasi dalam skala permusuhan.

Dalam respons IRGC itu, beberapa pihak disebut menjadi sasaran, termasuk Qatar yang berperan sebagai mediator dalam pembicaraan gencatan senjata dan belum diserang sejak April. Selain itu, Uni Emirat Arab (UEA) juga disebut tidak pernah diserang sejak Mei.

BBC melaporkan telah menghubungi Centcom untuk meminta komentar terkait serangan yang dikaitkan di Yordania. Pengumuman dan klaim dari masing-masing pihak sejauh ini belum memberikan konfirmasi yang sepenuhnya selaras.

Dengan saling tuding serangan dan pernyataan yang saling berlawanan tentang status Selat Hormuz, upaya mempertahankan gencatan senjata sementara menghadapi tantangan besar. Pergeseran dari serangan ke balasan yang cepat membuat ruang negosiasi makin sempit, sementara navigasi di jalur strategis tetap menjadi pusat perhatian utama.