Bisnis & Ekonomi

Harga pangan turun, tapi inflasi diproyeksikan meningkat lagi ke depan

×

Harga pangan turun, tapi inflasi diproyeksikan meningkat lagi ke depan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Food prices have fallen – but inflation expected to rise from here

jurnalistik.co.id – Inflasi Inggris pada Juni melambat ke 2,6% untuk periode setahun hingga Juni, turun dari 2,8% pada periode setahun hingga Mei, menurut data Kantor Statistik Nasional (ONS). Perlambatan ini terutama berkaitan dengan turunnya biaya bahan bakar dan bahan pangan.

Perkembangan itu mendapat sambutan dari Perdana Menteri baru Andy Burnham dan pemerintahnya. Namun, sejumlah analis mengingatkan bahwa penurunan saat ini berpotensi bersifat sementara, karena inflasi diproyeksikan kembali naik pada periode mendatang seiring tekanan biaya energi.

Di sisi bahan bakar, ONS mencatat penurunan yang dipicu oleh biaya yang lebih rendah—terutama harga diesel. Harga di pom bensin ikut turun pada Juni dan menjadi pertama kalinya sejak awal perang di Timur Tengah. Untuk biaya transportasi lainnya, turunnya harga BBM ikut membantu menahan laju inflasi secara keseluruhan.

Selain energi dan BBM, kategori pakaian juga ikut menurun. Biaya pakaian turun seiring musim diskon musim panas, dengan banyak peritel menawarkan potongan harga yang lebih besar dibanding tahun lalu.

Inflasi juga bergerak lebih rendah karena persaingan ritel. British Retail Consortium (BRC) menyebut turunnya inflasi pangan terutama didorong oleh “intense competition between supermarkets”. Ekonom BRC Harvir Dhillon menambahkan, “If retailers are to keep prices affordable for consumers in the long run, the Government needs to take practical steps to lower the everyday cost of doing business,” dan menegaskan, “Andy Burnham has taken immediate action to ease pressure on household budgets; he must now look to do the same for businesses.”

Di ranah pangan, inflasi untuk makanan dan minuman non-alkohol turun 0,2% dari bulan ke bulan. Penurunan terbesar terlihat pada komoditas seperti gula, cokelat, dan aneka permen. Untuk ukuran setahun ke belakang, beberapa kelompok harga menunjukkan pelemahan yang lebih jelas.

ONS mencatat inflasi harga daging sapi dan daging sapi muda (beef and veal) melambat dari 9,4% pada 12 bulan hingga Mei menjadi 5,1% pada 12 bulan hingga Juni. Sementara itu, inflasi untuk edible offal—yang mencakup produk seperti hati, ginjal, dan lidah—turun dari 9,2% menjadi 3,4% pada periode yang sama.

Komoditas lain juga merespons dengan harga yang lebih rendah. ONS menyebut pizza dan quiches turun 6,7% dalam periode setahun hingga Juni, sedangkan margarin turun 1,9% pada periode yang sama.

Penurunan bisa sementara, energi jadi pemicu berikutnya

Walaupun inflasi pangan menunjukkan pelemahan, para analis memperingatkan ada jeda penularan dari rantai pasok. “Food inflation often has a lag of up to 13 months due to the supply chain,” sehingga dampak dari situasi geopolitik tertentu—termasuk perang di Iran—dapat saja baru terlihat belakangan.

Dari sisi bahan bakar, turunnya biaya pada Juni dikaitkan dengan keputusan AS dan Iran untuk menghentikan operasi militer sementara serta membuka kembali Selat Hormuz. Akan tetapi, kembalinya permusuhan dan lonjakan harga minyak mentah membuat proyeksi berubah: inflasi dapat kembali melonjak dalam beberapa bulan ke depan.

Untuk inflasi keseluruhan, pemerintah menilai angka Juni tetap menjadi sinyal positif, tetapi fokus kebijakan berikutnya diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat. Perdana Menteri Burnham berupaya menempatkan biaya hidup sebagai prioritas, sementara Kanselir John Healey menyebut penurunan laju inflasi sebagai kabar yang dinanti keluarga.

Di tingkat kebijakan, pemerintah mengumumkan pada Rabu pagi bahwa plafon tarif bus di Inggris akan kembali diturunkan menjadi ÂŁ2 pada Januari. Pengumuman itu datang setelah Burnham menyatakan VAT untuk tagihan listrik rumah tangga akan dihapus untuk sisa tahun, mulai Oktober.

Healey menilai dua langkah tersebut saling menguatkan: “Both these changes are a win-win. They help keep inflation down, while helping people afford the essentials.” Dengan demikian, meski angka inflasi Juni bergerak turun, pemerintah berusaha menahan agar tekanan biaya hidup tidak cepat kembali muncul.

Kenaikan suku bunga dinilai belum menjadi kepastian

Meski inflasi turun ke 2,6%, angka tersebut masih berada di atas target Bank of England sebesar 2%. Suren Thiru, kepala ekonom Institute of Chartered Accountants in England and Wales, mengatakan kenaikan suku bunga saat rapat bank pekan depan dinilai tidak mungkin. Ia menyatakan, “Rate-setters may want to assess the impact of any measures announced by the new Prime Minister before deciding whether to tighten policy again.”

Thiru juga menilai inflasi yang kembali meningkat berpotensi menjadi tantangan ekonomi yang lebih terasa bagi Healey: “squeezing his fiscal headroom, raising borrowing costs, and increasing financial market volatility”. Artinya, bila inflasi kembali menguat, ruang fiskal pemerintah bisa menyempit sekaligus meningkatkan biaya pinjaman.

Yael Selfin, kepala ekonom KPMG, menambahkan bahwa angka Juni kemungkinan menjadi yang terendah tahun ini. Menurutnya, tagihan energi yang lebih tinggi—akibat kenaikan price cap oleh Ofgem—kemungkinan mendorong inflasi kembali naik. Ia memperingatkan efek lanjutan yang mungkin merembet lebih luas: “Although the impacts from the initial energy shock have so far been relatively limited, if energy prices remain high for longer, second-round effects risk feeding through into wages and more broadly across the economy.”

Dari perspektif keuangan rumah tangga, Sarah Coles dari AJ Bell menyebut ekspektasi pasar masih mengarah pada satu kali kenaikan suku bunga saja pada akhir 2026, dengan waktu yang diperkirakan jatuh pada September dan kemungkinan kenaikan berikutnya pada Februari. Ia menuturkan, “It means the most generous rates are likely to edge up. If you’re in the market for a new savings account, it’s worth keeping your eye open for a bargain and acting fast while it lasts.” Namun, ia juga menyampaikan sisi lain yang kurang menguntungkan bagi pemilik utang KPR: “There’s miserable news for anyone in the market for a new mortgage. Mortgage rates had been falling across the board, but this week has seen them jump significantly.”

Dengan demikian, angka inflasi Juni menunjukkan adanya tekanan yang mulai mereda—terutama pada harga pangan—tetapi proyeksi ke depan tetap menempatkan energi sebagai penentu utama. Jika biaya energi kembali mendorong harga, inflasi berpotensi bergerak naik lagi, sekaligus memengaruhi ruang kebijakan dan kondisi ekonomi yang lebih luas.