jurnalistik.co.id – Pihak US Immigration and Customs Enforcement (ICE) berencana membekali petugasnya dengan perangkat berupa sarung tangan yang dapat memberikan kejut listrik saat menjalankan tugas penegakan hukum.
Menurut catatan yang dipaparkan Department of Homeland Security (DHS), ICE menargetkan pengadaan perangkat bernama Generated Low Output Voltage Emitter (GLOVE) dengan anggaran hingga 20 juta dolar AS (setara 14,8 juta poundsterling).
Perangkat tersebut diklaim mampu mengalirkan listrik hingga 380 volt, atau sekitar tiga kali muatan dari stopkontak rumah tangga standar di AS.
DHS menyebut ICE terus menilai kebutuhan petugas di lapangan agar mereka memiliki alat dan perlengkapan yang diperlukan untuk melakukan penangkapan serta penertiban dengan cara yang aman. Dalam pernyataan yang disampaikan kepada BBC, DHS mengatakan, “ICE is constantly assessing the needs of our officers in the field to ensure they have the tools and equipment necessary to safely arrest and remove criminal illegal aliens from our country,” lalu menambahkan, “Every decision is made with careful consideration and appropriately reviewed to ensure that any technology ICE utilises is consistent with all applicable law enforcement policies and standards,”.
GLOVE disebut diaktifkan dengan menekan tombol. Setelah tombol ditekan, perangkat dapat memberikan rangkaian kejut dengan kemampuan hingga 30 pulsa per detik.
Perangkat ini juga dilengkapi mikroprosesor yang berfungsi untuk mencatat setiap kali aktivasi dilakukan. Klaim pencatatan tersebut menjadi bagian dari kerangka penggunaan yang ingin dipastikan dapat ditelusuri.
Compliant Technologies LLC, perusahaan pembuat GLOVE, menyatakan kepada BBC bahwa pihaknya tidak dapat memberikan komentar terkait penjualan. DHS juga menyebut adanya kemungkinan kontrak pembelian tanpa proses tender (no-bid purchase) dapat diumumkan seawal Jumat.
Ketentuan penggunaan menurut manual
Di situs perusahaan, Compliant Technologies menyatakan bahwa perangkat tidak menyebabkan cedera dan telah digunakan oleh banyak instansi. Namun, sebuah manual pengguna juga memuat daftar kondisi yang dianjurkan untuk dihindari, termasuk untuk kelompok usia lanjut, anak kecil, perempuan hamil, serta “severely handicapped”.
Berita Terkait
manual tersebut juga meminta adanya petugas tambahan yang hadir untuk menahan subjek ketika sarung tangan digunakan. Manual juga menegaskan bahwa perangkat harus bersentuhan dengan kulit, tetapi akan tetap berfungsi melalui lapisan pakaian yang tipis apabila kondisi basah.
Dari sisi pelatihan, manual menyarankan pengguna mengikuti pelatihan serta menjalani sertifikasi ulang setiap dua tahun. Pengguna juga diminta mempertimbangkan pengalaman dan tingkat kenyamanan mereka dengan teknologi itu, termasuk tindakan dan perilaku yang mungkin dilakukan subjek ketika berinteraksi dengan petugas.
Manual menekankan pertimbangan risiko dan manfaat yang berkaitan dengan “any level of given force”. Di bagian lain, manual menyatakan, “It is not intended to compete with or replace any existing tool but to supplement existing weapons and tools within an agency’s policies and TTPs [tactics, techniques and procedures],”.
DHS menuliskan bahwa GLOVE akan dipakai oleh petugas dan agen dari Homeland Security Investigations (HSI), yang menargetkan organisasi kriminal lintas negara, serta Enforcement Removal Operations (ERO), yang bertanggung jawab atas penangkapan, penahanan, dan deportasi terhadap pelanggar hukum imigrasi.
Sejumlah penegak hukum lainnya telah menggunakan sarung tangan tersebut. Meski demikian, pembelian yang direncanakan ICE diyakini bakal menjadi pengadaan terbesar dari Compliant Technologies sejauh ini.
Sorotan dan respons kelompok hak sipil
Sebagian kelompok masyarakat sipil, termasuk American Civil Liberties Union (ACLU), menyatakan keprihatinan terhadap penggunaan perangkat seperti ini oleh aparat penegak hukum. Jenn Rolnick Borchetta, deputy director on policing di ACLU, mengatakan, “ICE spent the last year showing this country that they are willing to disregard the law and are too quick to use force, with devastating and at times fatal consequences for citizens and noncitizens alike,”.
ICE sendiri menghadapi pemeriksaan terkait kematian yang terjadi selama aktivitas penegakan imigrasi. Di antaranya, BBC menyebut insiden penembakan yang berujung kematian terhadap warga negara Meksiko Lorenzo Salgado Araujo di Texas, serta Johan Sebastián Durán Guerrero yang warga negara Kolombia, tewas saat operasi penegakan imigrasi di Maine.
Selain itu, ICE juga mendapat tekanan untuk menindaklanjuti agenda deportasi Presiden Donald Trump, yang mencakup target penangkapan harian. Menanggapi rencana pengadaan tersebut, Borchetta mengatakan, “Now they [ICE] might be equipped with a device that allows them to deliver an electric shock with their hands by pushing a small button, in a move that might be imperceptible to those watching,” lalu menambahkan, “Giving immigration agents a concealed means of delivering terrible pain is a recipe for more harm to the public and less accountability.”












