jurnalistik.co.id – Keluarga Kaylan Hippsley, bocah 13 tahun yang tewas dalam kasus tabrak lari, mengaku hancur setelah putusan untuk Harley Whiteman, pengemudi yang menyebabkan kematiannya, dipangkas dan membuka peluang pelepasan lebih cepat dengan skema izin (licence) pada musim gugur.
Kaylan meninggal dunia tiga hari setelah ditabrak mobil yang dikemudikan Harley Whiteman di Brecon Road, Hirwaun, Rhondda Cynon Taf, pada 29 Februari 2024. Whiteman semula divonis 6 tahun dan 9 bulan penjara serta dicabut hak mengemudi selama 8 tahun dan 4 bulan.
Setelah keluarga mengajukan banding, majelis hakim Pengadilan Tinggi (High Court) justru menaikkan masa hukuman menjadi 9 tahun. Namun kini keluarga mendapat informasi bahwa Whiteman dapat dilepaskan dengan izin secepatnya pada musim gugur sebagai bagian dari skema pelepasan dini dalam Sentencing Act.
Keterangan “dilepaskan dengan izin” berarti sisa masa hukuman akan dijalani di bawah kondisi pengawasan di tengah masyarakat. Jika syarat izin dilanggar, pelaku bisa dipanggil kembali untuk menjalani sisa hukuman di penjara.
Dalam uraian persidangan, pengadilan menyebut Whiteman menyenggol jalan dengan cara menyeberang jalan untuk menghindari kendaraan lain, lalu naik ke trotoar dan akhirnya menabrak Kaylan. Akibat benturan, Kaylan terpental ke udara.
Pihak penegak hukum juga menyampaikan bahwa sebelum kecelakaan, Whiteman diketahui telah mengonsumsi alkohol dan menggunakan kokain. Ia disebut sempat melarikan diri setelah kejadian, tetapi kemudian kembali. Saat kembali, Whiteman melontarkan kata-kata kasar kepada warga yang berusaha menolong bocah yang mengalami luka kritis.
Pada Juli 2024, saat Pengadilan Tinggi membatalkan putusan awal, Lord Justice Davis menyatakan hukuman yang dijatuhkan sebelumnya “unduly lenient”. Setelah itu, keluarga menekankan bahwa keputusan kini kembali bergeser ke arah yang mereka nilai tidak sejalan dengan tuntutan keadilan.
Julie Craig, sepupu Kaylan, mengatakan keluarganya merasa “devastated” setelah diberi tahu bahwa masa hukuman Whiteman dipangkas menjadi 4 tahun dan dijadwalkan untuk dilepaskan dengan izin pada musim gugur. Ia menyebut keluarganya menerima kabar awal melalui telepon dari tim dukungan korban dua minggu sebelumnya.
Craig menjelaskan mereka menerima surat dari layanan penjara. Dalam surat tersebut, disebutkan bahwa vonis Whiteman ditinjau sebagai bagian dari Sentencing Act 2026, dengan “remodel” yang mengakibatkan pemangkasan masa hukuman menjadi 4 tahun, di mana Whiteman minimal harus menjalani setidaknya separuh dari masa tersebut.
Berita Terkait
Menurut Craig, kondisi itu membuat Whiteman berpeluang kembali ke lingkungan masyarakat pada musim gugur. Ia menilai kebijakan tersebut janggal dengan kalimat, “It beggar’s belief that after two years he’s allowed back into the community,”. Ia juga menekankan dampak emosional yang mendalam bagi keluarga, menyebut “It’s absolutely devastating.”
Craig menambahkan bahwa sang nenek Kaylan, yang menjadi wali hukum bocah tersebut, sangat terpukul. Ia mengatakan nenek tersebut tidak bisa kembali ke rumah yang mereka tinggali bersama. Craig menggambarkan suasana ini sebagai “This just feels like a kick in the teeth.”
Craig menyampaikan harapannya agar keputusan itu dibatalkan. Ia mengatakan memahami perlunya penyesuaian karena kondisi penjara yang “full to capacity”, tetapi ia menegaskan hal tersebut bukan kesalahan pihak korban. Ia mengutip, “But that’s not the victims’ fault,”.
Ia juga menegaskan perbedaan usia korban saat membuat keputusan: “Harley Whiteman will come out, he’ll have the rest of his life to live. But Kaylan was only 13. I want them to take that into consideration when they’re making these decisions. It’s just wrong.” Craig menambahkan, “If it means building new prisons, then that’s what they need to do.”
Keluarga, kata Craig, telah berjanji kepada Kaylan bahwa mereka akan mencari keadilan. Mereka juga mulai menggalang petisi yang menyerukan agar Whiteman tidak diberi akses pelepasan dini.
Seorang juru bicara Kementerian Kehakiman (Ministry of Justice) menyatakan pihaknya ingin “block more offenders from getting out sooner into their sentence”, namun hal itu tidak dapat dilakukan tanpa “risking prisons reaching capacity and collapsing”.
Dalam penjelasan lanjutan, juru bicara tersebut menyebut jika situasi kapasitas penjara runtuh sampai terjadi, polisi tidak dapat melakukan penangkapan, pengadilan tidak dapat menahan tersangka (remand), dan akan muncul kriminalitas yang tidak terkendali di jalan-jalan.
Juru bicara itu menambahkan pemerintah “We are pulling every lever to protect the public and cut crime – building prison places at the fastest rate since the Victorian era, launching the biggest ever expansion of tagging to toughen community punishment and increasing support to victims, giving them a say in the strict licence conditions of offenders.”
Meski demikian, keluarga Kaylan menilai kabar pelepasan dini tetap menjadi pukulan. Bagi mereka, pemangkasan hukuman Whiteman dan rencana pelepasan dengan izin pada musim gugur menyisakan pertanyaan besar tentang keberpihakan kebijakan pada korban setelah peristiwa yang merenggut nyawa seorang anak.












