jurnalistik.co.id – Laporan Inkuiri Thirlwall menghadirkan rincian baru mengenai Lucy Letby, perawat unit neonatal yang kasusnya selama ini memicu respons publik yang beragamādari dukungan hingga kecaman keras. Letby kini berusia 36 tahun dan menjalani 15 vonis penjara seumur hidup untuk seluruh masa.
Ia dinyatakan bersalah atas pembunuhan tujuh bayi, sekaligus percobaan membunuh terhadap tujuh bayi lainnya. Dalam salah satu perkara, terdapat bayi yang menjadi target percobaan pembunuhan dua kali. Thirlwall menegaskan, inkuiri ini tidak dimaksudkan untuk menilai ulang bersalahnya Letby, melainkan menelusuri bagaimana kekhawatiran terkait dirinya ditangani di rumah sakit dan apakah tindakan bisa dilakukan lebih cepat.
Inkuiri tersebut dibentuk untuk mengkaji apa yang terjadi di Countess of Chester Hospital pada periode 2015 hingga 2016, saat Letby bekerja di unit neonatal. Fokusnya adalah proses keselamatan pasien dan tata kelola yang menyangkut dugaan masalah, bukan pembuktian ulang terhadap putusan pidana yang telah dijatuhkan.
Menurut temuan Thirlwall, kematian maupun kondisi yang nyaris merenggut nyawa beberapa bayi yang menjadi sasaran serangan dapat dicegah jika praktik perlindungan (safeguarding) dijalankan sebagaimana mestinya. Dengan kata lain, masalah yang teridentifikasi berada pada seberapa cepat kekhawatiran ditindaklanjuti dan bagaimana arahan pengelolaan dijalankan di lingkungan kerja.
Perilaku di tempat kerja dan kegagalan mengikuti arahan
Setelah kematian Baby C, Letby sempat terlihat membantu membuat memory box bersama seorang perawat lain untuk orang tua bayi tersebut. Namun, ibu Baby C mengatakan kepada inkuiri bahwa Letby seharusnya tidak menjalankan tugas itu, karena ia diberi arahan untuk berada di tempat lain dan berkaitan dengan pengasuhan bayi yang berbeda.
Thirlwall mencatat bahwa ātidak ada tindakanā yang dilakukan meski Letby berulang kali mengabaikan arahan dari shift leader. Dalam penilaian inkuiri, situasi tersebut membuat bayi lain yang seharusnya dalam tanggung jawab Letby harus āintervensiā untuk menangani keadaan Baby C.
Inkuiri juga menyatakan Letby mengabaikan instruksi manajemen ketika ia tidak sependapat, serta pernah berteriak kepada atasannya. Pola ini, menurut laporan, berhubungan dengan bagaimana pengawasan dan komunikasi di unit berjalan pada saat-saat penting ketika kekhawatiran seharusnya ditangani secara tegas.
Penilaian tentang kejujuran dan sikap yang disebut tidak pantas
Thirlwall menemukan adanya temuan bahwa Letby berulang kali tidak jujur dalam berinteraksi dengan teman dan rekan kerja. Salah satu contohnya terkait pesan yang ia kirim kepada rekan sejawat setelah kematian Baby A dan dalam konteks Baby A serta Baby B.
Dalam pesan tersebut, Letby menulis bahwa ayah Baby A berada di lantai sambil menangis dan memohon agar bayi mereka tidak diambil, saat Letby membawa Baby A ke ruang mortuary. Namun, Thirlwall menyebut bahwa pihak ibu dari Baby A dan Baby B menilai cerita itu tidak benar dan tidak terjadi.
Laporan inkuiri mencatat penilaian Thirlwall bahwa pesan Letby bersifat āmencari perhatianā dan merupakan ātanda bahaya (red flag)ā. Kesimpulan ini menempatkan isu kejujuran sebagai bagian dari gambaran perilaku Letby yang dinilai bermasalah.
Jejak umpan balik selama pelatihan
Berita Terkait
Dalam periode pelatihan sebagai perawat, inkuiri menemukan bahwa penilaian terhadap kinerja Letby bersifat campuran. Penilaian awal menyebut ada ruang perbaikan, terutama terkait antusiasme, komunikasi dengan keluarga, serta perhitungan dosis obat.
Meski demikian, tutor pribadi Letby melaporkan tidak ada kekhawatiran dalam aspek akademik. Pada tahun kedua dan ketiga, seorang perawat menilai Letby sebagai āsalah satu siswa terbaikā yang pernah dibimbing. Akan tetapi, pada masa penempatan terakhir, Thirlwall menguraikan bahwa ākekhawatiran signifikanā justru muncul.
Deputy ward manager menggambarkan Letby sebagai pribadi yang ātenang, menyendiri (withdrawn), dan kesulitan membangun relasiā dengan anak-anak, keluarga, dan rekan kerja. Inkuiri juga menyebut Letby gagal dalam penilaian pertengahan tahun serta pada ujian klinis terstruktur (OSCE), sebelum akhirnya lulus dan memenuhi kualifikasi sebagai perawat anak terdaftar pada 2011.
Thirlwall kemudian menyoroti adanya āperilaku yang tidak pantas dan bersifat kejam (callous)ā yang dicatat oleh pasien dan rekan kerja. Ini menjadi jembatan penting antara penilaian di masa pelatihan dan bagaimana sikap Letby dinilai pada konteks yang lebih nyata di lingkungan layanan neonatal.
Kesaksian keluarga dan rincian yang disebut mengejutkan
Dalam kesaksian ibu dari Baby E, yang menurut putusan Letby membunuh bayi tersebut, gambaran yang disampaikan kepada inkuiri menekankan perubahan mendadak dalam kondisi keluarga. Ibu itu mengatakan bahwa ia sebelumnya memiliki ādua anak laki-laki yang hidup dan berkembangā, tetapi dalam waktu singkat semuanya berubah.
Setelah Baby E meninggal, ibu tersebut menyatakan bahwa bayi masih terlihat berada di dalam inkubator. Ia lalu bertanya kepada Letby mengapa situasinya demikian. Dalam laporannya, Thirlwall menyebut Letby menjawab bahwa ākamu belum menyuruh kami untuk mengambilnyaā.
Thirlwall menilai respons Letby kepada ibu yang sedang berduka itu āsangat dingin dan tidak berperasaanā. Penilaian tersebut muncul sebagai bagian dari pembahasan tentang bagaimana sikap Letby beresonansi dengan kondisi psikologis keluarga pada saat paling rentan.
Inkuiri juga memaparkan bahwa Letby diduga memalsukan catatan medis untuk Baby E. Laporan menyebut bahwa Letby menghilangkan catatan mengenai penderitaan bayi serta adanya darah pada mulut bayi, sekaligus tidak mencatat kunjungan ibu ke unit neonatal selama periode perawatan.
Selain itu, Baby J disebut ditemukan dalam kondisi tertutup oleh kotoran mereka sendiri, yang berujung pada keluhan dari orang tua bayi tersebut. Dalam narasi inkuiri, temuan-temuan ini digunakan untuk menunjukkan bagaimana hal-hal mendasar terkait perawatan, pencatatan, dan pengendalian proses bisa luput dari pengawasan yang memadai.
Klaim ketidakbersalahan dan proses lanjutan di luar persidangan
Letby, yang berasal dari Hereford, menegaskan bahwa ia tetap tidak bersalah. Pada 2024, ia dua kali ditolak permohonannya untuk mengajukan banding. Penolakan tersebut terjadi setelah langkah-langkah hukum sebelumnya, sementara inkuiri Thirlwall menambah pemaparan atas cara kekhawatiran dikelola.
Dari sisi kemungkinan peninjauan ulang nasib hukum, Criminal Cases Review Commission (CCRC) yang menilai dugaan salah putus perkara sedang mempertimbangkan bukti yang diajukan melalui panel dokter internasional. Panel tersebut mengemukakan klaim bahwa perawatan medis yang buruk dan penyebab alami menjadi alasan bayi-bayi tersebut mengalami kondisi runtuh.
Sebelum Thirlwall menyampaikan temuan inkuiri, sejumlah pendukung Letby berkumpul di luar Liverpool Town Hall untuk menyuarakan keberatan mereka terhadap vonis dan menyerukan agar Letby dibebaskan. Di tengah perdebatan itu, laporan inkuiri tetap menekankan bahwa kegagalan sistem perlindungan dan penanganan kekhawatiran secara lebih dini menjadi inti yang dapat dipelajari, terlepas dari putusan pidana yang telah ada.












