Hukum & Kriminal

Korea Utara Dianggap Paling Bertanggung Jawab: 5 Alasan Hacker Elite Jadi Tersangka Utama Peretas Binance senilai Rp114 Triliun

×

Korea Utara Dianggap Paling Bertanggung Jawab: 5 Alasan Hacker Elite Jadi Tersangka Utama Peretas Binance senilai Rp114 Triliun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 5 Alasan Hacker Elite Korut Jadi Tersangka Utama Peretas Binance senilai Rp114 Triliun

jurnalistik.co.id – Dua perusahaan analisis blockchain menyebut kelompok yang didukung Korea Utara sebagai pihak yang diduga paling bertanggung jawab atas peretasan Binance senilai USD6,3 miliar atau sekitar Rp114 triliun. Dalam penilaian mereka, bukti yang mengarah ke kelompok tersebut dinilai kuat dengan tingkat keyakinan tinggi.

Peretasan ini menempatkan nama Lazarus Group—yang juga dikenal sebagai TraderTraitor—di pusat perhatian penyelidikan. TRM Labs dan Chainalysis menyatakan keterkaitan itu sebagai dasar utama penetapan tersangka, sekaligus mempertegas pola keterlibatan kelompok yang kerap dikaitkan dengan operasi siber lintas negara.

Binance, yang disebut sebagai bursa mata uang kripto terbesar di dunia, disebut berupaya memulihkan dana yang dicuri dalam insiden tersebut. Upaya pemulihan ini menjadi bagian dari respons industri terhadap dampak peretasan besar yang mengganggu kepercayaan terhadap keamanan platform aset digital.

Menurut laporan yang dirujuk, insiden peretasan yang kali ini dikaitkan dengan Korea Utara dipandang sebagai kelanjutan dari kasus-kasus serupa. Korea Utara digambarkan sebagai salah satu negara termiskin, dengan akses terhadap internet yang dibatasi. Dalam konteks itu, dugaan pemanfaatan ruang siber menjadi isu yang kerap muncul dalam berbagai tuduhan terhadap rezim setempat.

Isu keterlibatan negara dalam kejahatan siber juga telah lama dibantah oleh Pyongyang. Namun, dua perusahaan analisis yang menyampaikan temuan ini menyatakan ada bukti yang mengarah pada keterkaitan kelompok tersebut dengan peretasan Binance.

Korut membiayai pemerintahan dari hasil peretasan

Salah satu poin yang menonjol dalam penilaian tersebut adalah dugaan bahwa pemerintahan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, mengandalkan kejahatan siber untuk mendukung pembiayaan negara. Tuduhan ini, sebagaimana disebut, sudah lama dibantah oleh Pyongyang.

Dalam penelusuran sejarah serangan yang dikaitkan dengan Korea Utara, disebutkan bahwa peretasan paling mencolok terjadi pada 2014. Korbannya adalah Sony Pictures, sebuah studio film Hollywood yang memproduksi film “The Interview”.

Film tersebut, menurut uraian dalam teks sumber, memuat alur yang berkaitan dengan rencana pembunuhan terhadap Kim. Serangan siber terhadap Sony Pictures kemudian disebut mengungkap ribuan surel yang saling dipertukarkan di antara para eksekutif puncak studio.

Rincian serangan 2014 itu digunakan dalam kerangka argumentasi bahwa operasi siber dapat diarahkan bukan hanya untuk keuntungan finansial langsung, tetapi juga untuk tujuan lain—meski disebutkan bahwa klaim terkait dukungan pembiayaan negara tidak bersifat finansial dalam bentuk yang sama seperti operasi peretasan yang bersifat perampasan aset kripto.

Dalam kasus Binance, tuduhan tersebut kemudian diperluas ke peretasan bernilai USD6,3 miliar. Upaya pemulihan dana oleh Binance menjadi sorotan, karena kerugian besar menuntut respons yang cepat dan terukur agar aset yang dicuri dapat ditangani.

Hacker Korut berulang kali mencuri kripto

Poin kedua menekankan pola berulang yang dikaitkan dengan Korea Utara dalam peretasan dan pencurian aset digital. Pada bagian ini, teks sumber merujuk pada keterangan FBI yang menyatakan Korea Utara bertanggung jawab atas pencurian senilai USD1,5 miliar dari bursa Bybit.

Rujukan terhadap kasus Bybit memperkuat narasi bahwa dugaan keterlibatan kelompok yang sama—atau setidaknya pihak yang memiliki keterkaitan—tidak berhenti pada satu peristiwa. Dengan kata lain, insiden Binance diposisikan sebagai bagian dari rangkaian kasus peretasan yang lebih luas.

Dalam kerangka itulah, Lazarus Group yang disebut sebagai unit peretas Korea Utara juga kembali diangkat sebagai rujukan utama. Penyebutan TraderTraitor sebagai nama lain semakin memperjelas identitas kelompok yang disebut digunakan dalam berbagai operasi siber.

Walau fokus pemberitaan berada pada peretasan Binance, perbandingan dengan kasus Bybit menegaskan bahwa penetapan tersangka tidak hanya berdasarkan satu kejadian. Teks sumber menampilkan bagaimana otoritas dan lembaga analisis menghubungkan insiden yang berbeda dalam ruang siber dan aset digital.

Catatan penting lainnya adalah peran pernyataan lembaga forensik dalam proses atribusi. TRM Labs dan Chainalysis disebut mengidentifikasi keterkaitan Lazarus Group dengan “tingkat keyakinan tinggi”. Penilaian ini menjadi penopang utama sebelum isu dugaan keterlibatan negara meluas ke ranah publik.

Selain dua alasan yang dirinci di dalam teks yang Anda lampirkan, laporan yang sama juga disebut memuat poin lain sebagai bagian dari keseluruhan penjelasan. Namun, detail tambahan mengenai tiga alasan sisanya tidak muncul dalam kutipan yang tersedia, sehingga tidak dapat diuraikan lebih jauh tanpa menambah informasi baru.

Meski demikian, dua bagian yang disampaikan cukup untuk menggambarkan pola yang ingin ditunjukkan: adanya keterkaitan antara kelompok yang diduga berafiliasi dengan Korea Utara dan berbagai kasus peretasan berdampak besar, termasuk peretasan yang menarget entitas non-kripto pada 2014 serta pencurian aset kripto dalam kasus-kasus yang disebut melibatkan nilai hingga miliaran dolar.

Pada akhirnya, bagi industri kripto, serangkaian tuduhan ini kembali menempatkan keamanan dan investigasi forensik sebagai fondasi utama. Bagi Binance, insiden senilai USD6,3 miliar menjadi ujian besar, sementara bagi komunitas global, atribusi yang disebut dilakukan dengan keyakinan tinggi turut menentukan arah respons kebijakan dan penegakan ke depan.