Hukum & Kriminal

Mengalami Kemoterapi 11 Tahun untuk Kanker yang Tidak Pernah Ia Miliki

×

Mengalami Kemoterapi 11 Tahun untuk Kanker yang Tidak Pernah Ia Miliki

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: I had 11 years of chemotherapy for a cancer I didn't have

jurnalistik.co.id – Becky Jones, warga Coventry, menuturkan bahwa hidupnya berubah drastis setelah ia divonis memiliki kanker otak terminal ketika masih berusia 21 tahun. Ia kemudian menjalani terapi kemoterapi selama sebelas tahun, meski pemeriksaan pada masa awal disebut tidak menunjukkan adanya tumor.

Kasusnya kini menjadi salah satu sorotan, seiring lebih dari 40 pasien lain yang menempuh langkah hukum terhadap University Hospitals Coventry and Warwickshire (UHCW) NHS Trust. Mereka menilai ada perpanjangan pengobatan kanker yang berlangsung lama atau tidak perlu, serta dampak medis yang berkepanjangan.

Vonis awal dan kemoterapi yang dianggap wajib

Jones menyebut ia mendapatkan diagnosis tersebut dari seorang konsultan kanker yang berpengalaman. Saat itu, ia dikatakan memiliki tumor otak ganas dan diberi waktu hidup yang terbatas.

Ia mengatakan, ia berulang kali diberi pengertian bahwa tanpa kemoterapi ia akan meninggal. Jones menegaskan pernyataan tersebut dalam kutipan, “I was told time and time again without the chemotherapy I would die,”.

Menurut penuturan Jones, selama proses itu ia diminta menggunakan obat kemoterapi temozolomide (TMZ). Ia juga menyampaikan bahwa konsultan menyatakan ia perlu menjalani TMZ seumur hidup.

Jones mengaitkan keputusan tersebut dengan perbedaan antara pedoman klinis dan praktik yang ia terima. Ia menyebut pedoman menyarankan enam siklus selama enam bulan, sementara yang dialami dirinya justru jauh lebih panjang.

Ketika ia mempertanyakan hasil pemindaian yang tidak tampak menunjukkan bukti tumor, ia mengatakan konsultan menjelaskan tumor itu tidak akan terlihat secara kasat mata. Ia menyampaikan argumen tersebut sebagai, “visible to the naked eye”.

Dalam perjalanan yang panjang itu, ia menyebut kemoterapi tidak hanya mengubah kondisi medisnya, tetapi juga mengubah cara ia menjalani kehidupan sehari-hari. Ia menggambarkan perasaan cemas terus-menerus dan seakan hidup “on eggshells”.

Ia menuturkan efek terapi yang ia rasakan dalam kutipan “horrendous”. “It was constant nausea, stomach pains, mouth ulcers, just day-to-day fatigue, it was awful,” ujar Jones, menggambarkan bagaimana keluhan tersebut terjadi dari hari ke hari.

Jones juga mengatakan rasa takut terhadap infeksi membuatnya menjauhi berbagai kegiatan sosial. Ia mengaku ia sulit mengikuti acara keluarga dan pergerakannya menjadi sangat terbatas selama bertahun-tahun.

Dampak nyata pada karier, mobilitas, dan rencana keluarga

Jones menyampaikan bahwa kemoterapi memengaruhi banyak aspek dalam hidupnya. Ia mengaku kariernya turut tersendat, dan ia merasa seolah harus selalu siap terhadap konsekuensi kesehatan.

Ia juga menuturkan bahwa surat izin mengemudi sempat dicabut sebelum akhirnya diberi pembatasan. Bagian lain dari hidup yang berubah adalah rutinitasnya sebelum diagnosis, yang ia gambarkan sebagai masa ketika ia aktif berolahraga dan memiliki rencana untuk menjalani hidup bersama pasangannya.

Jones mengingat kebersamaannya dengan Pete sebelum pengobatan terus berlanjut. Ia menyebut mereka kerap pergi untuk makan bersama, namun kemudian kegiatan itu tidak bisa lagi dilakukan.

Dalam hal keluarga, ia mengatakan ia diberi tahu bahwa ia tidak akan bisa hamil. Meski demikian, perjalanan berikutnya ternyata berbeda dari yang diprediksi dalam masa awal.

Jones menyampaikan bahwa ia kemudian tetap memiliki dua anak. Ia mengutip perkataan yang pernah ia dengar, “I later went on to have two children, which he told me were both miracles,”.

Baginya, keputusan dan kepastian yang diberikan saat itu terasa membentang jauh ke masa depan, karena pengobatan berlanjut selama lebih dari satu dekade. Namun, ketika kabar perubahan itu datang, ia justru menerima informasi bahwa ia tidak pernah memiliki kanker otak.

Kabar yang mengubah segalanya pada 2024 dan klarifikasi pada 2025

Jones menjelaskan bahwa pengobatannya baru mengalami penghentian pada 2024. Ia mengatakan ia menerima panggilan telepon dari dokter yang menyatakan kemoterapinya akan dihentikan.

Ia tidak diberi penjelasan rinci atas alasan penghentian tersebut. Jones menyampaikan, “He didn’t have any reason as to why. He told me Ian Brown had retired – this was the first I’d heard of it,”.

Ia juga mengatakan tidak ada nama dokter pengganti yang diberikan, sehingga ia merasa kehilangan pegangan. “I didn’t know what to do, where to turn, who to talk to because I had no support from the hospital during that time,” ujarnya.

Baru pada Mei 2025, setelah analisis independen oleh dokter spesialis bedah saraf dan radiolog, ia mendapatkan konfirmasi bahwa ia tidak pernah mengalami kanker otak. Menurut penjelasan yang ia terima, ia sebenarnya mengalami tumefactive demyelination, peradangan yang biasanya ditangani oleh ahli saraf dengan pemberian steroid.

Jones mengatakan kabar itu diterima melalui panggilan video bersama pengacara dan para ahli. Ia mengutip reaksi tersebut, “When we found out there were just tears in everyone’s eyes,”.

Melalui proses tersebut, Jones menyatakan bahwa misdiagnosis menjadi inti dari penderitaan bertahun-tahun. Ia menegaskan dalam kutipan, “I never had a brain tumour. I was misdiagnosed and I’ve gone through all this treatment for the main part of my adult life, for no reason,”.

Ia menambahkan, “He’s just ruined my life, essentially,”.

Temuan awal tinjauan dan penilaian soal perlindungan pasien

Dalam tinjauan awal oleh Royal College of Physicians (RCP), disebutkan adanya pola pemberian kursus panjang obat yang bersifat oral dengan “little or no evidence of benefit”. Tinjauan tersebut juga mempersoalkan kegagalan melakukan pengawasan dan intervensi ketika risiko terus berlanjut selama periode yang panjang.

Laporan pendahuluan itu menggambarkan kegagalan staf sebagai “betrayal of patient trust”. Tinjauan juga mempertanyakan mengapa tim farmasi onkologi tidak menantang pasien yang menerima kemoterapi oral secara terus-menerus selama 10 hingga 15 tahun.

Jones menyatakan tinjauan itu membuatnya merasakan ketakutan yang mendalam. Ia menyebut temuan tersebut “chilling”.

Ia juga menilai inti masalah bukan hanya tindakan yang dilakukan, tetapi bagaimana keputusan itu dibiarkan berlangsung tanpa pemantauan memadai. “It’s not just about what he’s done, it’s about how they let him act on his own for so long,” ujar Jones.

Ia menambahkan, “It’s almost like he was running his own show and no one was there to monitor what he was doing.”

Dalam bagian temuan, RCP tidak menyebut nama Prof Ian Brown, namun merujuk pada “Dr Y”. Dari 20 kasus yang ditinjau, 15 di antaranya dinilai “unsatisfactory overall”.

Tim peninjau juga menyatakan konsultan tersebut tidak ikut berpartisipasi. Selain itu, disebutkan terdapat “scant evidence” tentang pemahaman dan dokumentasi risiko yang terkait dengan penggunaan obat.

Menurut temuan pendahuluan, dalam beberapa kasus juga tidak ada cukup “clinical curiosity”, serta terdapat kurangnya kolaborasi dengan rekan dari tim multidisiplin. Jones menilai kondisi itu memungkinkan kesalahan diagnostik bertahan lebih lama.

Respon rumah sakit dan langkah perbaikan

UHCW menyatakan bahwa pasien yang terdampak telah ditinjau oleh klinisi senior dengan rencana perawatan yang sesuai. Pihak rumah sakit juga menyatakan sedang melakukan tinjauan independen terhadap proses “speak-up” yang dipimpin pihak luar.

Tujuan tinjauan tersebut, menurut UHCW, adalah memastikan staf merasa didukung dan percaya diri ketika menyampaikan kekhawatiran. Rumah sakit menyatakan akan menilai tinjauan RCP secara penuh saat diterbitkan dan mengambil tindakan lanjutan sesuai hasilnya.

UHCW menegaskan prioritas mereka adalah keselamatan, pengalaman pasien, dan kesejahteraan. Di tengah proses hukum, kisah Jones tetap menjadi pengingat tentang pentingnya pengawasan klinis, konsistensi pemeriksaan, serta perlindungan yang kuat bagi pasien yang menjalani terapi jangka panjang.