Hukum & Kriminal

YHI-PP 47 Tahun Berkiprah di Pendidikan Kini Berhadapan dengan Polemik dan Temuan 995 Senjata

×

YHI-PP 47 Tahun Berkiprah di Pendidikan Kini Berhadapan dengan Polemik dan Temuan 995 Senjata

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 47 Tahun Berdiri untuk Pendidikan, Yayasan Harapan Ibu Jaksel Kini Dihantam Polemik dan Temuan 995 Senjata

jurnalistik.co.id – Yayasan Harapan Ibu Pondok Pinang (YHI-PP) telah berkiprah selama 47 tahun untuk memperluas dan meningkatkan mutu pendidikan bagi tunas bangsa. Namun, perjalanan panjang itu kini dibayangi polemik pengelolaan dan temuan 995 senjata di lingkungan sekolah.

YHI, yang kemudian dikenal sebagai YHI-PP, didirikan pada 7 Juni 1979. Yayasan ini menaungi jenjang pendidikan mulai dari taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA) Islam.

Pihak yayasan menyatakan sedang berupaya mengembalikan lembaga pendidikan tersebut ke tujuan awal pendiriannya. Langkah tersebut muncul setelah berbagai persoalan dalam pengelolaan terungkap, termasuk temuan 995 pucuk senjata di salah satu ruangan sekolah.

Perjalanan yayasan kembali menjadi sorotan setelah kabar mengenai temuan senjata menyebar. Dalam pemberitaan lain yang turut menyertai situasi ini, disebutkan 580 siswa Sekolah Harapan Ibu menjalani pendidikan jarak jauh (PJJ) selama sepekan usai temuan 995 senjata.

Selain itu, yayasan juga disebut meminta perlindungan kepada KPAI hingga Kemendikdasmen menyusul temuan tersebut. Sorotan juga mengarah pada pengawasan dan pelindungan siswa di sekolah.

Berawal dari pengajian dan gagasan mendirikan sekolah

Salah satu pendiri awal YHI-PP, Yan Sofyan Syafe’i, mengingat gagasan sekolah bermula dari kegiatan pengajian. Pada 1979, Yan bersama tokoh-tokoh lain berguru kepada KH Mawardi Labay el-sulthani melalui pertemuan keagamaan tersebut.

Dari proses belajar dan diskusi itu, muncul gagasan untuk membangun sekolah. Yan menuturkan, pada saat itu mereka berlima, dengan menyebut nama-nama yang terlibat sejak awal.

“Dahulu pada waktu tahun 79 saya yaitu kami berlima, saya sendiri, Pak Mahwardi Labae selaku ustaz kami, Pak Hari Dahlan Safri, dan Pak Oto Malik yaitu putra dari Pak Adam Malik,” ujar Yan saat konferensi pers di Savannah Cafe & Resto, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2026).

Setelah ide mulai menguat, para penggagas kemudian menemui Adam Malik yang saat itu menjabat Wakil Presiden Republik Indonesia. Menurut Yan, Adam Malik mengarahkan mereka untuk memanfaatkan tanah miliknya di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran, Jakarta Selatan.

“Awalnya itu dari pengajian. Jadi kami pada waktu itu berguru kepada Pak Ustad Mahwardi Labae kemudian beliau katakan bagaimana kalau kita bikin sekolah?” kata Yan.

Yan menyampaikan tujuan pendirian sekolah tidak semata-mata menyediakan pendidikan formal. Menurutnya, sejak awal yayasan dibangun dengan cita-cita pembentukan karakter dan nilai agama.

“Kita buat yayasan itu dengan visi dan misi untuk mencerdaskan anak-anak bangsa dan kita berkeinginan agar anak-anak bangsa kita itu dapat betul-betul menjadi manusia yang seutuhnya yaitu yang beragama yang berpendidikan dan juga mudah-mudahan dapat menjadi pemimpin bangsa di kemudian hari,” ucap Yan.

Jumlah siswa pernah mencapai sekitar 2.500 orang, kini sekitar 500

Seiring waktu, sekolah yang dirintis itu berkembang dan mampu menarik minat warga. Yan menyebut, jumlah siswa yang belajar di YHI pernah mencapai sekitar 2.500 orang.

Namun, kondisi kini berbeda. Yan mengatakan saat ini jumlah siswa berada di kisaran sekitar 500 orang, seiring semakin banyaknya sekolah lain yang berdiri.

Ia mengaku bersyukur karena masih bisa melihat sekolah yang dibangun bersama rekan-rekannya tetap berjalan. Meski demikian, ia juga menyampaikan kesedihan melihat berbagai persoalan yang kini muncul di lingkungan sekolah.

Yan kini tinggal sendirian dari pendiri awal yang masih hidup

Pada usia 47 tahun sejak yayasan berdiri, Yan menjadi satu-satunya pendiri awal yang masih hidup. Para pendiri lain yang terlibat sejak awal, termasuk Adam Malik, Letjen TNI (Purn) KPH Soerjo Wirjohadipoetro atau Soerjo, serta KH Mawardi Labay el-sulthani, telah meninggal dunia.

Dalam konferensi pers tersebut, Yan menempatkan perhatian pada upaya mengembalikan yayasan kepada khittah dan tujuan pendirinya. Polemik pengelolaan yang sedang dihadapi—termasuk temuan 995 senjata di salah satu ruangan sekolah—mendorong yayasan untuk menata ulang arah perjalanan lembaga.

Dengan latar historis sejak 1979, Yan berharap sekolah yang mulanya lahir dari gagasan pengajian dan pertemuan dengan Adam Malik tetap dapat kembali ke substansi awalnya. Di tengah perhatian publik, ia juga menegaskan pentingnya melindungi siswa serta memastikan pengawasan berjalan sebagaimana mestinya.