Bisnis & Ekonomi

IHSG Terkoreksi ke Bawah 5.900, Saham Konglomerasi Jadi Pemicu Utama

1
×

IHSG Terkoreksi ke Bawah 5.900, Saham Konglomerasi Jadi Pemicu Utama

Sebarkan artikel ini
IHSG Terjun ke Bawah 5.900, Saham Konglomerasi Jadi Biang Kerok Money 3 Juni 2026
Ilustrasi: IHSG Terjun ke Bawah 5.900, Saham Konglomerasi Jadi Biang Kerok

jurnalistik.co.id – IHSG mengalami tekanan jual yang sangat besar pada sesi pertama perdagangan Rabu (3/6/2026). Hingga penutupan sesi satu, indeks anjlok 305,94 poin atau 4,94 persen ke level 5.889.

Pelemahan tajam itu terjadi setelah saham-saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya menjadi penopang penguatan indeks justru berbalik menjadi sumber tekanan utama pasar. Saham-saham yang terkait dengan kelompok konglomerasi mengalami aksi jual masif sehingga menyeret pergerakan IHSG ke zona merah yang lebih dalam.

Salah satu yang terkoreksi paling dalam adalah PT Petrosea Tbk (PTRO) dengan penurunan 15 persen. Tekanan serupa juga dialami PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang anjlok 14,9 persen, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang merosot 13,5 persen, serta PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang turun 13,4 persen.

Pergerakan itu membuat sentimen di pasar saham domestik semakin tertekan. Aksi jual yang meluas turut menyeret hampir seluruh saham yang diperdagangkan, sehingga pelemahan tidak hanya terbatas pada beberapa emiten tertentu, melainkan menyebar lebih luas di bursa.

Tekanan merata di seluruh sektor

Aksi jual yang meluas juga membuat seluruh indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak di zona merah. Tidak ada satu pun sektor yang mampu bertahan positif pada sesi tersebut.

Penurunan paling dalam tercatat pada sektor bahan baku atau IDX Basic dan sektor energi atau IDX Energy. Keduanya tertekan seiring pelemahan sejumlah saham unggulan yang memiliki bobot besar dalam masing-masing sektor tersebut.

Dengan kondisi itu, IHSG kehilangan pijakan yang sempat terbentuk sejak awal perdagangan. Dari pembukaan di area 6.207,102, indeks langsung berada dalam tekanan dan terus bergerak menurun sepanjang sesi.

Upaya rebound yang sempat muncul pada pagi hari tidak bertahan lama. Derasnya aksi jual kembali mendominasi pasar dan membuat pemulihan yang sempat terlihat hanya berlangsung sesaat.

Berdasarkan data BEI, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 6.213,801. Namun, setelah itu indeks terus melemah hingga menyentuh posisi terendah 5.876,316 sebelum akhirnya bertahan di level 5.889 pada penutupan sesi pertama.

Penurunan tersebut membuat indeks kehilangan lebih dari 300 poin hanya dalam setengah hari perdagangan. Kondisi ini menegaskan besarnya tekanan yang terjadi di pasar saham pada perdagangan Rabu siang.

Di sisi lain, pergerakan bursa saham di kawasan Asia hingga siang hari menunjukkan arah yang beragam. Bursa saham Mumbai dan Hong Kong bergerak melemah, sementara bursa Tokyo dan Shanghai masih mampu mempertahankan penguatan.

Meski demikian, pergerakan regional yang campuran itu tidak cukup memberi dorongan bagi IHSG untuk bangkit. Tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar di dalam negeri tetap menjadi faktor utama yang membebani indeks sepanjang sesi.

Dengan laju seperti itu, IHSG memasuki jeda perdagangan dengan posisi yang jauh lebih rendah dibanding awal sesi. Pelemahan tajam pada saham-saham besar dan sektor-sektor utama menjadi penentu utama koreksi yang terjadi pada hari tersebut.

Situasi ini juga menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya datang dari satu emiten, melainkan dari kombinasi aksi jual pada sejumlah saham besar yang sebelumnya menjadi penggerak indeks. Akibatnya, pelemahan IHSG berlangsung cepat, dalam, dan merata di banyak lini perdagangan.

Gejolak pada sesi ini memperlihatkan betapa dominannya pengaruh saham-saham berkapitalisasi besar terhadap arah pergerakan indeks. Ketika sejumlah emiten utama masuk ke tekanan jual bersamaan, ruang penguatan IHSG menjadi cepat menyempit dan pasar sulit menemukan penahan yang cukup kuat.

Di tengah kondisi seperti itu, sinyal pemulihan yang sempat terlihat sejak awal perdagangan tidak mampu berubah menjadi momentum yang berkelanjutan. Begitu arus jual kembali menguat, pergerakan indeks kembali kehilangan tenaga dan koreksi yang terjadi pun tampak menyapu hampir seluruh lapisan perdagangan di bursa.