Bisnis & Ekonomi

Ilusi Kesejahteraan Piala Dunia

0
×

Ilusi Kesejahteraan Piala Dunia

Sebarkan artikel ini
Ilusi Kemakmuran Piala Dunia Money 13 Juni 2026
Ilustrasi: Ilusi Kemakmuran Piala Dunia

jurnalistik.co.id – Setiap empat tahun, perhatian dunia seolah berhenti berputar. Saat FIFA World Cup bergulir, ratusan juta pasang mata tertuju pada satu panggung global.

Edisi 2026 dijadwalkan berlangsung bersama di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Turnamen ini diprediksi menjadi yang terbesar sepanjang sejarah, dengan 48 tim nasional dan 104 pertandingan.

Euforia, kebanggaan nasional, dan gairah ekonomi pun biasanya membuncah menjelang kick-off. Namun, di balik gemerlap stadion dan riuh sorak penonton, selalu muncul pertanyaan mendasar: apakah menjadi tuan rumah benar-benar menguntungkan secara ekonomi, atau justru menjadi beban fiskal yang mencekik selama bertahun-tahun setelah pesta selesai?

Prediksi bentrok dengan realita Salah satu kerangka yang sering dipakai untuk menilai ekonomi Piala Dunia berasal dari tulisan Victor Matheson (2018) dari College of the Holy Cross. Dalam analisisnya, Matheson menyoroti jebakan umum dalam evaluasi mega-event, yakni ketidakseimbangan antara studi dampak ekonomi ex ante (sebelum event) dan realitas ex post (setelah event).

Dalam banyak kasus, pemerintah dan penyelenggara tuan rumah kerap mengajukan angka-angka yang terdengar spektakuler saat periode perencanaan. Angka tersebut biasanya dibangun dari asumsi-asumsi, sementara pembuktian setelah event berakhir sering menunjukkan pola yang berbeda.

Contoh yang sering dipakai adalah prediksi dari Kementerian Olahraga Brasil untuk Piala Dunia 2014. Kementerian tersebut memprediksi dampak ekonomi sebesar 70 miliar dolar AS, setara dengan hampir 4 persen PDB tahunan. Brasil juga menargetkan kedatangan 600.000 wisatawan asing.

Di sisi lain, Rusia juga melaporkan klaim ekonomi yang serupa pada edisi 2018. Rusia mengklaim efek berganda antara 26 hingga 30,8 miliar dolar AS. Klaim tersebut juga menyebut penciptaan 220.000 lapangan kerja.

Namun, berbagai studi empiris setelah penyelenggaraan memperlihatkan cerita yang tidak selalu sejalan dengan proyeksi awal. Dalam rangkuman studi yang disebut dalam literatur Matheson, Piala Dunia 2006 di Jerman tidak menghasilkan peningkatan lapangan kerja secara keseluruhan.

Lebih spesifik, sekitar 2.600 pekerjaan di sektor perhotelan terdeteksi. Angka itu bahkan disebut tidak signifikan secara statistik, dan disamakan dengan skala dampak yang setara dengan sebuah mal kecil di pinggiran kota.

Edisi 1998 di Perancis juga disebut tidak meninggalkan jejak pada pendapatan pariwisata nasional maupun penjualan ritel. Dengan kata lain, dampak yang tampak dalam penjelasan awal tidak otomatis terulang ketika data pasca-event diperiksa.

Untuk melihat pola yang lebih luas, sebuah kajian terhadap berbagai tuan rumah Piala Dunia antara 1970 hingga 2000 (Szymanski, 2002) menunjukkan temuan yang mengkhawatirkan. Studi tersebut menyebut negara-negara penyelenggara mengalami pertumbuhan PDB yang lebih rendah sekitar 2,4 persen pada tahun penyelenggaraan dibandingkan tahun-tahun biasa.

Di sinilah istilah dalam ilmu ekonomi menjadi relevan. Temuan-temuan itu merujuk pada fallacy of composition, yaitu asumsi bahwa pengeluaran besar selama turnamen otomatis menambah pendapatan nasional.

Logika di balik fallacy of composition sederhana namun berbahaya: apa yang tampak menguntungkan pada satu bagian—misalnya belanja terkait acara—tidak selalu menghasilkan peningkatan yang sama pada level keseluruhan ekonomi. Ketika proyeksi dibangun dari asumsi bahwa setiap pengeluaran akan bermuara menjadi pendapatan nasional, hasilnya bisa menyesatkan jika mekanisme ekonomi yang lebih luas tidak ikut diperhitungkan.

Karena itu, pertanyaan tentang “keajaiban ekonomi” Piala Dunia tidak cukup dijawab hanya dengan angka-angka optimistis di awal. Yang menentukan adalah bagaimana dampak yang diprediksi diuji setelah event selesai, dan apakah perencanaan ex ante benar-benar bersesuaian dengan kondisi ex post yang diukur.

Pada akhirnya, benturan antara klaim dan data pasca-event inilah yang membuat Piala Dunia jarang menghadirkan keajaiban ekonomi sebagaimana yang sering dijanjikan. Dari Jerman 2006 yang tidak menunjukkan peningkatan lapangan kerja secara keseluruhan, hingga Perancis 1998 yang tidak meninggalkan jejak pada pendapatan pariwisata dan penjualan ritel, hingga temuan Szymanski (2002) yang menempatkan pertumbuhan PDB tahun penyelenggaraan sekitar 2,4 persen lebih rendah, semuanya mengarah pada kesimpulan yang sama: proyeksi besar tidak selalu berubah menjadi manfaat ekonomi yang nyata.