Internasional

7 Fakta Kapal Penelitian Rusia Professor Molchanov yang Ditahan Norwegia di Svalbard

×

7 Fakta Kapal Penelitian Rusia Professor Molchanov yang Ditahan Norwegia di Svalbard

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 7 Fakta Kapal Professor Molchanov Milik Rusia yang Disita Norwegia

jurnalistik.co.id – Norwegia menyita kapal penelitian Rusia di Svalbard, langkah yang mendapat respons keras dari Presiden Vladimir Putin. Ia mengecam penyitaan kapal sipil itu sebagai tindakan “terorisme negara”.

Penyitaan tersebut dilakukan terhadap kapal bernama Professor Molchanov. Kapal itu ditahan ketika sedang bersandar di Barentsburg, sebuah permukiman yang dikelola Rusia di kepulauan Arktik Svalbard yang berada di bawah administrasi Norwegia.

Menurut pemberitaan, penahanan kapal dilakukan setelah pengadilan Norwegia mengabulkan permohonan dari perusahaan energi milik negara Ukraina, Naftogaz. Setelah putusan keluar, kapal dilarang berlayar pergi.

Moskow kemudian menyampaikan protes resmi. Rusia memanggil duta besar Norwegia untuk menyampaikan keberatan, sekaligus menegaskan akan menentang penyitaan tersebut.

1) Kapal datang dari Murmansk dan membawa kebutuhan ekspedisi

Professor Molchanov tiba di Barentsburg pada hari Selasa dalam pelayaran terjadwal dari Murmansk. Kapal tersebut membawa ilmuwan, penumpang, serta pasokan untuk operasional permukiman Rusia di wilayah kepulauan Arktik yang dikelola Norwegia.

Pejabat Norwegia sempat naik ke kapal untuk pemeriksaan perbatasan dan bea cukai rutin. Pemeriksaan itu dikatakan dilakukan dengan acuan jenis pemeriksaan yang sebelumnya juga berkali-kali dijalani kapal tersebut.

2) Perintah pengadilan dibacakan ke kapten, tidak ada yang ditangkap

Pada hari Rabu, polisi Norwegia kembali naik ke kapal dengan didampingi seorang penerjemah. Mereka membacakan perintah pengadilan kepada kapten kapal yang melarang kapal berangkat.

Perintah tersebut dikeluarkan pada 31 Agustus oleh Pengadilan Distrik Nord-Troms dan Senja, setelah adanya permohonan dari Naftogaz. Dalam proses penahanan ini, tidak ada seorang pun di atas kapal yang ditangkap.

3) Jumlah orang di kapal belum dikonfirmasi resmi

Hingga kini, jumlah pasti orang yang berada di dalam kapal saat tiba di Barentsburg belum dikonfirmasi secara resmi. Meski demikian, informasi kapasitas kapal menunjukkan Professor Molchanov dapat menampung hingga 80 orang.

Dalam kapasitas tersebut, kapal mencakup setidaknya 20 awak, serta hingga 60 ilmuwan dan personel ekspedisi lainnya. Data media Norwegia menyebut sekitar 50 penumpang dan awak kapal terdampak oleh penyitaan tersebut.

Dengan adanya larangan berlayar setelah putusan pengadilan, kapal tidak bisa melanjutkan rute sesuai rencana semula. Kondisi ini sekaligus membuat pihak yang berada di kapal menghadapi ketidakpastian operasional terkait jadwal dan keberangkatan dari Barentsburg.

Respons Moskow pun menegaskan bahwa langkah Norwegia dipandang sebagai eskalasi dalam situasi geopolitik yang tengah berlangsung. Sementara itu, Norwegia menjalankan penahanan dengan rujukan putusan pengadilan yang mengabulkan permohonan dari Naftogaz.

Konflik ini kian memperlihatkan bagaimana perkara hukum dapat berujung pada tindakan fisik terhadap aset sipil. Bagi Putin, penyitaan tersebut tidak berhenti pada sengketa administratif, melainkan dinilai sebagai tindakan “terorisme negara”.

Rangkaian langkah yang diambil otoritas Norwegia disebut dimulai dari pemeriksaan perbatasan dan bea cukai yang bersifat rutin, lalu berlanjut pada pembacaan perintah pengadilan kepada kapten kapal. Dalam pelaksanaan penahanan, polisi Norwegia juga didampingi penerjemah, dan situasi di atas kapal tetap berlangsung tanpa proses penangkapan.

Karena kapal tersebut membawa kebutuhan ekspedisi serta mendukung operasional permukiman Rusia di Barentsburg, larangan berlayar setelah putusan membuat rencana perjalanan tidak bisa diteruskan. Dampaknya tidak hanya pada jadwal keberangkatan kapal, tetapi juga pada kepastian kegiatan para ilmuwan dan personel ekspedisi yang menumpang atau berada dalam misi terkait.

Di sisi lain, respons Moskow menempatkan kasus ini sebagai bagian dari eskalasi yang lebih luas dalam ketegangan geopolitik. Putin mengecam penyitaan kapal sipil sebagai tindakan “terorisme negara”, sementara Norwegia menyatakan tindakan penahanan didasarkan pada keputusan pengadilan atas permohonan Naftogaz. Protes resmi Rusia kemudian disampaikan melalui pemanggilan duta besar Norwegia, disertai penegasan bahwa penyitaan itu akan ditentang.