jurnalistik.co.id – Kontroversi seputar buku Diana karya Earl Spencer kini tak hanya menjadi bahan debat, tetapi juga momentum promosi yang cepat merembet ke ruang publik. Bahkan sebelum terbit resmi, “Swan Song: Diana, My Sister” sudah melesat di tangga buku terlaris Amazon.
Dari cara liputan bergulir, tampak ada dua suara yang saling berhadapan: klaim-klaim Earl Spencer dalam bukunya dan penolakan yang cukup tegas dari pihak Istana Buckingham. Namun saat membaca lebih jauh, persoalannya tidak sesederhana soal siapa yang “benar” atau “salah”.
Buku ini diposisikan sebagai kesaksian dari seorang saudara kandung—Earl Spencer—yang memandang hidup Diana bukan dari kejauhan, melainkan dari dekat. Kisahnya bergerak dari masa ketika Diana masih menjadi teman masa kecil, hingga berubah menjadi figur global yang paling dikenal di dunia.
Di dalam narasinya, Earl Spencer menggambarkan adanya rasa kesedihan sekaligus kejengkelan ketika Diana makin lama makin “menjadi milik publik”, lalu kemudian “menjadi milik kerajaan”. Ia juga menyinggung rasa tidak suka terhadap “nonsense of fawning” yang, menurutnya, mengiringi cara monarki dipuja.
Kontras yang kuat ikut mengiringi cerita: Diana baru berusia 20 tahun ketika menikah, lalu meninggal 16 tahun kemudian. Dengan latar itulah, buku ini berusaha menampilkan Diana sebagai sosok yang bukan hanya dikenal luas, melainkan juga bergulat secara batin.
Diana digambarkan sebagai pribadi yang peduli dan murah hati, tetapi juga diteror oleh keraguan pada diri sendiri. Ia disebut terjerat gangguan makan, kurang mendapat kehangatan dari keluarga kerajaan barunya, dan pada akhirnya terseret oleh pemberitaan tabloid.
Charles Spencer—sebagaimana disebut dalam teks sumber—menuliskan bahwa “She craved acceptance, admiration, kindness, and – perhaps above all – love,” sebelum menambahkan, “She got stuck into gritty, controversial, but crucial causes partly because she had a fine, natural social conscience, but also to assuage nagging feelings of worthlessness.” Kutipan itu menekankan dorongan psikologis di balik sikap Diana terhadap isu-isu yang ia pilih.
Selain menguraikan emosi, buku ini juga menjanjikan rincian yang dianggap akan membuat pembaca penasaran. Salah satunya menyangkut sosok Raine Spencer, yang dalam buku digambarkan dengan nada kurang simpatik.
Di antara cerita yang disebut, Diana dikatakan pernah marah hingga mendorong Raine ke tangga di rumah mereka di Althorp. Earl Spencer menuliskan reaksi yang terjadi setelahnya: Raine “landed flush on her buttocks, rather than on bone”, kemudian bangkit dan pergi, “leaving the saloon without a backwards glance”.
Dalam versi yang diceritakan buku, tindakan itu muncul sebagai tanggapan terhadap pernyataan Raine kepada Diana: “I have always felt so very sorry for the Prince of Wales, marrying someone quite as stupid as you.”
Di sisi lain, buku ini disebut tidak menyinggung Meghan, Duchess of Sussex, meski tokoh tersebut kerap dibicarakan dalam wawancara televisi. Teks sumber juga menyebut adanya klaim bahwa seorang “nephew” menginginkan Earl Spencer tampil dalam dokumenter tentang Diana, sehingga memunculkan spekulasi terkait rencana Prince Harry untuk peringatan 30 tahun kelahiran/kenangan ibunya pada tahun depan.
Preferensi personal Diana ikut diceritakan dalam detail keseharian: ia disebut menyukai sinetron “Crossroads” dan musik David Bowie. Diana juga disebut menonton “The Sound of Music” sebanyak 16 kali, serta membaca koran “Daily Mail”.
Bagian lain yang menjadi sorotan adalah cara Earl Spencer menempatkan hubungan keluarga dengan media dan ritual publik. Dalam narasinya, ia mengingat momen yang ia sebut menentukan saat pemakaman Diana di Westminster Abbey.
Earl Spencer menggambarkan bagaimana ia sempat berpura-pura kehilangan naskah pidatonya saat latihan, agar tak ada pihak yang dapat lebih dulu “mengatur” agar kritiknya pada pers dan para bangsawan mereda. Ia juga menyebut bahwa setelah Diana diteror paparazi, ia menelepon editor surat kabar tabloid agar diundurkan dari pemakaman—padahal undangan disebut sudah lebih dulu dikirim.
Berita Terkait
Buku ini juga mengisahkan proses pemakaman Diana di pulau dalam area Althorp milik keluarga Spencer, bukan di pekuburan. Teks sumber menyebut adanya seorang uskup yang didatangkan untuk menguduskan tanah agar pemakaman dapat berlangsung.
Ketertarikan publik terhadap buku ini, menurut teks sumber, banyak dipicu oleh upaya “merapikan” persoalan lama dengan keluarga kerajaan. Cerita-cerita tentang King Charles hampir semuanya diberi nuansa negatif, termasuk dugaan bahwa ia cemburu atas popularitas Diana di ruang publik.
Di bagian yang melaporkan percakapan, disebutkan klaim bahwa Charles—ketika masih menjadi Prince of Wales—mengeluh: “I mean, I’m 43,’ he said, ‘and I employ fifty people’ – he was flushed in the face now – ‘but my parents insist on treating me like – like a child!’”
Selain itu, King digambarkan sebagai pihak yang menyimpan rasa tidak suka. Teks sumber menyebut laporan dari seorang “senior courtier” mengenai komentar almarhum Queen: “He even resented it when I taught him the alphabet.”
Buku ini juga memuat kisah yang terasa ganjil, termasuk kabar tentang diskusi internal keluarga kerajaan apakah telinga Prince Charles saat itu seharusnya “dibentuk” dengan cara tertentu. Teks sumber juga menyinggung tuduhan bahwa Diana pernah mengatakan Raja sedang jatuh cinta pada valet-nya, namun penulis sendiri menyatakan hal itu “seemed improbable”.
Di balik semua detail tersebut, yang ingin ditonjolkan adalah kedekatan keluarga Spencer dengan lingkungan kerajaan—meski, menurut cara buku ini menggambarkan, kedekatan itu tidak lantas berarti persahabatan.
Charles dan Diana Spencer disebut menghadiri pesta-pesta anak yang sama dengan para putra-putri muda dari keluarga kerajaan. Dalam metafora yang disebut di teks sumber, para bangsawan kecil digambarkan seperti anak yang datang, merusak mainan, lalu pergi—sebuah perumpamaan panjang untuk cara Earl Spencer melihat perjalanan kisah Diana.
Buku ini juga memuat cerita tentang remaja Prince Andrew yang disebut menyeringai saat ibadah gereja karena pendeta menggunakan kata “womb”. Dari cara peristiwa itu dituturkan, buku tidak hanya memotret Diana, tetapi juga menata ulang ingatan masa kecil keluarga tersebut.
Walau wawancara televisi mencoba membawa pandangan Earl Spencer terhadap Prince Harry dan Prince William, teks sumber menegaskan bahwa buku tidak membahas ke arah sana. Earl Spencer justru menyoroti penolakannya agar para putra harus berjalan di belakang peti saat pemakaman sang ibu.
Ia juga membicarakan gambaran Harry: “how tiny, and slight, and bereft, Harry looked.” Frasa itu menjadi penekanan pada kehilangan yang masih sangat berat di usia muda.
Secara keseluruhan, fokus buku lebih besar pada era Diana dan semacam elegi terhadap dunia masa kecil yang hilang. Earl Spencer menegaskan adanya kebahagiaan di rumah pedesaan keluarga, dengan ruang-ruang khusus, anjing, dan kuda, tetapi cerita itu juga diisi kekerasan dan tradisi sekolah berasrama yang disebut “mindless and often destructive”, termasuk praktik pengasuh yang keras.
Dalam bagian yang menonjol, disebut ada seorang anak laki-laki yang tanpa sengaja menembak dan membunuh ayahnya, lalu diberi julukan yang bernada kelam: “Baghdad”.
Walau berpusat pada Diana, buku ini juga dipahami sebagai upaya penulis sendiri untuk memahami apa yang terjadi, termasuk posisi seorang saudara yang bisa mengkritik namun belum tentu mampu memikul tanggung jawab yang sama. Earl Spencer juga digambarkan tidak terlalu peduli pada gelar-gelar “archaic” milik aristokrasi maupun monarki.
Pada akhirnya, judul yang disebut paling membentuk hidupnya adalah “Diana’s brother”. “Swan Song: Diana, My Sister”, karya Charles Spencer, diterbitkan oleh Penguin.











