Internasional

Xiplomacy: Jejak Dialog Antarperadaban

×

Xiplomacy: Jejak Dialog Antarperadaban

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kisah Xiplomacy, Perjalanan Dialog Antarperadaban

jurnalistik.co.id – Di situs arkeologi Maya kuno Chichen Itza, Meksiko, piramida batu dan kuil-kuil yang berdiri sejak abad ke-5 Masehi masih menyimpan jejak masa ketika pertukaran antarkebudayaan menjadi bagian dari ingatan sejarah.

Dalam kunjungan kenegaraan lebih dari satu dekade lalu, Presiden China Xi Jinping dan istrinya, Peng Liyuan, mendatangi tempat bersejarah itu di Semenanjung Yucatan, Meksiko.

Kunjungan yang berlangsung pada 6 Juni 2013 tersebut juga dihadiri Presiden Meksiko saat itu, Enrique Pena Nieto, bersama istrinya.

Dialog yang dibaca dari simbol-simbol peradaban

Saat berjalan di kompleks Chichen Itza, Xi menyimak penjelasan mengenai sejarah dan budaya Maya yang dipaparkan di lokasi.

Ia mengunjungi Piramida Kukulkan, Lapangan Bola Besar (Great Ball Court), serta Kuil Prajurit (Temple of the Warriors) sambil memperhatikan detail-detail yang tertulis pada reruntuhan.

Xi lalu menanyakan makna di balik pola-pola yang terpahat pada bangunan-bangunan tersebut.

Dalam pengamatannya, ia menunjukkan ketertarikan pada kemiripan antara sejumlah elemen budaya Maya dan tradisi China, termasuk citra yang berkaitan dengan naga.

Bagi Xi, pertemuan semacam itu menegaskan gagasan bahwa perbedaan sejarah dan tradisi tidak otomatis menghalangi proses saling memahami.

Yang terpenting, dialog dan sikap saling menghormati memungkinkan berbagai peradaban belajar satu sama lain dan saling memperkaya.

Keyakinan itu ia sampaikan melalui kalimat yang dikutip Xinhua pada Senin (10/8/2026): “Berbagai budaya dan peradaban yang berbeda, meski tetap mempertahankan keunikan masing-masing, harus saling bertoleransi dan hidup berdampingan dengan sikap terbuka agar dapat mencapai perkembangan dan kemakmuran bersama,” ujar Xi, dikutip dari Xinhua pada Senin (10/8/2026).

Selama bertahun-tahun, Xi juga konsisten mendorong pencarian kearifan, sekaligus mengambil kekuatan dari beragam peradaban yang berbeda.

Dalam kerangka yang sama, ia menekankan penyatuan kekuatan bersama pihak lain untuk menghadapi tantangan yang dihadapi umat manusia.

Pidato UNESCO dan gagasan tentang cakrawala yang lebih luas

Pada 2014, Xi menyampaikan pandangannya di Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization/UNESCO) di Paris.

Dalam pidato itu, ia mengutip Victor Hugo, sastrawan terkemuka asal Perancis, dengan ungkapan: “Ada cakrawala yang lebih luas daripada laut, yaitu langit; ada cakrawala yang lebih luas daripada langit, yaitu jiwa manusia,” kata Xi mengutip Victor Hugo, seorang sastrawan terkemuka asal Perancis, dalam pidatonya yang bersejarah di Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization/UNESCO) di Paris pada 2014.

Xi kemudian menambahkan: “Memang, kita membutuhkan pemikiran yang lebih luas daripada langit saat kita berinteraksi dengan peradaban yang berbeda.”

Artikel juga menyebut bahwa Xi menyampaikan pidato tersebut di kantor pusat UNESCO pada 27 Maret 2014.

Gagasan pertukaran antarkebudayaan itu, menurut pemaparan, tercermin dalam kunjungannya ke Chichen Itza maupun ceritanya ketika berada di Paris.

Di Paris, Xi menceritakan kisah-kisah tentang proses saling belajar antara peradaban Timur dan Barat.

Ia menyinggung empat penemuan besar China yang, menurutnya, membawa perubahan bagi dunia: “Empat Penemuan Besar China, yaitu pembuatan kertas, bubuk mesiu, pencetakan huruf lepas ( movable-type printing ), dan kompas, telah membawa perubahan bagi dunia, termasuk masa Renaisans di Eropa. Filsafat, sastra, pengobatan, sutra, porselen, dan teh China menyebar ke Barat dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat,” tuturnya.

Contoh-contoh tersebut menggambarkan bahwa pertukaran antarkebudayaan tidak bergerak satu arah, melainkan ditopang pembelajaran timbal balik yang mendorong kemajuan bersama.

Keyakinan Xi juga menekankan pentingnya sikap ketika seseorang ingin memahami peradaban lain.

Ia menyatakan: “Ini merupakan keyakinan yang saya rasakan secara mendalam bahwa sikap kesetaraan dan kerendahan hati diperlukan jika seseorang ingin benar-benar memahami berbagai peradaban,” tuturnya.

Xi juga mengingatkan konsekuensi dari sikap merendahkan.

“Bersikap merendahkan terhadap suatu peradaban tidak akan membantu siapa pun menghargai esensinya, tetapi justru dapat menimbulkan permusuhan. Baik sejarah maupun kenyataan menunjukkan bahwa kesombongan dan prasangka merupakan dua hambatan terbesar bagi pertukaran dan pembelajaran timbal balik antarperadaban,” tambahnya.

Pada akhirnya, rangkaian kunjungan dan pidato itu membentuk gambaran yang sama: dialog antarkebudayaan, ketertarikan pada makna, serta sikap terbuka—semuanya ditempatkan sebagai jalan untuk saling belajar tanpa menghapus keunikan masing-masing.