Bisnis & Ekonomi

IPO SpaceX Bawa Elon Musk Jadi Triliuner Pertama Dunia, Warga New York Protes

0
×

IPO SpaceX Bawa Elon Musk Jadi Triliuner Pertama Dunia, Warga New York Protes

Sebarkan artikel ini
Elon Musk Jadi Triliuner Pertama Dunia, Warga New York Malah Protes Money 14 Juni 2026
Ilustrasi: Elon Musk Jadi Triliuner Pertama Dunia, Warga New York Malah Protes

jurnalistik.co.id – Penawaran umum perdana saham (IPO) SpaceX di Wall Street menyulut euforia besar sekaligus mengubah posisi Elon Musk dalam daftar orang terkaya dunia. Lonjakan kekayaannya sejak 2025 menempatkannya pada level baru, bahkan disebut setara dengan ekonomi sebuah negara dan melampaui PDB Belgia.

Dalam perkembangan terbaru itu, IPO SpaceX mengantarkan Elon Musk menjadi orang pertama di dunia yang memiliki kekayaan lebih dari 1 triliun dollar AS. Namun, di tengah perayaan yang terjadi di pasar modal, sebagian warga di Kota New York justru turun ke jalan untuk memprotes fenomena yang mereka nilai mencerminkan ketimpangan ekonomi yang makin melebar.

Mengutip laporan Bloomberg, pada Minggu (14/6/2026) sekitar dua lusin demonstran berkumpul di depan kantor pusat JPMorgan Chase & Co. di Park Avenue. Tempat itu dipilih karena JPMorgan disebut sebagai salah satu penjamin emisi dalam IPO SpaceX.

Para demonstran menggelar aksi untuk mengecam meningkatnya kesenjangan pendapatan. Mereka juga menyoroti praktik yang dinilai menguntungkan kalangan elite, sekaligus menyebut adanya spekulasi berlebihan yang tengah mewarnai pasar keuangan.

“Kondisi ini membuka jalan bagi investor awal yang kaya untuk mencairkan keuntungan mereka, sementara para penabung dan investor kecil berisiko menanggung kerugian,” kata Natalia Renta, Associate Director of Corporate Governance and Power di kelompok advokasi Americans for Financial Reform, yang turut mengorganisasi aksi tersebut.

Walau jumlah peserta demonstrasi relatif kecil, aksi itu tetap menegaskan adanya jurang yang kian lebar dalam perekonomian AS. Di satu sisi, lonjakan harga saham telah menciptakan kekayaan dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di sisi lain, perubahan ekonomi yang sedang berlangsung tidak dirasakan merata oleh banyak kelompok.

Pada periode yang sama, perusahaan-perusahaan teknologi disebut menggelontorkan ratusan miliar dollar AS untuk mengembangkan kecerdasan buatan (AI). Investasi besar tersebut berjalan beriringan dengan kondisi domestik yang membuat banyak warga makin kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seiring inflasi dan biaya perumahan yang terus meningkat.

Kekhawatiran juga mengemuka terkait dampak perkembangan AI terhadap pekerjaan. Dalam teks laporan tersebut, disebut bahwa AI dinilai berpotensi menghilangkan banyak lapangan kerja, termasuk pekerjaan dengan pendapatan tinggi.

Sejumlah demonstran juga membawa ingatan pada gelombang kemarahan global yang pernah menyasar Elon Musk pada tahun lalu. Pada masa itu, ia disebut menjabat sebagai penasihat Presiden AS Donald Trump, sekaligus melakukan pemangkasan berbagai program pemerintah, termasuk bantuan luar negeri.

Selain menyasar dampak ekonomi dari lonjakan kekayaan, kritik protes juga diarahkan pada cara percepatan yang menyertai langkah menuju IPO SpaceX. Para demonstran menyoroti perubahan aturan dari Nasdaq Inc. yang dilakukan menjelang pelaksanaan IPO tersebut.

Perubahan aturan itu disebut memangkas waktu yang dibutuhkan perusahaan-perusahaan besar yang baru melantai di bursa untuk masuk ke indeks utama Nasdaq. Dengan skema tersebut, bila SpaceX nantinya termasuk dalam indeks utama, dana investasi pasif yang mengikuti pergerakan indeks akan diwajibkan membeli saham perusahaan itu.

Kondisi itu, sebagaimana dipaparkan dalam laporan, secara otomatis berpotensi menciptakan permintaan baru terhadap saham SpaceX. Dalam kerangka yang sama, sebagian investor juga disebut mungkin tidak tertarik untuk memiliki saham perusahaan tersebut, antara lain karena pandangan politik Musk yang cenderung konservatif.

Selain faktor politik, penilaian lain yang muncul adalah soal valuasi SpaceX yang dinilai terlalu tinggi dan bersifat spekulatif. Teks laporan menyebut SpaceX memiliki nilai pasar sekitar 2 triliun dollar AS, lebih dari 100 kali pendapatan tahunannya.

Dengan latar itu, protes di Park Avenue memperlihatkan benturan yang sama: euforia yang dibangun oleh pasar modal dan, pada saat bersamaan, keresahan warga yang menilai ketimpangan ekonomi semakin sulit dijembatani. Aksi tersebut juga memberi penekanan bahwa ketika kekayaan tumbuh cepat melalui mekanisme bursa, biaya sosial dan ekonomi yang muncul tidak selalu ditanggung secara setara.

Di tengah dinamika investasi, perubahan aturan bursa, serta tekanan biaya hidup, IPO SpaceX menjadi semacam penanda dua arus yang bergerak bersamaan. Satu arus mendorong percepatan nilai dan spekulasi di pasar. Arus lain, yang disuarakan demonstran di New York, menuntut perhatian lebih serius pada dampak ekonomi yang dinilai makin timpang.