jurnalistik.co.id – Iran kembali mengirim sinyal keras bahwa konflik dengan Amerika Serikat belum benar-benar mereda, meski negosiasi yang mengarah pada kesepakatan potensial masih terus bergulir. Di tengah pembicaraan itu, para pejabat di Teheran justru memperlihatkan bahwa opsi militer tetap mereka simpan bila diplomasi pada akhirnya gagal.
Situasi ini berlangsung saat konfrontasi di lapangan belum sepenuhnya surut. Mengutip CNN, AS melancarkan gelombang serangan keduanya ke Iran hanya dalam hitungan hari pada pekan ini, sementara kontak senjata masih berlangsung di Selat Hormuz. Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC menyatakan bahwa jika konflik baru pecah lagi, dampaknya akan menyebar jauh melampaui kawasan dan memicu serangan yang menghancurkan di tempat-tempat yang bahkan tidak dapat dibayangkan lawan.
Peringatan keras itu bukan datang tanpa latar. Perang sebelumnya telah menunjukkan kemampuan Iran menargetkan pangkalan militer AS, kota-kota Israel, hingga infrastruktur kritis di negara-negara Arab Teluk. Aksi tersebut bahkan sempat melumpuhkan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz dan mengguncang pasar energi global.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan bahwa setiap pembalasan di masa depan akan menghadirkan lebih banyak kejutan. Sementara itu, militer Iran mengancam akan membuka barisan pertahanan baru dengan alat-alat baru. Mohammad Bagher Ghalibaf, negosiator top Iran, juga mengatakan angkatan bersenjata mereka memanfaatkan masa gencatan senjata untuk membangun kembali kemampuan pertahanan pada tingkat tertinggi.
Blokade Baru
Para ahli menilai sebagian besar retorika tersebut ditujukan untuk mencegah serangan lanjutan dari lawan. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa Teheran tetap menyimpan opsi eskalasi yang signifikan jika diplomasi runtuh, salah satunya melalui strategi blokade maritim berskala besar.
Iran memahami bahwa mereka tidak dapat menang melawan AS dan Israel lewat jalur militer konvensional. Karena itu, efek jera yang dicari bukan semata kemenangan di medan tempur, melainkan kerugian ekonomi global melalui blokade Selat Hormuz, yang menjadi titik jalur maritim paling kritis.
Jika blokade itu berhasil memberi tekanan, Teheran diperkirakan dapat mengincar koridor maritim vital lainnya untuk dikunci. Dengan mengaktifkan kelompok proksi di wilayah tersebut, yakni Houthi di Yaman, Iran dapat mengatur penutupan Selat Bab al-Mandeb. Langkah itu akan memblokir urat nadi lain yang menghubungkan rute perdagangan utama antara Eropa, Asia, dan dunia Arab, sehingga tekanan ekonomi global bisa berlipat ganda.
Pada 2023, lebih dari 10% perdagangan minyak melalui laut di dunia melewati Selat Bab al-Mandeb. Setelah Houthi menciptakan ketidakamanan maritim di wilayah dekat Yaman pada 2024, jumlah tersebut menyusut hampir setengahnya untuk minyak dan turun hingga mendekati nol untuk gas alam cair atau LNG, menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA).
Seorang pakar strategi energi sekaligus peneliti senior di George Mason University, Umud Shokri, menilai penutupan dua selat itu secara bersamaan akan membawa dampak yang sangat serius. “Krisis yang terjadi secara simultan di Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz akan jauh lebih serius, berpotensi memengaruhi perdagangan Laut Merah dan aliran energi Teluk Persia, yang akan menaikkan harga minyak, tarif pengiriman, dan tekanan inflasi di seluruh dunia,” kata Shokri.
Dalam beberapa tahun terakhir, Houthi memang telah membuktikan kemampuan mereka mengganggu navigasi maritim di dekat Bab al-Mandeb melalui serangan, penyitaan, dan penenggelaman kapal yang melintas. Meski begitu, Shokri menilai blokade total seperti di Selat Hormuz akan jauh lebih sulit dilakukan di wilayah itu.
“Bab al-Mandeb tidak dikendalikan secara langsung oleh Iran, dan penutupan yang berkepanjangan kemungkinan akan memicu respons angkatan laut internasional yang kuat. Skenario yang lebih realistis bukanlah penutupan fisik secara penuh, melainkan krisis keamanan berkepanjangan yang membuat pengiriman komersial terlalu berisiko atau mahal,” ujarnya.
Sumur Minyak
Jika ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menargetkan kilang minyak, infrastruktur, dan pembangkit listrik Iran benar-benar dijalankan, Teheran diperkirakan akan memperluas cakupan perang ke seluruh dunia Arab. Iran disebut bakal menyerang situs-situs sensitif untuk menebar kepanikan ekonomi global sekaligus merusak reputasi negara-negara tetangga sebagai pusat bisnis internasional yang aman dan penjamin aliran energi dunia yang andal.
Ahmad Bakhshayesh Ardestani, anggota komite keamanan nasional Iran, menegaskan bahwa jika AS menargetkan fasilitas minyak Iran, Teheran akan membalas dengan menyerang sumur-sumur minyak negara Arab Teluk. Ia menyebut langkah itu sebagai eskalasi yang jauh lebih mengerikan dibanding perang 40 hari lalu, ketika Iran hanya menargetkan jaringan pipa atau kilang minyak.
“Jika mereka berniat melakukan sesuatu sehingga kami tidak memiliki minyak, kami tidak akan menyerang pipa mereka, kami akan menyerang sumur-sumur minyaknya sehingga mereka juga tidak memiliki minyak dan bahan bakar menjadi mahal bagi dunia,” kata Ardestani.
Infrastruktur Kritis
Meski gencatan senjata resmi berlaku pada 8 April lalu, kelompok proksi Iran di Irak tetap dituduh Uni Emirat Arab atas serangan yang mengarah ke pembangkit listrik tenaga nuklir di Abu Dhabi. Di sisi lain, wilayah Arab Saudi juga masih menjadi sasaran pesawat nirawak yang datang dari arah Irak.
Selama perang berlangsung, Iran tercatat menembakkan rudal ke sasaran sipil, termasuk hotel dan bandara. Namun, mereka sangat jarang meluncurkan proyektil ke fasilitas desalinasi kritis yang memasok air bersih bagi jutaan orang di kawasan itu. Iran juga sempat mengeluarkan peringatan evakuasi terhadap fasilitas pendidikan AS di wilayah tersebut, tetapi tidak ada laporan yang menunjukkan mereka menargetkan sekolah maupun universitas.
Nicole Grajewski, asisten profesor di Pusat Studi Internasional di Sciences Po Paris, justru menilai ancaman kejutan dari Iran tidak sebesar yang dibayangkan banyak pihak. Menurut dia, jenis persenjataan Iran sudah sangat dikenal dunia.
“Mereka tentu memiliki jangkauan melebihi 2.000 kilometer (sekitar 1.200 mil), tetapi itu bukan senjata baru,” kata Grajewski.
Target Eropa
Pada awal bulan ini, halaman Telegram yang berafiliasi dengan IRGC mengunggah gambar satelit yang diklaim menunjukkan pesawat militer AS tengah terparkir di Bandara Chania di Pulau Kreta, Yunani. CNN tidak dapat memverifikasi keaslian gambar tersebut, tetapi ancaman Garda Revolusi untuk memperluas target ke luar kawasan bila Iran diserang lagi meningkatkan prospek pembalasan yang lebih luas.
Selama 40 hari perang sengit melawan AS dan Israel, Iran telah memamerkan kemampuannya mengirim rudal balistik ke wilayah yang sebelumnya dianggap tak tersentuh. Pada Maret, Iran diyakini meluncurkan dua rudal balistik jarak menengah ke Diego Garcia, pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Samudra India yang berjarak 2.000 mil dari Iran. Itu tampak sebagai upaya pertama untuk menargetkan basis militer tersebut.
Farzin Nadimi, peneliti senior di The Washington Institute, menilai jika Teheran yang sedang di atas angin memutuskan menguji rudal jarak jauhnya ke Eropa dalam serangan mendadak, beberapa pangkalan udara penting milik AS bisa menjadi target utama. Di antaranya RAF Fairford dan RAF Lakenheath di Inggris, serta pusat logistik dan telekomunikasi Ramstein di Jerman.
“Namun, Iran kemungkinan akan menyimpan kemungkinan itu untuk tingkat eskalasi yang paling tinggi,” kata Nadimi.
Selama perang berlangsung, Iran juga diyakini mencoba menargetkan fasilitas militer Inggris yang terletak sejauh Siprus. Menanggapi jangkauan rudal pertahanan Teheran itu, Grajewski menilai kawasan Mediterania tak bisa lagi dianggap aman dari ancaman militer Iran.
“Saya tidak berpikir Mediterania sepenuhnya berada di luar cakupan kemampuan mereka. Masalahnya di sini adalah akurasi,” ujarnya.
Drone, Rudal Jelajah Supersonik, dan Pengacauan Satelit
Untuk meningkatkan peluang menembus pertahanan musuh dan mengenai sasaran secara tepat, Nadimi memproyeksikan Iran akan meluncurkan kawanan drone berbasis kecerdasan buatan yang jauh lebih canggih dan terkoordinasi. Drone itu disebut dilengkapi kamera khusus yang dapat berkomunikasi satu sama lain, sekaligus menyesuaikan jalur penerbangan dan kecepatan untuk menghindari sistem pengacau sinyal dan pertahanan udara lawan.
“Mereka belum mendemonstrasikan kemampuan ini, tetapi mereka telah membahas pengembangan teknologi ini di masa lalu,” kata Nadimi.
Selain teknologi pesawat nirawak, Teheran juga diprediksi terus berupaya meningkatkan kemampuan rudal jelajahnya. Caranya adalah memodifikasi sistem yang ada saat ini agar mampu mencapai kecepatan supersonik untuk menghindari pencegatan peluru kendali musuh, sambil mencoba mengacaukan sistem komunikasi militer dan satelit pengawas pihak lawan.












