jurnalistik.co.id – TEHERAN — Iran menegaskan tidak akan bergeming dari garis merahnya meski retorika dan tekanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus menguat. Sikap itu disampaikan anggota parlemen senior Iran pada Rabu malam (27/5/2026), di tengah memanasnya kembali perdebatan soal uranium yang diperkaya dan masa depan negosiasi antara Teheran dan Washington.
Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, Ibrahim Azizi, mengatakan garis merah Iran mencakup sejumlah hal yang tidak bisa dinegosiasikan. Di antaranya hak untuk memperkaya uranium, kepemilikan uranium yang diperkaya, otoritas atas Selat Hormuz, serta pencabutan sanksi.
Dalam unggahannya di platform X, Azizi menegaskan bahwa retorika Trump tidak akan membuat Iran mundur dari posisi tersebut. Ia juga menyebut Trump sebagai pihak yang sedang mencari jalan keluar dari kebuntuan strategis ini, sambil bergantian melontarkan ancaman dan mengupayakan kesepakatan.
“Trump yang mencari jalan keluar dari kebuntuan strategis ini,” tulis Azizi dalam inti pesannya, seraya menggambarkan pola Trump yang menurutnya terus berganti antara tekanan dan ajakan berunding. Bagi Iran, kata dia, sikap itu tidak akan mengubah garis merah yang sudah ditetapkan.
Pernyataan Azizi muncul setelah Trump menyampaikan klaim baru soal persediaan uranium yang diperkaya milik Iran. Dalam unggahan di Truth Social pada Senin (25/5/2026), Trump mengatakan uranium itu akan segera dipindahkan ke Amerika Serikat untuk dihancurkan. Ia menyebut penghancuran itu bisa dilakukan di AS, di tempat, atau di lokasi lain yang dianggap dapat diterima.
“Uranium yang diperkaya (Debu Nuklir!) akan segera diserahkan kepada Amerika Serikat untuk dibawa pulang dan dihancurkan,” kata Trump. Ia kemudian menambahkan, “Atau, lebih disukai, bekerja sama dan berkoordinasi dengan Republik Islam Iran, dihancurkan di tempat atau di lokasi lain yang dapat diterima, dengan Komisi Energi Atom, atau yang setara dengannya, menjadi saksi proses dan peristiwa ini.”
Pesan Trump itu muncul di tengah pembicaraan yang sedang berlangsung untuk menyelesaikan kesepakatan guna mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran. Namun, menurut laporan CBS News, perundingan itu masih menghadapi kendala meski disebut semakin mendekati penyelesaian.
Masih menurut CBS News, seorang pejabat senior pemerintahan Trump pada Senin mengatakan bahwa Iran pada prinsipnya telah setuju untuk membuang uranium yang diperkaya tinggi dalam negosiasi dengan AS. Meski begitu, para pejabat masih mengkaji rincian mekanisme pembuangan uranium yang dimaksud.
Dari sisi Teheran, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei, yang juga menjadi juru bicara tim negosiasi Iran, menegaskan bahwa program nuklir Iran tidak masuk dalam pembahasan. Ia menyebut rancangan kesepakatan dengan AS untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz tidak akan melibatkan konsesi langsung apa pun terkait program nuklir Iran.
Baqaei mengatakan Iran hampir mencapai kesepakatan dengan AS mengenai nota kesepahaman yang akan mencakup periode gencatan senjata selama 60 hari. Dalam masa itu, Selat Hormuz akan dibuka kembali seiring masing-masing pihak menghentikan pembatasan pengiriman mereka, sementara pembahasan mengenai isu nuklir akan dilakukan dalam periode tersebut.
“Tentu saja, salah satu topik yang akan dibahas selama periode 60 hari ini adalah isu-isu terkait nuklir,” ujar Baqaei. Ia juga menegaskan, “Memorandum 14 poin ini berfokus pada pengakhiran perang.” Dalam pernyataan lanjutannya, ia menyebut, “Jika ini terjadi, maka dalam jangka waktu 60 hari, diskusi tentang isu-isu terkait nuklir akan berlangsung.”












