Hukum & Kriminal

Istri Ceritakan Detik-detik ASN Lampung Tewas Ditembak di Depan Anak

1
×

Istri Ceritakan Detik-detik ASN Lampung Tewas Ditembak di Depan Anak

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Istri Ungkap Detik-detik ASN Lampung Tewas Ditembak di Depan Anak

jurnalistik.co.id – Vita Lestari masih mengingat jelas detik-detik saat suaminya, Dedi Kristian Agung (40), tewas ditembak di lokasi jualan ayam geprek di Kelurahan Ganjar Asri, Kecamatan Metro Barat, Kota Metro, Lampung. Peristiwa itu terjadi di depan mata Vita dan dua anak mereka yang masih kecil, membuat suasana yang semula biasa berubah menjadi mencekam dalam hitungan saat.

Dedi diketahui merupakan aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah. Di luar pekerjaannya sebagai ASN, ia juga menjalankan usaha sampingan berjualan ayam geprek di lokasi tersebut. Saat kejadian, Dedi sedang menemani Vita berjualan, sementara dua anak mereka berada di sekitar tempat itu.

Vita mengatakan, peristiwa bermula ketika pelaku datang menghampiri Dedi yang saat itu sedang duduk. Menurutnya, suaminya sempat mengira kedatangan pelaku hanya untuk berbincang biasa. “Awalnya suami saya mengira hanya mengobrol biasa. Mungkin dia juga sungkan karena di depan bos pemilik tempat cucian itu. Tapi saya tidak tahu kenapa pelaku kemudian emosi,” ujar Vita dengan suara bergetar saat diwawancarai, Minggu (24/5/2026).

Tak lama setelah itu, suasana berubah tegang. Cekcok antara korban dan pelaku berujung pada perkelahian di lokasi kejadian. Dalam benturan itu, pelaku sempat melayangkan pukulan, tetapi tidak mengenai korban. Dedi kemudian membalas pukulan tersebut.

Pelaku Tiba-tiba Mengeluarkan Pistol

Situasi yang semula hanya adu mulut mendadak berubah menjadi lebih mencekam ketika pelaku berbalik badan. Vita menyebut, saat itu pelaku mengambil senjata api dari tas selempang kecil yang dibawanya. Setelah itu, senjata tersebut langsung diarahkan ke arah suaminya.

“Pas balik badan, tahu-tahu dia langsung menghadap suami saya dan nembak begitu saja. Pistolnya dikeluarkan dari tas selempang kecil. Setelah itu suami saya langsung tersungkur,” kata Vita.

Dedi pun jatuh di hadapan istri dan anak-anaknya. Peristiwa itu terjadi begitu cepat, sehingga suasana di sekitar lokasi langsung panik. Vita yang menyaksikan langsung kejadian tersebut tidak menyangka pertemuan singkat itu berakhir dengan penembakan yang merenggut nyawa suaminya.

Vita menduga konflik antara Dedi dan pelaku dipicu persoalan utang piutang. Ia juga menyebut, pelaku sebelumnya kerap melontarkan ancaman setiap kali bertemu dengan korban. Dugaan itu memperkuat kesan bahwa ketegangan di antara keduanya sudah berlangsung sebelumnya, meski pada saat kejadian awalnya tampak seperti pertemuan biasa.

Di tengah duka yang masih menyelimuti keluarga, kesaksian Vita menjadi gambaran paling dekat tentang detik-detik terakhir Dedi sebelum tewas ditembak. Kehilangan itu terjadi di tempat yang sehari-hari menjadi ruang mereka mencari nafkah, dan disaksikan langsung oleh orang-orang terdekat yang berada di lokasi saat peristiwa berlangsung.

Kisah yang disampaikan Vita memperlihatkan betapa cepat sebuah pertemuan yang tampak biasa dapat berubah menjadi tragedi. Dalam hitungan detik, ruang usaha yang seharusnya menjadi tempat mencari penghidupan justru berubah menjadi lokasi yang meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga kecil itu.

Bagi Vita, momen tersebut bukan hanya soal kehilangan suami, tetapi juga pengalaman menyaksikan langsung kekerasan di depan mata anak-anaknya. Situasi yang semula berlangsung di sekitar aktivitas berjualan mendadak dipenuhi kepanikan, membuat ingatan atas peristiwa itu sulit dihapus dari benaknya.

Di sisi lain, dugaan adanya persoalan utang piutang dan ancaman yang sebelumnya kerap terdengar memberi gambaran bahwa ketegangan di antara keduanya tidak muncul tiba-tiba. Meski demikian, dari kesaksian Vita, kejadian itu tetap datang mengejutkan karena awalnya tidak menunjukkan tanda-tanda akan berujung pada penembakan.