jurnalistik.co.id – Bekasi kembali menyoroti persoalan infrastruktur jalan setelah dua pengendara sepeda motor meninggal dunia di ruas Jalan MT Haryono. Warga di sekitar lokasi menilai kerusakan yang berlangsung lama sudah masuk tahap yang membahayakan keselamatan.
Kejadian itu terjadi pada Kamis, 23 Juli 2026 dini hari. Kecelakaan tersebut, menurut warga, berulang kali dipicu kondisi jalan yang berlubang dan bergelombang di area Desa Ciledug, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Juru parkir di sekitar Jalan MT Haryono, Sandi (55), mengatakan kerusakan jalan sudah berlangsung hampir setahun lebih. Ia menyebut titik yang paling parah berada di depan Saung Ujang Cianjur.
“Sudah hampir setahun lebih jalannya rusak. Yang paling parah ini di depan Saung Ujang Cianjur. Baru kemarin ada yang kecelakaan dan tewas di lokasi,” kata Sandi saat ditemui di lokasi pada Jumat, 24 Juli 2026.
Sandi menuturkan, kecelakaan di ruas itu bukan kejadian pertama. Ia pernah menyaksikan insiden lain yang berawal dari kondisi jalan serupa.
“Beberapa waktu lalu ada mobil yang sampai terguling. Untungnya pengemudi selamat dan enggak sampai luka parah,” katanya.
Selain memicu kecelakaan, kerusakan jalan juga berdampak pada kelancaran lalu lintas. Warga menyebut kendaraan bermuatan berat kerap mengalami gangguan hingga mogok di tengah perjalanan.
“Kalau ada kendaraan mogok, pasti jadi macet. Tapi kalau itu masih bisa diatasi. Yang paling takut itu kalau sampai ada pengendara yang celaka,” ucap Sandi.
Menurut warga, ketika ada kendaraan mogok, arus kendaraan lain tidak lagi mengalir normal. Akibatnya, pengendara harus bergantian melewati ruas yang sama sehingga kemacetan mudah terbentuk.
Di lapangan, permukaan Jalan MT Haryono terlihat terkelupas, dipenuhi kerikil, dan mengalami genangan yang memperparah lubang-lubang di badan jalan. Kerusakan tersebut membuat kendaraan harus menurunkan laju agar tetap bisa melintas dengan aman.
Berita Terkait
Sandi menjelaskan, kondisi jalan semakin buruk karena genangan air saat musim hujan serta tingginya intensitas kendaraan bertonase besar yang melintasi jalur penghubung Cikarang, Cileungsi, dan Kota Bekasi. Beban lalu lintas, katanya, mempercepat kerusakan yang sudah terlanjur rapuh.
Warga berharap pemerintah segera melakukan perbaikan agar tidak ada korban baru. Mereka menilai penanganan seharusnya tidak menunggu insiden terulang, mengingat kerusakan sudah terlihat jelas dan tersebar di beberapa titik.
Senada dengan Sandi, pekerja warung makan di sekitar lokasi, Ika Mustika Wati (66), mengaku selalu merasa waswas saat melintasi jalan tersebut. Ia menilai ukuran lubang cukup besar dan sulit diantisipasi pengendara.
“Kondisi jalannya udah sangat mengkhawatirkan. Lubang-lubangnya juga cukup besar. Saya sendiri setiap hari merasa waswas saat melintas di sini,” kata Ika.
Ika menambahkan, pengendara yang baru pertama kali melintas menjadi kelompok yang paling rentan. Kurangnya pengetahuan mengenai lokasi lubang membuat mereka berpotensi terlambat mengambil langkah ketika kondisi jalan tiba-tiba berubah.
Ia juga menilai risiko meningkat saat hujan turun. Genangan dapat menutup lubang sehingga permukaan tampak lebih rata, padahal bagian jalan yang berlubang tetap menjadi ancaman bagi keselamatan kendaraan.
Menurut warga, rangkaian masalah ini pada akhirnya bermuara pada tuntutan yang sama: perbaikan Jalan MT Haryono harus segera dilakukan secara menyeluruh. Mereka ingin penanganan tidak hanya bersifat sementara, melainkan memulihkan kondisi jalan agar pengguna transportasi dapat melintas tanpa rasa takut dan tanpa mengorbankan nyawa.
Kerusakan yang dikeluhkan warga juga dinilai tidak hanya muncul di satu titik. Sejumlah bagian jalan tampak sama-sama mengalami kerusakan berupa lubang dan permukaan yang bergelombang, sehingga pengendara perlu ekstra perhatian saat melintasi ruas tersebut.
Dalam pandangan warga, situasi akan terasa lebih berisiko terutama ketika kondisi jalan terkena genangan saat hujan. Air yang menggenang disebut bisa menutupi lubang sehingga perubahan permukaan tidak mudah terbaca dari jarak jauh.
Karena itu, warga berharap perbaikan dilakukan secara tuntas dan tidak berhenti pada penanganan sementara. Mereka ingin kondisi jalan kembali memungkinkan kendaraan melintas dengan lebih aman serta mengurangi kemungkinan kecelakaan serupa terulang di waktu berikutnya.












